PENJELASAN MENGENAI PENGHINDARAN PERBUATAN SUMBANG ADALAH – Meskipun banyak teori mengenai penghindaran perbuatan sumbang telah dikemukakan, sesungguhrtya semua itu termasuk dalam salah satu dari dua tipe dasar teori sosial-budaya dan teori biologi. Penjelasan sosial-budaya yang terkenal telah dikemukakan oleh Malinowski (1972), Parsons (1954), dan Levi-Strauss (1969). Malinowski menandaskan bahwa hubungan-hubtmgan seks di kalangan anggota-anggota keluarga batih akan membuat keluarga batih itu sebagai kawan kecemburuan dan konflik yang mendidih, sehingga akan mengancam untuk menghancurkan organisasi dasarnya. Karena itu perbuatan sumbang dilarang agar dapat memelihara kesatuan dan integritas keluarga batih itu sebagai suatu unit sosial yang mendasar. Argumen yang sama juga dikemukakan oleh Parsons. Ditandaskannya bahwa perbuatan sumbang akan mengganggu kestabilan keluarga batihkarena menj urus kepada kacaunya peranan dan timbulnya kesulitan-kesulitan dalam mensosialisasikan anak-anak. Salah satu dari semua teori yang terkenal itu ialah yang dikembangkan oleh Claude Levi-Strauss. Argumen Levi-Strauss ialah bahwa adanya tabu perbuatan sumbang menandai berlalunya umat ma.nusia dari keadaan alamiah ke keadaan berkebudayaan. Dengan dilarangnya hubungan seks danperkawimm di antara kerabat dekat, masyarakat manusia memaksakan orang untuk mencari pasangan di luar keluarga sendiri. Hal ini selanjutnya akan menjurus kepad.a terbentuknya ikatan-ikatan atau di antara berbagai kelompok manusia, sehingga memungkinkan orang-orang itu hidup damai antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana dikomentarl oleh van den Berghe (1980), teori tidak terlalu salab meskipun tempatnya yang salah, karena sesunggulmya teori itu adalah teori eksogami dan bukan teoripenghindaran perbuatan sumbang (walaupun Levi-Strauss tidak membuat pembedaan yang nyata di antara kedua-duanya).

Teori-teori biologis tentang perbuatan sumbang sering mengambil titik tolak ialah kepercayaan bahwa perkawinan sumbang akan menjurus kepada lahirnya sejumlah besar anak yang cacat secara genetik yang tak dapat diterima. Teori ini kadang-kadang menyatakan bahwa tingginya frekuensi kawin di kalangan sendiri pada manusia pada akhimya akan menjurus kepada kemusnahan manusia melalui pertambahan sejumlah besar cacat genetik. Bukti telah terkumpul untuk menunjukkan bahwa sis tem perkawinan seperti ini memang tidak menjurus kepada dihasilkannya sejumlah besar cacat genetik bila dibandingkan dengan yang terjadi karena perkawinan individu yang tidak bertalian secara genetik (Shepher, 1983). Akan tetapi, seperti diperlihatkan oleh Frank Livingstone (1969), ini tidak perlu menghasilkan konsekuensi genetik jangka panjang yang merusak terhadap populasi manusia. Populasi dapat saja banyak yang kawin masuk untuk jangka waktu yang panjang dan tetap terus hidup dengan cukup baik. Jadi, berdasarkan kenyataan-kenyataan itu adalah sulit untuk menandaskan bahwa penghindaran perbuatan sumbang adalah suatu mekanisme survival yang berkembang secara biologis dalam species manusia. Namun demikian, karena kawin ke luar kelompok (out breeding) dapat meningkatkan heterozigositas (yakni, variabilitas genetik), maka kawin ke luar dapat saja mempunyai arti adaptif secara biologis, dan karena itu dapat dimasukkan ke dalani kerangka biologi manusia (van den Berghe, 1979; Shepher, 1983).

