PENGERTIAN THEMATIC APPERCEPTION TEST (TAT) – Merupakan tes proyektif yang juga terkenal, Dalam tes ini ditunjukkan serangkaian gambar hitam putih satu per satu kepada seseorang dan orang tersebut diminta menceritakan suatu kisah untuk setiap gambar. Sebagai contoh, seorang pasien yang melihat gambar seorang gadis praremaja yang sedang menatap beberapa manekin di balik j endela toko yang didandani dengan baju modis dapat menceritakan suatu kisah yang menunjukkan kemarahannya pada orang tua si gadis. Ahli klinis dapat, melalui hipotesis proyektif, menyimpulkan bahwa pasien memendam kemarahan kepada orang tuanya.

Seperti mungkin Anda duga, teknik-teknik proyektif diambil dari paradigma psikoanalisis. Penggunaan tes-tes proyektif mengasumsikan bahwa responden tidak mampu atau tidak bersedia mengekspresikan perasaan yang sesungguhnya bila ditanya secara langsung. Para ahli klinis yang berorientasi psikoanalisis sering kali memilih tes-tes semacam ini, suatu kecenderungan yang konsisten dengan asumsi psikoanalisis bahwa orang-orang mempertahankan diri dari pikiran dan perasaan yang tidak menyenangkan dengan menekannya ke dalam ketidaksadaran. Dengan demikian, untuk menghindari mekanisme pertahanan yang berupa represi dan menemukan penyebab mendasar dari penderitaan, hal terbaik adalah membuat tujuan sesungguhnya dari suatu tes tetap tidak jelas. Memang harus demikian, karena teori psikoanalisis menyatakan bahwa faktor-faktor yang sangat penting disimpan dalam ketidaksadaran.

Penggunaan hipotesis proyektif tidak terbatas pada tes-tes formal. Kolega kami yang berorientasi psikoanalisis menggunakannya untuk menyusun hipo tesis me-ngenai seorang klien dalam pertemuan pertama. Dia bertemu dengan para klien di dalam ruangan yang berisi berbagai jenis tempat duduk dalam jumlah besar. Ketika dia membawa seseorang ke dalam ruangan tersebut untuk pertama kalinya, dia tidak mengatakan kepada klien di mana harus duduk. Si terapis yakin bahwa dia dapat memperoleh sesuatu yang berguna tentang klien barunya dari pilihan tempat duduknya. Karena pendekatan kami kurang psikoanalisis, kami langsung menolak taktik ini—hingga suatu hari salah satu di antara kami memperoleh klien baru yang ketika memasuki ruangan, sebelum ditunjukkan di mana harus duduk, melangkah dengan pasti menuju tempat cluduk penulis! Sebagaimana akhirnya terungkap, orang terse but sangat enggan menjalani terapi dan terus-menerus berupaya mendominasi dan mengendalikan sesi-sesi awal.

Pembahasan kita tentang tes proyektif telah memfokuskan pada bagaimana tes-tes tersebut dikonseptualisasi dan diguna kan secara original—sebagai stimulus bagi fantasi yang diasum sikan dapat menghindari berbagai pertahanan ego. Respons-respons, pasien dipandang sebagai simbol dinamika internal; sebagai contoh, seorang pria mungkin dinilai memiliki kecenderungan homoseksual karena menganggap gambar-gambar cipratan tinta dalam tes Rorschach sebagai gambar pantat (Chapman & Chapman, 1969). Walaupun demikian, berbagai penggunaan lain tes Rorschach, 1 ebih berkonsentrasi pada bentuk respons-respons seseorang (Exner, 1978). Tes tersebut lebih dianggap sebagai tugas per septual-kognitif, dan respons-respons seseorang dipandang sebagai suatu sampel dari bagaimana dia mengorganisasi berbagai situasi kehidupan nyata secara perseptual dan kognitif (Exner, 1986). Sebagai contoh, Erdberg dan Exner (1984) menyimpulkan dari literatur riset bahwa para responden yang mengekspresikan sangat banyak gerakan manusia dalam jawab an mereka terhadap tes Rorschach (a.1., “Seorang pria yang sedang berlari untuk mengejar pesawat.”) cenderung menggunakan berbagai sumber daya dalam diri untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, sedangkan mereka yang menjawab tes Rors_chfrch dengan menyebutkan warna (“tanda merah adalah ginjal.”) lebih mungkin mencari interaksi dengan lingkungan. Rorschach menyarankan pendekatan ini dalam manual originalnya, Psy chodiagnostics: A Diagnostic Test Based on Perception (1921), namun meninggal delapan bulan setelah menerbitkan sepuluh gambar cipratan tintanya dan para pengikutnya menciptakan berbagai metode lain untuk menginterpretasi tes tersebut.

Sistem skor Exner untuk tes Rorschach menghasilkan skor atau indeks yang kemudian dapat divalidasi dengan mengaitkan skor-skor tersebut dengan apa yang diprediksikan oleh skor-skor tersebut, sebagai contoh, indeks skizofrenia untuk skizofrenia atau indeks depresi untuk depresi. Sistem tersebut juga memiliki norma-norma, walaupun sampel yang menjadi basisnya tidak besar dan tidak mewakili kaum minoritas dengan baik. Walaupun hanyak, mungkin sebagian besar, para praktisi klinis masih ber gantung pada hipotesis proyektif dalam menganalisis respons respons Rorschach, hasil kerja Exner telah menarik perhatian besar para peneliti akademik. Mengenai reliabilitas dan validitas nya, hasil kerja tersebut menarik banyak pendukung yang antusias, namun sekaligus juga kritikan tajam (a.1., Garb, Florio, & Grove, 1998; Hunsley & Bailey, 1999; Wood dkk., 2000). Mungkin mencoba membua t per nyataan terselubung tentang validitas sistem Exner untuk menskor Rorschach bukan merupakan pendekatan yang tepat. Sistem tersebut dalam beberapa kasus bisa saja memiliki validitas lebih besar dibanding dalam beberapa kasus lainnya. Sebagai contoh, sistem ini tampaknya memiliki validitas yang signifikan dalam mengidenti fikasi orang-orang yang menderita skizofrenia dan orang-orang yang berisiko menderita skizofrenia (Viglione, 1999). Manfaat Rorschach dalam hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa respons-respons seseorang terhadap tes tersebut sangat berkaitan dengan berbagai gangguan komunikasi yang merupakan simtom penting skizofrenia. Namun demikian, dalam hal ini tidak jelas apakah tes Rorschach dapat memberikan informasi yang tidak dapat diperoleh secara lebih mudah—contohnya, melalui wawancara.

Filed under : Bikers Pintar,