PENGERTIAN WAKTU: DIAKRONIK, SINKRONIK, DAN INTERAKTIF ADALAH – Evolusionisme dan difusionisme adalah contoh yang pas untuk pendekatan ini. Evolusionisme adalah suatu perspektif antropologi yang menekankan meningkatnya kompleksitas kebudayaan sepanjang masa. Difusionisme adalah perspektif yang menekankan transmisi gagasan dari satu tempat ke tempat lain. Kedua perspektif ini berkompetisi karena menawarkan eksplanasi yang berbeda mengenai hal yang sama, yakni menjawab pertanyaan bagaimana kebudayaan berubah. Tetapi, keduanya benar-benar merupakan bagian dari teori besar yang sama, yakni teori perubahan sosial.

Suatu perspektif yang lebih besar yang mencakupi evolusionisme dan difusionisme disebut diakronik, yaitu perspektif yang menggambarkan hubungan unsur-unsur kebudayaan sepanjang waktu. Lawannya adalah perspektif sinkronik yang menunjukkan hubungan unsur-unsur kebudayaan bersama-sama pada waktu yang sama. Perspektif sinkronik meliputi antara lain fungsionalisme, strukturalisme, dan interpretivisme yang mencoba menjelaskan bekerjanya kebudayaan tertentu tanpa acuan waktu. Kelompok besar ketiga dari teori-teori antropologi adalah apa yang disebut perspektif interaktif. Perspektif ini mengandung aspekaspek sinkronik dan diakronik. Para pengikutnya menolak sifat statis dari sebagian besar analisis sinkronik, dan juga menolak asumsi historis yang simplistik dari evolusionisme klasik dan tradisi difusionisme. Unsurunsur pokok dari perspektif interaktif mencakup oiang-orang yang mengkaji proses sosial yang bersifat siklis, atau hubungan sebab-akibat antara kebudayaaii dan lingkungan. Ringkasan perspektif diakronik, sinkronik, dan interaktif. Sebagai contoh, pertanyaan: “Mana yang lebih dahulu, keturunan patrilineal atau matrilineal?” Di balik pertanyaan ini terdapat seperangkat konsep mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan, mengenai hakikat dasar perkawinan, tentang hak milik pribadi, dan lain-lain. Melalui pertanyaan demikian itu, teori-teori yang cukup besar dibangun. Teori-teori ini memiliki kekuasaan eksplanasi yang besar, tetapi rentan terhadap argumen kritis, yang kerap kali menggunakan bukti etnografi yang bertentangan (Barnard, 2000).

Bagi pendekatan sinkronik, yang menonjol pada awal abad ke-20, kerap kali lebih sukar untuk menjawab pertanyaan teoretis tersebut. Pertanyaan seperti: “Mana yang secara kebudayaan lebih pas, keturunan patrilineal atau matrilineal?” tampaknya kurang bermakna dibandingkan pertanyaan: “Mana yang lebih dahulu?” Antropolog mulai mempelajari masyarakat secara lebih mendalam dan membandingkan bagaimana setiap masyarakat menghadapi persoalan-persoalan seperti mengasuh dan membesarkan anak, memelihara hubungan antara kerabat, dan bagaimana mereka menjalin hubungan dengan kelompok kerabat lain. Perdebatan tetap sengit tentang mana yang lebih penting, keturunan (hubungan dalam suatu kelompok kerabat) atau aliansi (hubungan antara kelompok kerabat yang saling kawin). Jadi, dapat dikatakan bahwa perspektif sinkronik adalah upaya memahami masyarakat pada suatu waktu, apakah berkenaan dengan fungsinya, strukturnya, atau makna adat istidat tertentu.

Pendekatan interaktif memusatkan perhatian pada mekanisme, yang melalui mekanisme tersebut individu-individu saling berhadapan dengan individu-individu lainnya, atau semata-mata tentang cara-cara individu-individu. mendefinisikan situasi sosial mereka. Sebagai contoh, pertanyaan yang muncul adalah: “Apakah ada hal-hal tersembunyi di balik keturunan patrilineal atau matrilineal yang mendorong runtuhnya kelompok-kelompok yang berdasarkan prinsip keturunan tersebut?” Atau, “Bagaimana seseorang bermanuver di sekitar harnbatan struktural yang bersumber dari kelompok-kelompok keturunan?” Jadi, antropolog dengan aneka ragam orientasi teori mencoba menjawab pertanyaanpertanyaan teoretis yang berkaitan, kalau tidak bisa disebut identik. Hubungan kompleks antara pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah salah satu aspek yang paling menarik dalam disiplin antropologi (Barnard 2000).

Berbagai `isme” yang membangun perspektif ini memb entuk_ berbagai cara memahami materi subjek antropologi. Ahli antroplogi berdebat baik dalam perspektif yang lebih sempit (misalnya, evolusionis berdebat satu sama lain tentang suatu penyebab atau kronologi evolusi) dan dalam perspektif yang lebih luas (misalnya, evolusionis dengan difusionis, atau orang-orang yang menyukai pendekatan diakronik dengan mereka yang menyukai sinkronik).

Secara luas, sejarah antropologi mengalami transisi dari perspektif diakronik ke perspektif sinkronik, dan dari perspektif sinkronik ke perspektif interaktif. Kajian diakronik awal, khususnya dalam evolusionisme, kerap kali terpusat pada pembicaraan global tetapi dengan isu teoretis pada bagaimana seseorang memandang disiplin itu sendiri. Sebagai contoh, apakah antropologi berevolusi melalui tahap-tahap, yakni berkembang melalui rangkaian kejadian atau gagasan-gagasan baru? Apakah antropologi mengalami transformasi struktural?

Teori dalam antropologi sosial dan kebudayaan tergantung pada pertanyaan yang diajukan antropolog. Hubungan teori dengan temuan-temuan etnografi bersifat integral dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara luas, teori-teori dapat digolongkan ke dalam perspektif diakronik, sinkronik, atau interaktif menurut fokusnya. Berbeda dari paradigma dalam ilmu-ilmu fisika dan alam pada umumnya memiliki sasaran yang jelas dan tegas. Sedangkan paradigma antropologi tidak mudah digolong-golongkan.

Filed under : Bikers Pintar,