PENOLAKAN TERHADAP PERUBAHAN TERENCANA DI KALANGAN PENDUDUK SASARAN

55 views

Meskipun penduduk sasaran sadar akan kemungkinan manfaat yang diakibatkan oleh perubahan yang diusulkan, namun tidak selalu mudah untuk mengajak mereka menerima sesuatu unsur baru atau inovasi ataupun mengubah cara-cara mereka yang lama. Dan suatu inovasi yang ditolak oleh penduduk sasaran, pastilah akan sia-sia. Karena sebab-sebab inilah maka sering kali sukar untuk memperkirakan kegagalan maupun sukses suatu proyek perubahan yang direncanakan. Tujuan dari perubahan kebudayaan yang terencana ganda sifatnya, yaitu hampir selalu meliputi baik perubahan lingkungan fisik kehidupan manusia, maupun perubahan perilaku manusianya. Perubahan pada lingkungan hidup manusia yang berupa penataan ataupun bangunan-bangunan, sering dipandang sebagai inti dari usaha modernisasi dan pembangunan nasional, sehingga bila sasaran pembangunan sarana fisik ini tercapai, lalu sering diartikan proyek pembangunan itu telah berhasil. Padahal, apabila perubahan perilaku manusianya tidak menyertai perubahan lingkungan itu sebagaimana mestinya, maka manfaat dari proyek itu perlu diragukan.

Dengan kata lain, apabila tujuan suatu proyek adalah penyediaan fasilitas-fasilitas kehidupan yang baru, sekedar pengadaan bangunan fisik bagi fasilitas itu belumlah cukup untuk mengatakan proyek itu berhasil. Supaya proyek itu sungguh-sungguh bisa dikatakan berhasil, fasilitas-fasilitas yang baru itu haruslah benar-benar digunakan oleh rakyat untuk siapa proyeknya diadakan. Begitu pula, apabila suatu proyek bertujuan memperkenalkan penemuan baru dalam pertanian, misalnya jenis tanaman yang hasilnya lebih besar, maka, setelah berkenalan dengan tanaman jenis baru itu, penduduk setempat juga akan terus menanam tanaman baru tersebut, supaya proyek itu dapat dinyatakan berhasil. Umpamanya, setelah beberapa tahun menanam sejenis jagung hasil campuran baru, yang unggul sifatnya dan yang telah diperkenalkan oleh para penyuluh pertanian, tiba-tiba para petani Spanyol Amerika di Arizona itu menolaknya, lalu mereka kembali menanam jenis tanaman yang lama. Para pelaksana proyek akhirnya mengetahui kegagalan proyeknya, setelah ia menanyakan kepada para petani dan mereka menerangkan bahwa isteri mereka menganggap jagung yang baru itu terlalu keras waktu digiling untuk dijadikan masakan tradisional mereka tortilla. Lagipula mereka lebih menyukai rasa jenis jagung yang lama.

Penolakan masyarakat terhadap perubahan kebudayaan terencana itu, sering kali didasarkan pada faktor-faktor yang oleh para pelaksana proyek itu jarang sekali diperhitungkan. Misalnya, penduduk sasaran tidak memahami arti dari bermacam-macam lambang yang digunakan untuk melukiskan inovasi itu. Bagi pengurus proyek lambang-lambang itu jelas sekali maksudnya namun mungkin saja diartikan lain oleh warga masyarakat lain. Dalam banyak program bantuan luar negeri yang diberi oleh pemerintah Amerika Serikat misalnya, lambang pasangan tangan yang berjabatan dilukiskan di kendaraan-kendaraan truk, di dinding-dinding, dan di tempat-tempat yang jelas bisa kelihatan oleh banyak orang, dan maksudnya adalah memperlihatkan bahwa tujuan mereka dalam berbagai proyek di daerah-daerah itu bersifat bersahabat. Rupanya tidak terlintas pada pikiran para pencipta lambang- lambang itu, bahwa lambang-lambang yang mereka buat itu dapat diartikan lain. Ternyata di beberapa daerah tertentu lambang-lambang itu diartikan sebagai bukti bahwa orang-orang Amerika pergi ke mana-mana hanyalah karena ingin menarik penduduk pribumi untuk dijadikan budak di negerinya (buktinya mereka lihat dari kedua belah tangan yang saling berjabatan dari arah yang berlawanan). Bagi masyarakat setempat di Muangthai, lambang tersebut dihubungkan dengan dunia gaib, karena dua tangan tanpa adanya badan manusia tidak mungkin terdapat dalam dunia nyata.

