Advertisement

violence (tindak kekerasan)

Entah itu dalam hal fisik atau psikologi, penderitaan yang dirasakan para korban tindak kekerasan beragam, sesuai dengan dampak jangka panjangnya terhadap kehidupan sehari-hari. Pengalaman terkena tindak kekerasan, atau ancamannya, pada masa sekarang bisa memberi dampak besar, yaitu mengubah rutinitas dan gaya hidup individu atau mungkin menimbulkan sedikit pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Kajian-kajian terhadap kelainan stres pasca traumatik, misalnya, sering mengeksplorasi dampak tindak kekerasan terhadap kehidupan individu.

Advertisement

Tindak kekerasan mengakibatkan perusakan terhadap emosi, psikologi, fisik dan/atau material. Tindak kekerasan melibatkan penggunaan kekuatan atau perlawanan yang dilakukan oleh individu-individu, atas nama mereka sendiri atau tujuan kolektif atau sanksi yang diberlakukan negara. Penelitian terhadap tindak kekerasan meliputi definisinya, dampak psikologiknya, asal-usulnya, ekspresi-ekspresi kolektifnya, makna-makna kulturalnya dan relevansinya dengan hukum.

Definisi tentang tindak kekerasan sangat beragam. Biasanya kita mengaitkan tindak kekerasan dan penggunaannya dengan tindakan bermotivasi individual, meskipun banyak tindak kekerasan dilakukan oleh individu atas nama orang lain. Tindak kekerasan yang dilakukan lembaga, misalnya penjara, atau badan-badan negara pemberi sanksi, misalnya penggunaan tindak mematikan oleh polisi, adalah contoh-contoh penggunaan tindak kekerasan oleh negara untuk menghadapi perlawanan para warga negaranya. Hanya ada sangat sedikit definisi yang memasukkan penyebab berupa kelalaian atau kecerobohan, atau kematian akibat lalai di tempat sebagai tindak kekerasan, meskipun tindakan-tindakan ini bisa melibatkan ketidakpedulian secara sengaja terhadap keselamatan orang lain. Tindak kekerasan dalam perang atau aksi kerusuhan sosial mempunyai dampak yang sangat besar terhadap kondisi psikologi dan fisik banyak orang.

Negara berkembang dan negara maju sering menyebut rendahnya kejadian kekerasan sebagai barometer demokrasi dan kebebasan. Namun negara-negara, seperti Bosnia, yang sebelumnya dikenal sebagai negara damai, ternyata bisa juga memicu tindakan brutal dan kekerasan. Nasionalisme, intoleransi kultural dan fundamentalisme tetap bisa menyulut konflik-konflik politik dan tindak kekerasan. Pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa muncul seputar tindak kekerasan: dalam kondisi-kondisi apakah tindak kekerasan berfungsi sebagai alat kontrol atau alat pertahanan bagi seperangkat keyakinan tertentu?

Tindak kekerasan kriminal, dan rasa takut yang ditimbulkannya, memiliki tempat tertentu dalam berbagai diskursus tentang kesopanan (civility), terutama, di negara-negara yang cenderung dianggap damai. Tindak kekerasan di tempat-tempat seperti itu dianggap sebagai tindakan orang jahat atau orang yang anti-sosial. Pada saat yang sama, batas jurisdiksi semacam itu berkarakteristik aman meskipun penelitian menunjukkan adanya banyak tindak kekerasan dalam pengertian tindakan ancaman dan penganiayaan oleh individu yang terjadi dalam masyarakat yang dikenal damai. Penganiayaan fisik terhadap gadis-gadis dan wanita-wanita, misalnya, biasa terjadi di banyak masyarakat.

Di negara-negara “maju”, masyarakat biasa-nya menanggulangi tindak kekerasan dengan kemampuannya sendiri. Akibatnya, kebanyakan tindak kekerasan mengalami dekriminalisasi, entah itu karena para korban tidak melaporkannya kepada pihak berwajib misalnya polisi sejak awal. atau karena mereka menolak bekerja sama dengan sistem peradilan bila mereka atau orang lain melaporkannya. Konteks tempat terjadinya tindak kekerasan itu mempengaruhi cara individu menafsirkan dan menanggapi tindak kekerasan. Beberapa survai terhadap kejahatan secara konsisten menunjukkan bahwa berbagai insiden tindak kekerasan jauh lebih jarang dilaporkan dibandingkan bentuk kejahatan lainnya. Data yang lebih akurat tentang insiden tindak kekerasan bisa ditemukan dalam berbagai survai kejahatan, bukan dalam statistik kepolisian, yang menunjukkanbah wa kejahatan tindak kekerasan diperkirakan sebesar 6 persen dari semua kejahatan serius yang dilaporkan.

Perbedaan-perbedaan spesifik gender pada karakteristik dan tingkat tindak kekerasan dan korban sangat penting untuk memahami tindak kekerasan. Secara umum, bisa dikatakan bahwa laki-laki adalah pelaku sekaligus korban utama tindak kekerasan, dan berkemungkinan sama besarnya antara dianiaya atau dibunuh oleh orang yang dikenalnya dan orang yang tak dikenalnya. Para wanita mengalami tindak kekerasan fisik paling sering di dalam dan di sekitar rumah mereka sendiri, dan para pelakunya bisanya adalah pasangan, mantan pasangan dan kenalan lain. Namun, baik pria maupun wanita menyatakan bahwa mereka sangat takut akan tindak kekerasan oleh orang yang tak dikenalnya. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa ketakutan pada kekerasan lebih membatasi kehidupan wanita dibandingkan pria, dan bahwa wanita melaporkan tingkat ketakutan kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan ketakutan pria, kendati statistik resmi menunjukkan bahwa pria lebih sering mengalami tindak kekerasan.

