PENGERTIAN TRAINING ASERSI (ASSERTION TRAINING)

24 views

PENGERTIAN TRAINING ASERSI (ASSERTION TRAINING) – “Anak-anak harus diawasi dan bukan didengar.” “Selalu tunjukkan bibir atas yang tegas.” Dia tipe pendiam yang keras.” Masyarakat kita umumnya tidak menghargai ekspresi keyakinan dan perasaan secara terbuka, dan sejauh ini sering kali orang harus berkorban secara emosional untuk menyembunyikan pemikiran dan perasaan-perasaannya. Keinginan dan kebutuhan seseorang mungkin tidak akan terpenuhi jika ia tidak mengungkapkannya secara jelas. Komunikasi yang buruk antarpasangan seksual merupakan salah satu faktor utama yang berperan dalam ketidakpuasan hubungan seksual, contohnya. Seluruh terapis dari berbagai pendekatan menyediakan waktu cukup besar untuk mendorong para klien menemukan hasrat dan kebutuhan mereka serta bertanggung jawab terhadap pemenuhannya. Jika pasien mengalami kesulitan mengekspresikan perasaan dan harapannya kepada orang lain, training asersi, yang diberikan secara individual atau kelompok, mungkin dapat membantunya. Andrew Salter, dalam bukun a Conditioned Reflex Therapy (1949), adalah terapis perilaku pertama yang mene tapkan asertivitas sebagai tujuan positif bagi banyak orang. Menggunakan berbagai istilah classical conditioning dari Pavlov, Salter menulis bahwa sebagian besar penderitaan psikologis manusia disebabkan hambatan selaput otak yang berlebihan sehingga terjadi rangsangan yang lebih besar. Dia mendorong orang-orang yang mengalami hambatan sosial mengekspresikan perasaannya kepada orang lain secara terbuka dan spontan. Mereka harus melakukannya secara verbal, mengatakan pada orang lain bila merasa bahagia atau sedih, marah atau tegas, juga secara nonverbal, dengan senyum atau bermuka masam, yang disebut Salter kata-kata melalui wajah. Mereka juga harus menentang orang-orang yang tidak mereka setujui pendapatnya, dengan cara yang sesuai; menggunakan kata “saya” sesering mungkin; menunjukkan rasa terima kasih kepada orang-orang yang memujinya; dan berimprovisasi, yaitu merespons secara intuitif dengan segera tanpa memikirkannya lebih dahulu. Untuk membantu pasien menyatakan dirinya, para terapis perilaku, terlepas dari apakah mereka mengakuinya atau tidak, melakukan pekerjaan terapeutik dengan tujuan yang sama dengan para terapis humanistik, yang juga menganggap ekspresi perasaan positif dan negatif sebagai komponen penting untuk hidup secara efektif.

Bagaimana kita mendefinisikan asersi? Apakah mungkin tidak pada tempatnya jika kita mendahulukan diri sendiri dan mengekspresikan keyakinan dan perasaan kita kepada orang lain? Bagaimana jika kita melukai perasaan orang lain ketika melakukan hal tersebut? Banyak upaya yang dilakukan untuk menjelaskan perbedaan antara perilaku asertif dan perilaku agresif. Perbedaan yang berguna di bawah ini disampaikan beberapa tahun lalu oleh Lange dan Jakubowski (1976).

(Asersi mencahup) ehspresi pihiran, perasaan, dan heyakinan secara langsung, jujur, dan pantas dengan menghargai hah-hah orang lain. Sebalihnya, agresi merupahan ehspresi diri yang ditandai dengan melanggar hah-hah orang lain dan merendahhan orang lain dalam upaya mencapai tujuan pribadi.  

Training asersi sebenarnya merupakan serangkaian teknik yang kesemuanya bertujuan meningkatkan asertivitas, atau vang disebut Lazarus (1971) “kebebasan emosional.” Karena orang-orang mungkin tidak asertif disebabkan berbagai alasan tertentu, prosedur terapi spesifik yang digunakan tergantung pada alasan yang diyakini menyebabkan individu tidak asertif. Goldfried dan Davison (1994) mengajukan beberapa kemungkinan penyebab perilaku tidak asertif—salah satu atau lebih mungkin terdapat pada seseorang—dan juga teknik terapi yang berkaitan.

• Pasien mungkin tidak tahu apa yang harus dikatakan. Beberapa orang yang tidak asertif kurang memiliki informasi tentang apa yang harus dikatakan dalam berbagai situasi yang menghendaki ekspresivitas. Terapis harus menyediakan informasi tersebut.