Suatu teori biologis tentang penghindaran perbuatan sumbang telah dihasilkart dalam akhir abad xix oleh Edward Westermarck (1891). Teori Westermarck itu dapat disebut teorifamilinrity breeds indifference tentang peng-hindaran perbuatan sumbang. Westermarck menandaskan bahwa sikap tidak berminat seksual alamiah timbul di antara individu-individu yang diasuh bersama-sama dalam inasa dini kehidupannya. Ia percaya bahwa orang-orang yang diasuh bersama-sama selama masa kanak-kanak tidak berminat dalam hubungan-hubungan seksual antara yang satu dengan yang lainnya. Sikap tidak berminat demikian tidak dipandEmg bergantung pada pertalian ge-netik individu-individu yang bersangkutan. Orang-orang yang bertalian secara genetik yang dipelihara bersama-sama akan mengembangkan ketidakpedulian ini, sementara saudara laki-laki dan saudara perempuan yang dipelihara secara terpisah tidak akan mengembangkan perasaart ketidakpedulian seksual.

Meskipun teori Wes termarck telah dikritik selama berpuluh-puluh tahun, tetapi sekarang ini muncul kembali setelah ditemukannya data yang sangat menarik. Salah satu sumber informasi berasal dari studi Joseph Shepher (1971) tentang pola-pola perkawinan d.alam sebuah kibbu tz orang-orang Israel. Dalam menganalisis 2769 perkawimm di antara anggota-anggota kibbutz, Shepher menemukan hanya 14 perkawinan terjadi di antara anak-anak yang diasuh bersama. Remaja-remaja kibbutz itumemperlihatkan suatu kecondonga.n untuk kawin ke luar kelompok masa kanak-kanak mereka sendiri. Hal ini terjadi meskipun terdapat kenyataan bahwa tidak terdapat norma yang menentang perkawinan dengan teman-teman pada masa kanak-kanak; sesungguhrtya para remaja itu didorong untuk kawin dengan mereka yang telah berkawan dengan erat. Ketika Shepher bertanya kepada para pemuda kibbutz itu menga-pa mereka tidak kawin dengan teman-teman masa kanak-kanak mereka, di-jawab dertgan pernyataan “kami merasa diri sebagai saudara sekandung” atau “kami tidak saling tertarik”. Jadi pola-pola perkawinan kibbutz itu agaknya mendukung dengan kuat berlakunya “prinsip Westermarck”. Sumber data lainnya yan-g konsisten dengan teori Westermarck berasal dari penyelidikan Arthur Wolf (1970) tentang praktek-praktek perkawinan orang Taiwan. Wolf menemukan adanya pada masa akhir-akhir ini dua pola perkawinan yang utama di Taiwan: “perkawinan mayor” (lnajor marriages) dan “perkawinan minor” (minor marri(lges). Dalam perkawinan mayor, mempelai pria dan wanita adalah individu-individu yang semasa kanak-kanak tidak saling mengenal; sering malah pasangan itu belum pernah bertemu sebelum hari perkawinan. Dalam perkawinan minor (yang secara lokal dikenal sebagai perkawinan sim-pua), pengantin wanita telah diangkat ke dalam rumah tangga suaminya sebagai bayi atau anak perempuan dan dibesarkan bersama dengan calon suaminya. Jadi, dalam perkawinan minor pengantin wanita dan pengantin pria adalah orang-orang yang dibesarkan bersama bagaikan saudara pria dan wanita sejak bayi atau masa kanak-kanak. Berdasarkan teori Westermarck, maka Wolf menduga bahwa orang-orang yang kawin menurut cara sim-pua akan memperlihatkan tingkat kepuasan kawin yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang-orang yang kawin menurut cara mayor, inilah yang ditemukannya. Datanya memperlihatkan hal-hal sebagai berikut: (1) 24 persen dari perkawinan minor berakhir dengan perceraian atau pisah, dibandingkan dengan hanya 1 persen dari perkawinan mayor; (2) 33 persen dari wanita yang termasuk dalam perkawinan minor terlibat dalam perzinahztn, dibandingkan dengan hanya 11 persen kaum wanita dalam perkawirtan maybr; (3) perkawinan minor melahirkan anak yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan perkawinan mayor, yang secara kuat menunjukkan bahwa hubtmgan seks sangat kurang dalam perkawinan minor. Suatu situasi yang sama telah dijumpai di Libanon (McCabe, 1983). Dalam beberapa kelompok orang Libanon suatu bentuk perkawinan yang melibatkan saudara sepupu yang erat berteman semasa kanak-kanak adalah umum. Perkawinan di antara sepupu itu menjurus kepada tidak adanya perhatian hubungan seks sama seperti yang ditemukan Wolf dalam perkawinan sim-pua orang-orang Taiwan. Dibandingkan dengan bentuk perkawinan lainnya lebih dari empat kali lipat perkawinan antara sepupu itu berakhir dengan perceraian, dan perkawinan antara sepupu itu menghasilkan 23 persen lebih sedikit anak bila dibandingkan dengan bentuk perkawinan lainnya.

