Advertisement

urbanization (urbanisasi)

Istilah urbanisasi muncul di hampir semua teks ilmu sosial; dan istilah ini digunakan secara longgar ketika teori-teori dalam bidang ilmu sosial tertentu diterapkan untuk kajian terhadap unit-unit perkotaan, penduduknya atau individu-individu yang tinggal di daerah perkotaan. Namun istilah tersebut memiliki dua makna yang saling terkait. Pertama, para ahli demografi, yang menggunakannya untuk menunjukkan redistribusi penduduk di antara wilayah-wilayah pedesaan dan perkotaan, memberikan maknanya yang paling spesifik pada tingkat konseptual, tetapi kajian demografi tentang urbanisasi tidak berhasil menentukan kriteria yang bisa diterima internasional dalam merumuskan perkotaan (urban). Kedua, dalam beberapa ilmu sosial lainnya, terutama ekonomi, geografi dan sosiologi, urbanisasi merujuk pada struktur morfologik yang sedang berubah dari berbagai pemusatan (agglomeration) perkotaan dan perkembangannya. Salah satu masalah dari penelitian utama ilmu-ilmu sosial adalah pemisahan sebab-akibat urbanisasi sebagai gejala demografi dan morfologi beberapa kompleks perkotaan besar yang muncul di dunia Barat.

Advertisement

 

Redistribusi penduduk

Kajian demografi terhadap urbanisasi terpusat pada perpindahan orang antara wilayah pedesaan dan perkotaan dalam suatu skala dunia, dan pada tingkat, cara dan pola diferensial dari redistribusi ini di antara negara maju dan kurang maju. Hingga tahun 1950 diperkirakan hanya 28 persen penduduk dunia bertempat tinggal di sektor-sektor perkotaan. Pada pertengahan dasawarsa itu lebih dari separuh penduduk negara-negara maju bertempat tinggal di wilayah-wilayah perkotaan, tetapi di negara kurang maju jumlahnya tidak lebih dari 15 persen. Menjelang tahun 1980 beberapa estimasi menunjukkan bahwa tingkat urbanisasi di negara-negara maju mencapai 70 persen, sementara di negara kurang maju lebih dari 30 persen. Berbagai redistribusi ini merupakan konsekuensi dari angka-angka diferensial yang meningkat di kalangan penduduk pedesaan dan perkotaan di negara-negara maju dan kurang maju. Antara tahun-tahun 1950 dan 1980, misalnya, penduduk perkotaan meningkat hingga 85 persen sementara penduduk pedesaan mengalami penurunan aktual hingga lebih dari 10 persen. Di negara-negara kurang maju penduduk perkotaan meningkat hingga lebih dari 250 persen dan penduduk pedesaan meningkat hingga lebih dari 60 persen. Meskipun cara diferensial urbanisasi bisa langsung dikaitkan dengan angka-angka diferensial pertumbuhan perkotaan dan pedesaan, namun jauh lebih sulit untuk mengidentifikasi diferensial-diferensial itu dalam berbagai komponen perubahan penduduk perkotaan dan pedesaan. Hal ini pada umumnya disebabkan pertumbuhan penduduk perkotaan dan pedesaan disamping dipengaruhi oleh pertambahan alami dan migrasi netto juga dipengaruhi oleh berubahnya batas-batas (atau reklasifikasi wilayah terhadap apa yang didefinisikan sebagai wilayah perkotaan dan pedesaan).

Kecenderungan historis yang dominan dalam redistribusi penduduk mengarah pada meningkatnya konsentrasi pada penduduk wilayah perkotaan. Namun dalam wilayah-wilayah perkotaan itu sendiri, sudah ada perpindahan menjauhi pusat-pusat perkotaan menuju pemukiman di pinggiran kota. Berbagai definisi tentang perkotaan, pinggiran kota (suburban) dan pedesaan mempunyai perbedaan antara satu negara dengan negara lain; namun, tetap ada indikasi-indikasi kuat bahwa di banyak negara Barat desentralisasi penduduk ini mulai terjadi dan bahwa hal ini semakin melibatkan perpindahan melewati batas- batas pemusatan besar (metropolitan) menuju sektor non-metropolitan.

 

Urbanisasi dan morfologi perkotaan

Keterkaitan antara urbanisasi yang merupakan gejala demografik dan urbanisasi sebagai gejala morfologis berakar pada karya-karya lama para pakar ekonomi Eropa seperti Weber, Gras (1922) dan Christaller (1966 [1933]), dan pada tradisi intelektual Amerika Serikat yang dikenal sebagai

ekologi manusia. Pendekatan-pendekatan tradisional yang mengaitkan redistribusi penduduk dengan struktur perkotaan berusaha membahas konsentrasi penduduk dalam pemusatan perkotaan besar dan perkembangan sistem-sistem perkotaan. Pemusatan perkotaan berkembang di sekitar suatu pusat perkotaan yang menarik minat begitu banyak penduduk pedesaan dan menyerapnya ke dalam suatu perekonomian yang berlandaskan produksi dan proses manufaktur, berbagai jasa terkait dan industri-industri pendistribusian produk.

Sementara pusat-pusat perkotaan ini berkembang, wilayah kedua atau lingkar luar tumbuh di sekelilingnya. Lingkar luar ini akan makin didominasi oleh pusat karena jarak ekologis antara komunitas yang sebelumnya independen dan pusat perkotaan itu diperpendek akibat berbagai inovasi teknologi bidang transportasi dan komunikasi. Seiring meluasnya seluruh wilayah , komunitas yang sebelumnya independen dan independen semu itu menyerahkan banyak fungsi dan perlakuan khusus mereka kepada pusat. Begitu kegiatan ekonomi dan pekerjaan mengalami sentralisasi di titik pemusatan, wilayah luar menjadi wilayah pemukiman pinggiran kota, yang semakin tergantung dan berorientasi pada pusat itu.

Bersama tiga sumber perubahan (selain perubahan alami) yang mendorong pertumbuhan penduduk (migrasi dari pusat, migrasi dari wilayah pedesaan dan pemusatan yang lain, yaitu inkorporasi wilayah baru dan penduduknya), wilayah-wilayah pinggiran kota mulai tumbuh lebih cepat daripada tempat-tempat pemusatan atau wilayah-wilayah pedesaan. Dengan demikian batas-batas struktural untuk pertumbuhan dan ekspansi ditentukan oleh kapasitas perekonomian dalam mendukung penduduk dan kemampuan pusat dalam mengkoordinasi, mengawasi dan mengintegrasikan wilayah yang lebih luas, sedangkan berbagai batasan terhadap pertumbuhan ditentukan oleh teknologi transportasi dan kebutuhan untuk bisa menggerakkan banyak orang secara rutin ke pusat itu.

Pendekatan tradisional ini meletakkan wilayah-wilayah pinggiran kota dan penduduknya dalam posisi yang hampir sepenuhnya tergantung pada pusat-pusat perkotaan. Pendekatan ini juga memusatkan perhatiannya pada pemusatan kegiatan jasa dan ekonomi di pusat dan pada desentralisasi penduduk atau tempat-tempat pemukiman. Penelitian menunjukkan bahwa pada saat ini penduduk melakukan desentralisasi yang melampaui batas-batas pemusatan tradisional, sedangkan kegiatan jasa dan ekonomi kembali melakukan pemusatan di wilayah-wilayah pinggiran tradisional. Berbagai observasi ini yang sangat berbeda dengan pendekatan tradisional mendorong sejumlah peneliti menyatakan bahwa ada batasan-batasan terhadap ukuran pemusatan yang berada di bawah kekuasaan pusat; begitu titik itu dicapai di mana biaya pemindahan orang, barang dan informasi terlalu tinggi untuk mendukung pertumbuhan struktur desentralisasi yang berkesinambungan, penciptaan inti baru (nucleation) pun dimulai dan ada titik baliknya (a return to scale), dan sejumlah pusat yang lebih kecil bermunculan. Dalam masing-masing pusat ini, penduduk di sekitarnya bisa mendapatkan semua kebutuhan rutin dan sehari-hari.

Di sisi lain, sebagian peneliti menyatakan bahwa pemusatan kembali kegiatan jasa dan ekonomi dalam lingkar pinggiran dan desentralisasi lebih lanjut penduduk tak lebih sebagai perluasan dari model ekspansi tradisional. Kondisi ini menyiratkan suatu babak baru dalam proses pemusatan yang memuncak pada struktur perkotaan yang didominasi oleh lingkar dalam yang akan menjalankan berbagai fungsi dan memiliki ciri-ciri pusat kota masa lampau. Ditegaskan di sini bahwa ini akan makin mendorong ekspansi pemukiman dan menyebabkan pusat-pusat kota lama bergantung pada lingkar dalam wilayah pinggiran kota, sebagaimana ketergantungan wilayah-wilayah pinggiran kota sebelumnya pada kota-kota. Selain lingkar dalam ini, desentralisasi penduduk tradisional akan terus bergerak menuju ekspansi teritorial metropolitan yang lebih besar.

Incoming search terms:

  • pengertian urbanisasi menurut para ahli
  • reklasifikasi dalam demografi
  • arti urbanisasi
  • batasan-batasan urbanisasi
  • definisi reklasifikasi dalam demografi
  • definisi reklasifikasi demografi
  • makna meningkatnya konsentrasi penduduk
  • definisi reklasifikasi wilayah
  • definisi reklasifikasi dalam perkotaan
  • urbanisasi dinegara maju dan negara berkembang

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian urbanisasi menurut para ahli
  • reklasifikasi dalam demografi
  • arti urbanisasi
  • batasan-batasan urbanisasi
  • definisi reklasifikasi dalam demografi
  • definisi reklasifikasi demografi
  • makna meningkatnya konsentrasi penduduk
  • definisi reklasifikasi wilayah
  • definisi reklasifikasi dalam perkotaan
  • urbanisasi dinegara maju dan negara berkembang