Contoh lain dari lambang-lambang yang salah penafsirannva terdapat di Rodesia. Di negeri itu para petugas kesehatan bangsa Eropa ingin menekankan kepada penduduk akan besarnya bahaya yang terkandung dalam penyakit paru-paru atau tuberculosis, penyakit yang mulai meluas di daerah tersebut. Da’am usaha pemberantasan itu, mereka membagi-bagikan poster yang menggambarkan penyakit paru-paru sebagai seekor buaya yang sangat berbahaya. Harapan supaya penduduk menghubungkan penyakit paru-paru (yang oleh penduduk settmpat tidak dipandang sebagai penyakit) dengan buaya (yang dipandang sebagai musuh paling besar) tidak mudah memenuhi apa vang direncanakan. Penduduk di situ bukannya menjadi insaf mengenai bahaya penyakit tersebut sehingga berusaha memberantasnya dengan ikut serta dalam program kesehatan yang dilancaikan oleh orang kulit putih. Penduduk malahan mengira bahwa buaya-buaya itulah merupakan penyebab penyakit itu dan oleh sebah itu mereka jadi semakin takut lagi terhadap buaya, tetapi ini sama sekali tak menggerakkan mereka untuk mengunjungi klinik-klinik kesehatan.

Persoalan-persoalan yang berhubungan dengan perbedaan persepsi mengenai lambang-lambang tidak hanya terbatas pada daerah-daerah di mana tingkat teknologi masih rendah dan di mana bahasa dan adat-istiadat penduduk berbeda sekali dari penguasa yang melancarkan program. Kesulitan yang serupa telah dilaporkan juga oleh suatu perusahaan dagang Inggris beberapa tahun yang lalu. Perusahaan Inggris itu ingin mengiklankan salah satu hasil produksi makanannya sebagai makanan yang disukai orang, baik dari kalangan masyarakat lapisan atas, maupun oleh kalangan buruh. (Rupanya dirasakan, bahwa bila kesan ini dapat disampaikan pada kalangan buruh Inggris, maka tentu akan lebih berminat membeli barang tersebut, dalam rangka usahanya menyamai golongan masyarakat yang lebih tinggi). Maka untuk menunjukkan bahwa makanan itu digemari oleh keluarga masyarakat lapisan atas, perusahaan itu menyebarkan iklan yang memperlihatkan sebuah meja dengan hidangan makanan itu. dan di atas meja itu terpasang lilin yang menyala, dimaksudkan sebagai tanda bahwa meja itu terdapat di rumah keluarga terhormat. Akan tetapi, bagi masyarakat golongan buruh di wilayah barat laut Inggris, iklan itu memberikan kesan yang justru sebaliknya. Dalam pandangan mereka lilin itu memang berfungsi sebagai lampu untuk keluarga yang bersangkutan, jadi jelas itu adalah keluarga buruh seperti mereka yang aliran gasnya telah diputuskan karena pembayaran rekening ditunggak, kejadian yang memang biasa mereka alami.

Bahkan dalam kasus tertentu di mana salah tafsiran mengenai suatu simbol atau lambang tidak bersifat menentukan, tetap ada faktor-faktor lain yang dapat merupakan penghalang bagi perubahan kebudayaan terencana. Faktor-faktor demikian secara kasar dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu halangan budaya, halangan sosial dan halangan di bidang psikologi. Akan tetapi, kategori-kategori ini kadang-kadang kelihatan seolah-olah tumpang tindih. Halangan budaya adalah berkaitan dengan perilaku, sikap dan kepercayaan yang dimiliki bersama dalam masyarakat, yang cenderung menjadi halangan terhadap penerimaan suatu hal baru. Mengenai kebiasaan memberi hadiah, misalnya, mungkin dalam berbagai masyarakat terdapat pandangan yang berbeda-beda pula. Dalam beberapa masyarakat, khususnya kelompok masyarakat komersial, barang-barang yang diterima tanpa bayaran, sering dianggap sebagai tak ada harganya. Waktu pemerintah republik Kolumbia melaksanakan suatu program penyebaran bibit pohon buah-buahan secara gratis kepada para petani Kolumbia, dengan maksud peningkatan hasil produksi buah negeri itu, boleh dikatakan bibit pohon-pohon itu sama sekali tak diacuhkan dan sebagian besar mati karena tidak dirawat. Akan tetapi, waktu menyadari bahwa program itu kelihatan gagal, pemerintah mulai memungut sekedar bayaran untuk tiap pohon bibit yang diserahkan pada para petani. Dan tak lama kemudian bibit-bibit tersebut sangat dicari, sedangkan produksi buah meningkat.  Permintaan petani akan pohon bibit itu mungkin meningkat karena mereka diwajibkan memberikan pembayaran dan oleh karena itu bibit tersebut jadi berharga bagi mereka; atau, mungkin juga permintaan meningkat itu diakibatkan sebagai reaksi atas kondisi-kondisi baru lain yang tidak kita ketahui, seperti meningkatnya permintaan dalam pasaran buah-buahan. Unsur-unsur kepercayaan juga dapat menghalangi penerimaan perubahan terencana. Demikianlah, pada tahun 1940, pekerja-pekerja kesehatan dihadapkan pada halangan-halangan agama dalam usaha pemberantasan suatu epidemi penyakit TBC paru-paru yang berjangkit di kalangan suatu suku kaum Zulu di Afrika Selatan. Orang-orang Zulu ini telah menjadi semakin mudah dihinggapi oleh penyakit ini karena kekurangan gizi dan keadaan kesehatan jelek yang memang terdapat pada umumnya. Pengobatan sulit sekali dilaksanakan sekalipun telah banyak terjadi perubahan dalam struktur keluarga kaum Zulu, cara berpakaian dan sebagainya, disebabkan oleh kontak dengan kebudayaan dunia Barat, namun mereka tetap percaya bahwa “semua gejala alam, seperti kegagalan panen, petir dan badai, dan juga penyakit-penyakit yang menghinggapi makhluk hidup, disebabkan oleh perbuatan-perbuatan dukun dan guna-guna”. Waktu dokter-dokter bangsa asing menganjurkan agar seorang gadis, yang kena penyakit ini, dirawat dan tinggal di rumah sakit, ayah gadis bersangkutan menolak, karena kalau ia menyetujui tindakan itu, berarti ada pengakuan bahwa anaknya itu dapat menyebar penyakit dan oleh karena itu melakukan guna-guna.

