Advertisement

1. Aristoteles menerangkan alasan mengapa Anaximandros menunjukkan apeiron itu sebagai prinsip fundamental. Andaikata prinsip itu sama saja dengan salah satu anasir seperti air pada gurunya Thales — air itu meresapi segala-galanya. Dengan kata lain, air itu tak berhingga. Tetapi jika demikian, tidak ada tempat lagi untuk anasir yang berlawanan dengannya: air sebagai anasir basah akan meniadakan api yang merupakan anasir kering. Dari sebab itu Anaximandros tidak puas dengan menunjukkan salah satu anasir sebagai prinsip terakhir, melainkan ia mencari sesuatu yang lebih mendalam, yang tidak dapat diamati oleh pancaindera.

2. Bagaimana dunia timbul dari prinsip yang tak tebatas itu? Karena suatu penceraian (ekkrisis), dari apeiron itu dilepaskan unsur-unsur yang berlawanan (la enantia): yang panas dan yang dingin, yang kering dan yang basah. Unsur-unsur itu selalu berperang satu dengan yang lain. Musim panas, misalnya, selalu mengalahkan musim dingin dan sebaliknya. Tetapi bilamana satu unsur dominan, karena keadaan ini dirasakan tidak adil (adikia), keseimbangan neraca harus dipulihkan kembali. Jadi, ada satu hukum yang menguasai unsur-unsur dunia, dan hukum itu dengan suatu nama etis disebut keadilan (dike).

Advertisement

Advertisement