Advertisement

Salah satu cabang ilmu syariat un­tuk kaidah dan metode penggalian hukum syariat atau fikih yang berkenaan dengan perbuatan manusia dari dalil yang rinci. Pelopor ilmu Ushul Fikih adalah Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (767-862) de­ngan bukunya Kitab al-Risalah. Buku ini membahas masalah kedudukan al-Quran, al-Sunnah, al-Hadist, Ijma’, Qiyas, Istihsan, dan Ikhtilaf (perbedaan pen­dapat) di kalangan mujtahidin.

Ada empat bahasan dalam ilmu Ushul Fikih. Per­tama, masalah hukum mencakup hukum taklifi dan hukum wadh’i; hakim dalam arti yang berwenang me­netapkan hukum, yakni Allah; mahkum fih, per­buatan berdasarkan ketentuan hukum; dan hukum mahkum ‘alaih, yakni para mukallaf, orang yang di­bebani hukum. Bahasan kedua adalah kaidah peng­galian atau penetapan hukum, baik kaidah bahasa maupun kaidah syara’, seperti amr (perintah) dan nahyu (larangan), ungkapan bersifat ‘am (umum), khash (khusus), takhshish (pengkhususan), dan mu- khashshish (pengkhusus), ungkapan bersifat muthlaq (tidak terikat) dan muqayyad (terikat), mujmal (tidak jelas) dan mubayyan (yang menjelaskan), manthuq (makna yang tersurat) dan mafhum (makna tersirat), muradif (sinonim) dan musytarak (mempunyai arti ganda dan berbeda-beda), takwil (pergeseran arti) dan naskh (pembatalan hukum lama). Ketiga, dalil hukum, baik yang disepakati, yaitu al-Quran dan al-Sunnah, maupun yang dipertikaikan, yaitu ijma (konsesus para ulama), qiyas (analogi), istishhab (pemberlakuan hu­kum lampau), istihsan (meninggalkan dalil yang le­bih kuat dan mengambil dalil lain karena dipandang lebih tepat), maslahah mursalah (kepentingan umum), ‘uruf (adat kebiasaan), saddudzdzara’i (pencegahan hal yang menimbulkan kerusakan), mazhab sahabat (pendapat sahabat Nabi), dan syariat sebelum Islam. Dan yang terakhir masalah ijtihad (penggalian hukum oleh mujtahid), it t iba’ (mengikuti pendapat para mujtahid atau muridnya), tarjih (pemilihan pendapat yang dianggap lebih kuat alasannya).

Advertisement

Dalam ilmu Ushul Fikih ada dua aliran besar, yaitu (1) mazhab ulama kalam yang diikuti ulama Maliki- yah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan Mu’tazilah; dan (2) mazhab yang dianut ulama Hanafiyah. Mazhab per­tama mengikuti metode deduktif, sedangkan mazhab kedua menganut metode induktif dalam merumuskan kaidah hukum.

Pada awalnya pembahasan ilmu ini terbatas pada pendekatan segi ilmu bahasa saja. Kemudian ulama ushul fikih mengembangkan pembahasan ya^g mema­sukkan pendekatan asyraru ‘l-syari’ah (rahasia sya­riat), hikmatu ‘l-tasyri’ (hikmah penetapan hukum), dan maqashidu ‘l-syari’ah (tujuan syariat). Ulama pengembang pendekatan ini adalah Imam al-Syathibi (meninggal tahun 1389) dengan bukunya al-Muwafaqat.

Advertisement