Advertisement

Memahami nilai akan lebih jelas apabila dilanjutkan dengan mempelajari tentang watak nilai. Dengan memahami watak nilai atau etos nilai, diharapkan seseorang akan mengetahui sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini, dan mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk menjadi manusia dalam arti sepenuhnya. Hal lain ialah bahwa nilai itu sendiri mempunyai dasar pembenaran atau sumber pandangan dari berbagai hal seperti metafisika, teologi, etika, estetika, dan logika. Atas dasar ini, periu dipelajari watak nilai filosofis. Pembicaraan mengenai watak nilai ini mencakup pertimbangan-pertimbangan nilai, pembenaran nilai, pilihan nilai, dan konflik nilai (Harold, Marilyn, dan Richard, 1979).

Mempertimbangkan nilai adalah kebiasaan sehari-hari bagi kebanyakan orang, serta dilakukan secara terus-menerus. Mempertimbangkan untuk mengadakan pilihan tentang nilai adalah suatu keharusan. Dalam kehidupannya manusia terpaksa mengadakan pilihan, mengukur benda dari segi yang lebih baik atau yang lebih jelek, dan memberikan formulasi tentang ukuran nilai. Setiap individu mempunyai perasaan tentang nilai, dan tak pernah ada suatu masyarakat tanpa sistem nilai. Jika seseorang tidak melakukan pilihannya tentang nilai, maka orang lain atau kekuatan luar akan menetapkan pilihan nilai untuk dirinya, dan ini berarti penetapannya. Letak persoalannya bukan pada periu atau tidaknya seseorang mempunyai ukuran, keyakinan, kesetiaan, atau idealisme, yang atas dasardasarnya seseorang mengatur kehidupan, melainkan persoalannya ialah apakah ukuran-ukuran, keyakinan, kesetiaan, atau idealisme tersebut harus konsisten atau tidak konsisten, harus mengembangkan kehidupan atau merusaknya. Menganggap sepi peran nilai berarti mempunyai gambaran yang keliru dari suatu segi tentang manusia dan alam.

Advertisement

Bidang yang berhubungan dengan nilai adalah etika (penyelidikan nilai dalam tingkah laku manusia) dan estitika (penyelidikan tentang nilai dalam seni). Nilai dalam masyarakat tercakup dalam adat kebiasaan dan tradisi, yang secara tidak sadar diterima dan dilaksanakan oleh anggota masyarakat. Di dalam masyarakat yang secara cepat mengalami perubahan, nilai menjadi bahan pertentangan.

Masalah konflik nilai dewasa ini cukup serius. Hal ini di antaranya disebabkan oleh adanya krisis otoritas, yaitu pusat otoritas dan dasar otoritasnya yang tidak tetap sehingga putusan-putusannya tidak dapat dipercaya. Persoalannya bukan hanya sekadar tidak percaya kepada yang berkuasa, melainkan yang lebih berbahaya adalah orang tidak lagi dapat mempercayai sesuatu apa pun (Abraham Kaplan, 1977; Sissela Bok, 1978).

Pertimbangan nilai berbeda dengan pertimbangan fakta. Pertimbangan fakta hanyalah merupakan pernyataan deskriptif tentang kualitas empiris atau hubungan. Tetapi fakta dapat menentukan pertimbangan nilai. Suatu contoh yang baik tentang penilaian terhadap Inggris:

  1. Menurut Shakespeare dalam buku Richard II dikatakan: “Singgasana raja itu, pula tongkat raja ini, dan tempat yang mendapat berkat ini, bumi ini, Kerajaan Inggris ini.”
  2. Menurut Lissaver, dalam “Song of Hate” (lagu kebencian) yang muncul di Jerman pada masa Perang Dunia Kedua dan mencakup barisberbaris: “Kita hanya mempunyai satu kebencian, kita hanya mempuyai satu musuh, Inggris.”

Kedua kutipan ini ada perbedaannya, yaitu pertentangan nilai yang positif dan yang negatif. Sama halnya dengan kasus seperti dulu disebat sebagai “Penggali Pancasila”, tetapi kemudian dinamakan sebagai “Pengubur Pancasila”. Dari contoh ini dapat dikatakan bahwa pertimbangan nilai adalah pertimbangan tentang penghargaan. Kemudian, jika fakta-fakta atau keadaan berubah, maka penilaian pun akan berubah. Ini semua berarti bahwa pertimbangan nilai bergantung pada fakta.

Pertimbangan nilai dalam prakteknya mungkin bersifat subjektif atau objektif. Pertimbangan nilai yang bersifat subjektif dianggap sebagai ekspresi perasaan atau keinginan seseorang. Sebagai contoh, suatu nilai subjektif pernah dinamakan emosi atau rasa cocok atau tidak cocok, kepuasan hajat atau keinginan mamisia. Sebagaimana halnya dalam makan, minum, melihat bulan, melihat matahari saat terbenam atau saat terbit di pantai, semua itu bernilai membangkitkan rasa senang dan pengalaman yang menyenangkan. Nilai subjektif ini berperan dalam menimbulkan kebaikan dan permohonan terhadap kebaikan.

Nilai subjektif terdapat dalam alam yang dalam, alamnya akal, dan bergantung pada hubungan antara seorang penganut dengan hal yang dinilainya.

Pertimbangan nilai yang bersifat objektif beranggapan bahwa nilainilai itu terdapat di dunia kita ini, dan harus kita gali. Dikatakan objektif, sebab pada nilai itu terdapat hierarki nilai, sampai pada nilai yang baik atau tertinggi yang menentukan penataan dunia. Nilai objektif adalah nilainilai fundamental yang mencerminkan universalitas kondisi fisik, psikologi sosial, keperluan manusia di mana saja.

Pilihan nilai adalah mutlak perlu, sebab terdapat kelompok-kelompok nilai tertentu seperti agama, moral, estetika, intelek, ilmu, ekonomi, dan sebagainya. Sementara tidak ada kesepakatan mengenai jumlah nilai tersebut, wataknya, hubungannya antara yang satu dengan yang lainnya, derajat masing-masing, dan prinsip-prinsip yang harus kita pakai untuk mengadakan pilihan. Keputusan untuk memilih nilai ini dipengaruhi oleh bermacam-macam warisan nilai-nilai tradisional. Dari masa ke masa.selalu muncul nilai-nilai baru yang mempunyai pengaruh besar sehingga kita terpaksa mengadakan pilihan tentang nilai.

Incoming search terms:

  • watak nilai
  • Nilai watak
  • pengertian nilai watak
  • pengertian watak
  • contoh nilai watak
  • nnilai nilai perwatakan pengertian
  • materi watak
  • watak nilai adalah
  • nila watak
  • nilai watak adalah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • watak nilai
  • Nilai watak
  • pengertian nilai watak
  • pengertian watak
  • contoh nilai watak
  • nnilai nilai perwatakan pengertian
  • materi watak
  • watak nilai adalah
  • nila watak
  • nilai watak adalah