Apabila semua bukti itu ikut dipertimbangkan, maka interpretasi biologis mengenai penghindaran kawin sumbang agaknya paling dapat diterima. Dalam hubungan dengan interpretasi sosial-budaya tentang penghindaran kawin sumbang, tidak terdapat bukti yang dapat dipercayai yang menunjukkan bahwa kegiatan yang bersifat sumbang itu harus menjurus kepada hancurnya keluarga batih. Agaknya sangat tidak mungkin bahwa anggota-anggota keluarga batih tidak saling berhubungan seks karena mereka melihat bahwa hal itu akan menghancurkan satuan keluarga mereka; lebih mungkin, mereka tidak saling melakukan hubungan seks adalah karena mere-ka tidak menghendakinya. Data yang terkumpul yang mendukung teori Westermarck agaknya sangat mengesankan. Karena itu sangat sulit untuk menolak ide bahwa penghindaran kawin sumbang adalah suatu bagian program biologis kita yang mendasar. Penghindaran kawin sumbang mungkin timbul dalam evolusi biologis sebagai suatu mekanisme untuk mempertahankan heterozigositas sehingga memperbesar kapasitas adaptifnya. Interpretasi illi diperkuat oleh kenyataan bahwa penghindaran kawin sumbang ternyata tersebar luas di kalangan hewan, dan dengan demikian bagi mereka mempunyai arti penting adaptif secara biologis (Parker, 1976, Bischof, 1975). Kritik-kritik dari garis penalaran di atas — mereka yang masih menyu-kai interpretasi sosial-budaya tentang penghindaran kawin sumbang — pasti ingin menandaskan bahwa pada saat ini ada bentuk-bentuk kawin sumbang yang dilembagakan di kerajaan-kerajaan. Mereka akan mengatakan, bagaimana praktek-praktek kawin sumbang itu dapat ada jika kita secara biologis telah diprogramkan untuk menghindari kawin sumbang sama sekali? Ada dua bagian untuk menjawab pertanyaan il1i. Pertama ialah bahwa penghindaran kawin sumbang jelas merupakan suatu tendensi biologis yang digeneralisasikan, bukan suatu naluri yang tetap dan tidak berubah. Bagian kedua ialah bahwa ada sejumlah kejadian perilaku inzmusia yang menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menolak apa yang merupakan suatu tendensi alamiah untuk dilakukan. (Secara alamiah kita dilengkapi dengan dorongan seks, misalnya, narmm ada banyak perintah keagamaan agar tetap membujang). Kita hendaknya memandang incest kerajaan sebagai suatu praktek kebudayaan yang sangat khusus yang mempunyai kemampuan untuk menolak kecen-dertmgan-kecenderungan alamiah guna keperluan-keperluart khusus. Jika saudara laki-laki dan wanita yang saling kawin menurut sistem demikian itu telah dipisahkan sejak masa kanak-kanak, maka tidak akan ada masalah mengenai saling ketidakpedulian mereka; dalam kondisi-kondisi demikian, kebudayaan dapat menolak biologi tanpa kesulitan. Tetapi mengapa kawin sumbang kerajaan itu sendiri berkembang? Hal ini mungkin timbul di kalangan kelas-kelas penguasa yang melakukan perkawinan demikian sebagai suatu mekanisme untuk mempertahankan kekayaan dan kekuasaan agar tidak ke luar dari lingkaran anggota -anggota kerabat penguasa tersebut.

Filed under : Bikers Pintar,