• Pasien mungkin tidak mengetahui bagaimana cara berperilaku asertif. Mereka mungkin tidak mengusai nada dan tinggi rendahnya suara, kelancaran berbicara, ekspresi wajah dan kontak mata, dan gerakan tubuh yang diperlukan dalam asertivitas. Modeling dan bermain peran dapat membantu orang-orang ini agar mampu menunjukkan tanda-tanda ketegasan dan keterbukaan.

• Pasien mungkin takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi bila mereka menyatakan dirinya. Desensitisasi sistematik dapat mengurangi kecemasan tersebut. Atau asertivitas mungkin dihambat oleh pernyataan diri yang negatif, seperti “Jika saya menyatakan diri dan ditolak, maka itu akan menjadi bencana besar” (Schwartz & Gottman, 1976). Orang-orang semacam ini dapat memperoleh manfaat dari terapi perilaku rasional-emotif (rational emotive behavior therapy).

Pasien mungkin merasa bahwa menjadi asertif bukanlah hal yang pantas atau benar. Sistem nilai yang dimiliki beberapa orang tidak memasukkan atau tidak mendorong asertivitas. Sebagai contoh, beberapa masalah yang dialami seorang biarawati Katolik yang menjalani terapi tarnpaknya berkaitan dengan perilakunya yang tidak asertif, namun melalui diskusi terungkap bahwa dia akan melanggar sumpahnya bila berperilaku lebih ekspresif dan lebih terbuka dalam berbicara. Melalui kesepakatan bersama tidak diberikan training asersi; alih-alih, terapi difokuskan untuk membantu pekerjaannya dalam profesi yang dipilihnya dengan cara yang lebih memberikan kepuasan pribadi, namun tidak lebih asertif.

Training asersi dapat diawali dengan percakapan di mana terapis mencoba mengarahkan klien untuk membedakan antara asertivitas dan agresi. Orang-orang yang pasif, bahkan mengajukan permintaan yang wajar atau menolak permintaan yang arogan dapat menyebabkan mereka merasa menjadi orang yang kasar. Selanjutnya terapis biasanya memberikan berbagai contoh situasi kepada pasien yang meng-hendaki mereka untuk mempertahankan hak, waktu, dan energinya; berbagai situasi tersebut adalah situasi yang jika pasien tidak mampu mengatasinya, mereka merasa dilecehkan.

Anda telah belajar giat selama beberapa minggu, tanpa meluangkan waktu sedikit pun untuk bersantai. Namun, saat ini sebuah film baru, yang hanya akan diputar selama beberapa hari, membuat Anda tertarik dan Anda memutuskan meluangkan waktu beberapa jam untuk menonton malam ini. Dalam perjalanan menuju ruang kuliah di sore hari, sahabat Anda menyampaikan bahwa dia memiliki tiket gratis ke sebuah konser dan mengajak Anda pergi bersamanya. Bagaimana cara Anda menolaknya?

Latihan perilaku merupakan teknik yang berguna dalam training asersi (Lazarus, 1971). Terapis membahas dan mencontohkan asertivitas yang pantas dan meminta pasien memainkan peran dalam situasi tersebut. Peningkatan dihargai dengan pujian dari terapis atau dari peserta lainnya dalam traning asersi. Tugas-tugas bertingkat untuk dikerjakan di rumah, seperti meminta mekanik untuk menjelaskan tagihan perbaikan terakhir, dan, nantinya, menyampaikan kepada seorang kerabat bahwa Anda tidak suka dengan kritikannya yang terus-menerus, diberikan segera setelah klien menguasai asertivitas pada tingkat tertentu melalui tugas-tugas dalam sesi training.

Training asersi memancing beberapa isu etika. Mendorong asertivitas pada orang-orang yang, seperti biarawati yang dikisahkan sebelumnya, meyakini bahwa penolakan diri jauh lebih baik daripada ekspresi diri akan merusak sistem nilai mereka dan dapat memicu efek beriak yang tidak menyenangkan dalam berbagai bidang kehidupan mereka. Membedakan antara asersi dan agresi juga merupakan suatu isu etika. Perilaku yang dianggap asertif oleh seseorang mungkin dianggap sebagai perilaku agresif oleh orang lain. Jika kita menggunakan pembedaan yang dibuat oleh Lange dan Jakubowski bahwa asersi menghargai hak-hak orang lain, sedangkan agresi tidak, kita masih tetap-rus membuat penilaian tentang apa yang merijadi hak-hak orang lain. Dengan demikian, training asersi menyentuh aspek-aspek moral kehidupan sosial—yaitu, definisi hak-hak orang lain dan cara yang pantas untuk mempertahankan hak-hak pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *