PENGERTIAN TRANSMISI KEBUDAYAAN: KONSEP SOSIALISASI – Karena kemampuan khas manusia untuk belajar, kebanyakan sosiolog dan antropolog sangat menekankan proses sosialisasi. Sosialisasi adalah proses di mana manusia berusaha menyerap isi kebudayaan yang berkembang di tempat kelahirannya. Kebanyakan ilmuwan sosial ini percaya bahwa proses inilah, di mana generasi tua banyak sekali menghabiskan waktunya untuk mentransmisikan kebudayaan kepada generasi penerusnya, dan generasi penerusnya biasanya banyak sekali menerima kesan dari berbagai upaya pengajaran tersebut. Karena itu, sulit menolak bahwa proses sosialisasi merupakan aspek krusial pengalaman manusia di mana saja, dan dengan demikian konsep sosi-

alisasi adalah konsep yang penting secara sosiologis. Namun, mengakui semua ini tidak sama artinya dengan menyetujui bahwa konsep tersebut mempunyai nilai teoritis yang penting, paling tidak bagi sosiolog makro. Dengan kata lain, walaupun sosialisasi merup akan bagian fundamental dari kehidupan manusia di mana saja, mengandalkan adanya proses ini tidak dapat bartak membantu menjelaskan kenapa sistem kultural bertahan sepanjang waktu. Dan ia tidak membantu kita sama sekali menjelaskan bagaimana dan kenapa kebudayaan mengalami perubahan, atau tegasnya, bagaimana ia muncul pertama kalinya. Masalah yang rumit dan agak kabur ini memerlukan beberapa penjelasan. Cara yang sangat menyenangkan dalam mendekati masalah ini adalah cara yang dilakukan oleh George Homans (1984). Sebagaimana ditunjukkan Homans, banyak sosiolog yang menjelaskan perilaku manusia sebagai “akibat kebudayaan”. Mereka berpendapat bahwa orang bertindak dan berpikir dengan cara tertentu karena mereka telah disosialisasi ke dalam kebudayaan tertentu yang Sebagian ilmuwan sosial sekarang menggunakan istilah protokultur untuk menyebut penggunaan alat oleh makhluk infra-human yang sederhana ini, dengan menyediakan istilah kultur untuk menyebut hasil karya manusia sendiri.

Keberatan Homans kepada penipu kebudayaan sangat beralasan ketika irata menyadari bahwa masalah paling fundamental yang ingin dijelaskan oleh sosiolog — dan juga merupakan fokus utama buku ini —adalah bagaimana dan kenapa kebudayaan berubah. Apakah kita dapat mengandalkan proses sosialisasi ? Bagaimanapun juga, perubahan sebenarnya terjadi tanpa adanya sosialisasi: Ia lebih merupakan modifikasi, ketimbang pemeliharaan, isi kebuciayaan tertentu. Bagaimana kita dapat menjelaskan perubahan dengan menggunakan sebuah konsep yang secara eksplisit dirancang untuk menjelaskan tidak adanya perubahan?

Tetapi ketika kita membahas tentang kontinuitas dan stabilitas pun, bukan perubahan, maka konsep sosialisasi tersebut nampaknya tidak membantu. Sebagaimana diakui Homans dan banyak sosiolog dan antropolog, vang sebenarnya menjelaskan kontinuitas kebudayaan dari satu generasi ke generasi selanjutnya bukanlah proses sosialisasi, tetapi kenyataan bahwa anggota masyarakat penerusnya memberikan respons dan beradaptasi dengan sejumlah kenyataan historis yang sama dengan kenyataan yang dihadapi generasi sebelumnya. Ketika kenyataan-kenyataan historis ini berubah, maka orang akan mengubah cara mereka memberikan respons dan beradaptasi, walaupunberhadapan dengan tekanan keras dari para pendahulu mereka agar mempertahankan pola-pola responsi lama.

Dengan demikian, sosialisasi merupakan bagian pengalaman manusia vang senantiasa ada dan bersifat universal. Dengan menggunakan konsep sosialisasi kita dapat belajar tentang keinginan kuat generasi tua untuk men-transmisikan isi kebudayaan kepada keturunan mereka. Pada tingkat kehidupan sehari-hari dan saling interaksi antar individu yang bersifat mikrososiologis, konsep ini mungkin sangat bernilai. Tetapi bagi Sosiolog Makro, ia tidak membantu sama sekali secara teoritis dan dalam menjelaskan sesuatu. Ia tidak dapat menjelaskan tentang struktur makro masyarakat dan transformasi struktur makro sepanjang zaman.

Filed under : Bikers Pintar,