Advertisement

Antena parabola untuk penerimaan sinyal radio dari sebuah satelit (TVRO) biasanya terdiri atas piringan parabola, unit antena yang biasa;-disebut feed horn, unit penguat derau rendah {low noise amplifier, disingkat LNA), unit pengubah besaran frekuensi {down converter, rangkaian elektronika yang bertugas mengubah frekuensi ber-ordo gigahertz menjadi berfrekuensi tertentu pada ban frekuensi ultra tinggi) dan kabel transmisi. Umumnya LNA dan down converter dija-dikan satu dan biasa disebut low noise block (LNB).

Piringan antena parabola bisa dibuat dari kasa aluminium, logam pejal yang ringan atau kaca serat yang dicampur dengan serbuk logam. Bahkan murid- murid sebuah STM di Jawa Timur telah berhasil membuat antena parabola dari semen yang dicetak di permukaan tanah dengan hasil penerimaan yang sangat baik.

Advertisement

Antena parabola akan mempunyai unjuk kerja yang maksimal kalau dipakai pada sistem komunikasi radio berfrekuensi sangat tinggi. Pada frekuensi rendah, ukurannya akan sedemikian besar sehingga tidak praktis dan mahal harganya. Belum lagi diperhitungkan kemampuannya untuk menerima terpaan angin. Namun demikian, salah satu antena parabola yang paling besar adalah radioteleskop milik Jodrell Bank Experimental Station dari Universitas Manchester di Lower Withington, Inggris, yang berdiameter tujuh puluh meter lebih. Telinga elektronik raksasa ini merupakan salah satu mahaciptaan di bidang elektronika, sebuah alat yang membantu manusia dalam usahanya menguak tabir misteri jagat raya. Setiap saat beribu sinyal radio datang dari balik kesunyian angkasa luar, membawa pesan entah dari mana. Setiap pesan itu merupakan teka-teki muskil yang harus dipecahkan, yang mungkin akan menjawab pertanyaan abad ini: adakah kehidupan di bintang-bintang itu?

Advertisement