Dalam hukum dan budaya populer, fokus untuk menjelaskan tindak kekerasan biasanya tertuju pada perilaku spesifik dari para pelaku kriminalitas. Perdebatan terus berlanjut mengenai bagaimana mempertimbangkan tindak kekerasan individu. Penjelasan biologis menyatakan bahwa tindak kekerasan berakar pada ketidakseimbangan hormonal, intelijensi yang rendah, atau luka pada otak. Psikologi menempuh cara lain dalam menafsirkan berbagai tindak kekerasan. Perasaan rendah diri, perasaan serba-lemah dan depresi ditemukan di antara berbagai penjelasan yang diberikan untuk orang-orang yang terlibat tindak kekerasan. Psikologi evolusioner juga memberikan suatu kerangka penjelasan mengenai tindak kekerasan, seperti analisis tentang pembunuhan oleh Daly dan Wilson (1988). Para peneliti ini menyatakan bahwa kompetisi, status dan pengendalian reproduktivitas telah melengkapi bakat bawaan pria yang di dalamnya mungkin terdapat potensi tindak kekerasan kontemporer dan individual.

Penjelasan-penjelasan sosiologi, misalnya yang membahas berbagai kaitan dengan kerugian ekonomi, keterlibatan dalam kelompok, kelompok-kelompok sosial yang dominan dan penggunaan tindak kekerasan dalam perekonomian informal, memberikan gambaran tentang konteks tempat terjadinya tindak kekerasan, tetapi tidak dapat memprediksi individu-individu mana dalam lingkungan seperti yang akan melakukan tindak kekerasan. Analisis tentang kerentanan struktural, seperti tindak kekerasan terhadap para wanita oleh laki-laki, serangan-serangan rasial, dan tindak kekerasan homofobia (karena perasaan benci), menunjukkan penggunaan tindak kekerasan untuk mempertahankan dominasi. Tindak kekerasan yang secara spesifik ditujukan pada kelompok atau individu tertentu karena keyakinan-keyakinan mereka, warna kulit mereka, jenis kelamin mereka, atau kelas sosial mereka berfungsi mengingatkan bahwa mereka lebih rentan sehingga mereka akan lebih terikat dengan struktur yang lebih menguntungkan. Tindak kekerasan bisa berhasil meraih dominasi melalui pemaksaan. Tetapi tindak kekerasan juga bisa merupakan tanda perlawanan. Tindak kekerasan para pemberontak sipil menunjukkan penggunaan tindak kekerasan untuk tujuan tersebut.

Menyebut perbuatan-perbuatan tertentu sebagai tindak kekerasan atau perlawanan terhadap penindasan menunjukkan betapa penjelasan-penjelasan mengenai tindak kekerasan bersifat subyektif. Perlawanan terhadap tindak kekerasan bisa dalam skala individual, sebagaimana dalam situasi di mana para wanita yang dipukuli membunuh penganiaya mereka, atau bisa juga dalam skala kolektif, sebagaimana dalam pemberontakan-pemberontakan bersenjata menentang pemerintah penguasa. Perdebatan-perdebatan umum, dan juga pembelaan-pembelaan terhadap para penjahat di depan sidang pengadilan, berputar-putar sekitar penggunaan, makna dan konsekuensi tindak kekerasan. Seringkah makna subyektif dari tindak kekerasan, dan konteks sosial dan politik tempat tumbuhnya tindak kekerasan, sering dipertanyakan dan memang seharusnya dipertanyakan. Makna-makna tindak kekerasan terbentuk oieh lingkungan sosial.

Tindak kekerasan hingga kini masih menyedot perhatian banyak ahli, karena melimpahnya tayangan tindak kekerasan di televisi, film bioskop, buku dan siaran berita. Berbagai dampak menonton tindak kekerasan diperdebatkan oleh para peneliti. Perdebatan ini meluas ke persoalan mengenai berapa banyak tipe tindak kekerasan ini seharusnya kita tonton di televisi setiap malam. Bagaimana pengaruh hal ini terhadap khalayak pemirsa, dan apakah pengalaman aktual dengan tindak kekerasan berpengaruh terhadap perilaku individu di masa depan, dan dalam bentuk apa pencegahan tindak kekerasan bisa meningkatkan kualitas hidup banyak orang merupakan topik-topik penting yang diperdebatkan para ahli ilmu sosial.

Incoming search terms:

  • cara mengurangi kekerasan
  • cara mengatasi kekerasan psikologis
  • cara mengatasi kekerasan
  • cara menangani penganiyaan psikis
  • Cara mengatasi tindak kekerasan
  • cara menghadapi kekerasan
  • cara mencegah kekerasan psikologis
  • cara mengatasi kekerasan fisik dengan mengatas namakan demokrasi
  • cara mengatasi kekerasan yang ada dinegara ini
  • cara mengatasi korban perang secara psikologis

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • cara mengurangi kekerasan
  • cara mengatasi kekerasan psikologis
  • cara mengatasi kekerasan
  • cara menangani penganiyaan psikis
  • Cara mengatasi tindak kekerasan
  • cara menghadapi kekerasan
  • cara mencegah kekerasan psikologis
  • cara mengatasi kekerasan fisik dengan mengatas namakan demokrasi
  • cara mengatasi kekerasan yang ada dinegara ini
  • cara mengatasi korban perang secara psikologis