Halangan-halangan sosial terhadap perubahan terencana mungkin timbul bila pola-pola tradisional mengenai hubungan antarindividu atau pranata-pranata sosial tradisional bertentangan dengan inovasi yang hendak diterapkan itu. Struktur kewibawaan dalam keluarga, misalnya, kadang-kadang merupakan faktor penghalang penerimaan suatu program terencana mengenai perubahan. Di banyak negeri di dunia ini, seperti misalnya Korea, Meksiko, demikian pun di kalangan bangsa Indian Navajo, seseorang tak dapat dimasukkan ke rumah sakit untuk dirawat atau menjalani pengobatan secara luas, jika hanya ia sendiri yang mengajukan permintaan untuk hal demikian. Seluruh keluarga, dan ini sering mencakup banyak sekali orang, harus memberi persetujuan, sekalipun keadaan si penderita bersangkutan gawat. Jelas sekali, proses demikian sering memerlukan banyak waktu dan kadang-kadang si penderita yang secara fisik tak kuat lagi meninggal karena penundaan perawatan. Jika perubahan terencana hendak dilaksanakan dalam masyarakat tertentu, penerimaan mungkin juga tergantung dari faktor-faktor psikologi, yaitu bagaimana pandangan individu terhadap hal baru bersangkutan. Suatu halangan psikologi menyebabkan ibu-ibu petani di Venezuela menolak susu bubuk untuk anak-anak mereka.

Walaupun para pegawai pemerintah membagikan susu itu di klinik-klinik daerah pedesaan secara cuma-cuma, banyak ibu yang tidak bersedia memberi susu itu pada anak-anak mereka. Ada penghalang psikologis terhadap penerimaan susu itu, karena ibu-ibu memandang susu bubuk sebagai ancaman terhadap peranan mereka sebagai ibu. Banyak yang menganggap dilancarkannya proyek itu sebagai usaha yang sengaja menonjolkan bahwa susu ibu tidak lagi cukup bermutu untuk anak-anak. Reaksi seseorang secara psikologi terhadap suatu hal baru tentu dipengaruhi oleh cara hal itu disampaikan padanya. Dalam beberapa keadaan seorang perencana tidak mungkin tahu dengan pasti 6ahwa orang-orang yang bekerja sama dengannya sungguh-sungguh memahami hakekat ataupun kegunaan dari perubahan yang hendak dicapainya. Contoh-contoh yang umum mengenai juru penerang yang mengira bahwa ia telah menyampaikan dengan sejelas-jelasnya seluruh detil suatu proses kepada rakyat yang dilayaninya, sedangkan tidak demikian halnya, adalah dalam soal keluarga berencana dan petunjuk-petunjuk medis. Contoh khas adalah, juru rawat klinik, atau pekerja lapangan jenis lain, misalnya menerangkan kepada seorang ibu agar memberikan obat sekali tiga jam kepada bayinya. Ibu itu kelihatannya mungkin seperti telah mengerti, tetapi kemudian juru rawat itu mengetahui, bahwa ibu itu memberikan obat kepada bayinya setiap jam selama tiga jam berturut-turut, atau pada waktu-waktu yang tidak tertentu. Sebabnya ialah karena ibu itu tidak memiliki jam dan dalam hidupnya konsep waktu seperti “sekali tiga jam” adalah asing. Tentu, kesulitan dalam komunikasi yang pincang ini mungkin hanya disebabkan, karena juru rawat itu tidak menginsafi bahwa dia dan ibu itu berkomunikasi dalam bahasa atau dialek yang berbeda, dan oleh karena itu dia harus berusaha untuk menerjemahkannya dari satu bahasa ke dalam bahasa lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *