PENGERTIAN TRADISI BIOLOGI DAN TRADISI ANTROPOLOGI ADALAH – Evolusi sosial mengandung analogi dengan evolusi biologi. Jelas pada masa kini, di dunia di mana sebagian besar orang yang terdidik belajar melalui buku evolusi biologi sebelum mereka mempelajari kebudayaan lain. Juga jelas pada akhir abad ke-19, tatkala kemajuan sosial juga sering kali dilihat analog dengan evolusi biologi. Namun, memandang evolusi sosial semata-mata dengan cara ini mungkin me-mandang rendah presederi sejarah. Penerimaan meluas dalam lingkaran intelektual konsep “kemajuan” menjadikan teori evolusi sasaran kritik yang tajam sebagaimana yang kita ketahui. Para pernikir abad ke-18 menerima gagasan kemajuan manusia dalam kerangka biologi yang kebal; barulah pada akhir abad ke-19 konsep modeni tentang evolusi sosial itu dikaitkan dengan gagasan seperti “yang paling cocok akan selamar (survival of the fittest) (Ember dan Ember, 1996).

Batasan antara Rantai Besar Segala yng Ada dan evolusionisme sukar ditentukan, dan keyakinan yang berkaitan dengan mekanisme perubahan biologi juga bervariasi. Linnaues, yang secara esensial antievolusionis, meyakini sistem hibridisasi, di mana hibrida secara konstan membentuk dan menghasilkan generasi baru.

Jean Baptiste Lamarck (1856) mengemukakan bahwa setiap garis keturunan berevolusi untuk menghasilkan bentuk-bentuk kehidupan yang lebih sempurna, tetapi bentuk-bentuk yang paling awal terus direproduksi oleh generasi secara spontan. Amuba adalah organisme paling awal, kemudian berevolusi menjadi jellyfish, kata Lamarck. Makhluk ini berevolusi menjadi ikan, dan kemudian menjadi reptil atau mamalia. Sementara itu, amuba yang baru saja dihasilkan berkembang menjadi jellyfish, tetapi belum menjadi ikan. Lamarck percaya bahwa organorgan pada makhluk berkembang menjadi lebih baik atau mengalami kemunduran tergantung pada apakah organ itu digunakan sesuai dengan potensinya atau tidak. Ia juga mengatakan bahwa individu memiliki ciri-ciri khas yang dapat diteruskan kepada keturunan mereka. Misalnya, jika seorang gadis belajar melukis pada usia dini, kelak ia bisa meneruskan bakat tersebut kepada anak-anaknya semenjak berada dalam rahirn. Begitu saja gagasan Lamarck mengenai evolusi benar, tetapi ia salah memahami mekanismenya (Ridley, 1991).

Darwin (1859) menolak pandangan Lamarck. Ia berargumen bahwa evolusi hanya terjadi atau berlangsung melalui proses penerusan dari apa yang kini kita kenal sebagai unsur genetik. Mutasi mendadak menghasilkan variasi yang lebih besar, dan bentuk-bentuk yang paling ber-hasil menyesuaikan diri dalam lingkungan akan bereproduksi lebih efisien. Darwin menganggap mekanisme evolusi sebagai seleksi seksual. Oleh karena hanya individu-individu yang selamat dalam bereproduksi yang akan meneruskan gen mereka, mutasi yang memungkinkan hal ini akan disukai. Isolasi mendorong perubahan yang lebih besar, dan akhirnya akan terjadi pembentukan spesies baru. Ketika gagasan Darwin semakin dikenal, gagasan tersebut memberikan implikasi yang luas dalam masyarakat Barat, di mana gagasan itu dianggap sebagai ancaman bagi kaum Kristen ortodoks. Dampak pandangan Darwin tethaAap ilmu sosial tentu saja sangat besar (lihat Kuper, 1994).

Tidak tepat jika kita menganggap semua perkembangan pemikiran evolusionis dalarn antropologi semata-mata sebagai perluasan teori Darwin. Banyak pendapat evolusionis dalam antropologi justru menyerang Darwin. Karya Darwin yang paling “antropologis” (ia lebih suka menyebutnya “etnologis”), The Descent of Man, pada tahun 1871, terbit pada masa yang sama dengan karya penting Lewis Henry Morgan dan E.dward Burnett Tylor. Meski kurang bobot biologinya, Teori Lamarck tampaknya lebih masuk akal daripada Darwin, khususnya dalam analogi dengan evolusi kebudayaan secara gradual, unilinear, atau universal. Meski unsur biologi tidak diteruskan dalam rahim sebagaimana diduga Lamarck, unsur-unsur kebudayaan yang baru ditemukan dapat dengan cepat diteruskan dari individu ke individu. Unsur kebudayaan baru memiliki kapasitas untuk mentransformasikan hubungan-hubungan yang ada.

Filed under : Bikers Pintar,