Advertisement

Dalam semua masyarakat, waktu merupakan paramater kehidupan dibangun, diatur, dan diselaraskan. Kerangka waktu ini bisa berwujud kalender, jam, musim, rentangan hidup dari kelahiran sampai kematian , kejadian-kejadian biografis pribadi, ataupun kejadian-kejadian sosial dalam masyarakat seperti pemilihan umum, kejuaraan dunia, acara-acara religius, semester perkuliahan, maupun jam buka sebuah bank. Sebagai sebuah parameter, waktu bisa digunakan untuk mengukur durasi perhitungan waktu pergerakan benda-benda angkasa, kejadian-kejadian yang berulang secara teratur, proses-proses dari serangkaian kejadian, ataupun aiat, seperti jam.

Dalam pengertian sosial, waktu memiliki banyak samaran. digunakan untuk berbagai tujuan, dan melandasi banyak perspektif ilmu sosial. Kompleksitas waktu tetap bertahan meskipun pandangan dominan masyarakat tentang waktu berkisar di antara jam, kalender dan peringatan keagamaan atau berbagai sumber lain untuk mengurut kehidupan sosial.

Advertisement

Waktu terbentuk dari kejadian yang tidak dapat diulang. Kita memahami lintasan waktu melalui perbedaan antara masa lalu, masa kini. dan masa depan, melalui pembusukan dari bahan organis, pertumbuhan dan penuaan dari sahabat-sahabat kita, melalui kehidupan dan kematian. Ilmuwan sosial memiliki dua alat utama untuk menghadapi temporalitas seperti itu. Mereka bisa membuat peta waktu secara obyektif dengan sebuah landasan sebelum-dan-sesudah serta melokalisasikannya secara historis dengan acuan kalender atau jam. Ini adalah pendekatan yang dominan dari ilmu sosial terhadap temporalitas, yang digunakan dalam riset empiris, kejadian-kejadian historis, dan dalam perspektif Marxis maupun fungsionalis. Secara alternatif, ilmuwan bisa menggunakan penempatan subyektif dari saat sekarang (now/the present), kemarin, atau esok yang selalu spesifik-person kejadian dan memiliki perbatasan yang luwes. Pendekatan konstitutif atau interpretatif ini cenderung menekankan momen kreatif, fakta bahwa saat ini selalu lebih penting daripada waktu-waktu yang lalu, bahwa waktu adalah rentetan kejadian (constitutive of events).

Meskipun hampir semua kebudayaan yang kita kenal selalu mengakui perubahan dan perhitungan waktu, tidak semua kebudayaan menciptakan waktu yang dapat dihitung dan dapat dipergunakan sebagai sumber daya maupun media dari pertukaran. Di negara-negara industri maupun yang sedang membangun, pada umumnya waktu melandasi interaksi sosial dan pada khususnya hubungan pekerja. Sebagai alat pertukaran yang abstrak waktu dapat dijual, dialokasikan, dan dikuasai. Dengan demikian ‘clock time’ tidak bisa dilepaskan dari hubungannya dengan kekuasaan dan memiliki nilai penting tidak hanya bagi para majikan dan pekerja, tetapi juga bagi anggota masyarakat yang waktunya tidak dipertukarkan dengan uang, seperti mereka yang merawat anggota keluarganya di rumah. Orang-orang yang waktunya tidak dapat diperhitungkan dan diubah menjadi uang hidup di bawah bayang-bayang hubungan ekonomi ‘clock time, dan dengan serta merta dikeluarkan dari keuntungan-keuntungan serta sangat bergantung pada kekuasaan.

Advertisement