Advertisement

Sekarang tiba saatnya untuk mempertimbangkan dampak sikap pada perilaku Pada mulanya secara sederhana diasumsikan bahwa sikap seseorang menentukan perilakunya. Orang yang mendukung politikus tertentu mungkin akan memberikan suaranya bagi politikus itu; jika dia menyukai mariyuana, mungkin dia akan mengisapnya; jika dia mempunyai distorsi terhadap orang kulit hitam, dia tidak mungkin mengirimkan anaknya ke sekolah orang-orang kulit hitam. Sejumlah minat dalam perubahan sikap, yang akan kita bahas dalam bab berikutnya, muncul dari asumsi bahwa sikap mempengaruhi perilaku. Tetapi kita mengetahui banyak kejadian di mana perilaku tidak didasarkan pada sikap. Beberapa kali Anda melihat seseorang tersenyum dan mengatakan betapa senangnya dia bertemu dengan seseorang pada saat anda mengetahui bahwa dia jemu atau benci pada orang itu? Rekaman Watergate mengungkapkan sejauh mana perilaku umum Presiden Nixon berbeda dengan sikap pribadinya. Apakah kenyataannya sikap mengendalikan perilaku?

Derajad pengaruh sikap terhadap perilaku menjadi salah satu perdebatan penting dalam sejarah penelitian sikap. Dalam suatu studi klasik, LaPiere (1934), profesor kulit putih, mengelilingi Amerika dengan seorang murid muda Cina dan istrinya. Mereka beristirahat di 66 hotel atau motel dan di 184 restoran. Meskipun pada saat itu di Amerika Serikat terdapat prasangka yang cukup kuat terhadap orang Timur, semua kecuali satu hotel dan motel memberi mereka tempat dan pemilik restoran tidak pernah menolak melayani. Beberapa waktu kemudian, sebuah surat dikirimkan pada motel dan restoran yang sama, menanyakan apakah mereka akan menerima orang Cina sebagai tamu. Dari 128 jawaban, 92 persen mengatakan mereka tidak akan menerimanya. Dengan kata lain, pasangan Cina itu sendiri diterima dengan pelayanan yang hampir sempurna tetapi terdapat diskriminasi yang hampir universal dalam surat-surat sesudah itu LaPiere, dan beberapa orang setelah dia, menginterpretasikan penemuan ini sebagai ref-leksi ketidakkonsistenan utama antara perilaku dengan sikap. Hampir semua pemilik menunjukkan bertindak dengan cara yang toleran, tapi mereka memperlihatkan sikap yang tidak toleran ketika ditanya melalui surat. Ketidakkonsistenan yang serupa antara sikap verbal yang tidak toleran dan perilaku-toleran yang nampak ditemukan oleh Kutner, Wilkins dan Yarrow (1952). Suatu kelompok yang terdiri dari dua wanita kulit putih dan satu wanita kulit hitam duduk di sebelas restoran yang mereka masuki. Tetapi kemudian mereka menelpon untuk memesan tempat bagi suatu kelompok yang juga terdiri dari orang kulit hitam dan mereka ditolak oleh enam di antara restoran-restoran itu.

Advertisement

Sebagian perdebatan berpusat pada ke khasan penelitian awal ini. Wicker (1969) mengadakan tinjauan yang lebih luas. Dia melakukan penelitian dengan menguji konsistensi sikap dan perilaku dalam masalah hubungan ras, kepuasan kerja, dan menyontek di kelas. Dengan meringkaskan 31 penelitian yang terpisah, Wicker menyimpulkan: “Lebih besar kemungkinan bahwa sikap kurang atau hanya sedikit berhubungan dengan perilaku nyata ketimbang kemungkinan bahwa sikap mempunyai hubungan yang erat dengan tindakan.”

Namun kesimpulan ini mendapat kritik secara luas dan dianggap sebagai kesimpulan yang meremehkan konsistensi sikap-perilaku. Memang, penelitian selanjutnya memperlihatkan tingkat konsistensi yang lebih tinggi ketimbang laporan Wicker. Dalam suatu penelitian, sejumlah sampel yang terdiri dari wanita Taiwan yang sudah menikah ditanya “Apakah Anda menginginkan anak lagi2″. Dalam tiga tahun berikutnya, 64 persen yang menjawab “Ya” telah melahirkant dan hanya 19 persen yang menjawab “Tidak” masih mempunyai anak lagi. Contoh lain berupa voting. Kelley dan Mirer (1974) menganalisis survai berskala besar yang diadakan selama empat kampanye pemilihan presiden Amerika dari tahun 1952 sampai 1964. Sikap partisan pemberi suara seperti yang di ungkapkan dalam wawancara sebelum pemilihan, mempunyai hubungan yang tinggi dengan perilaku voting yang sebenarnya: 85 persen responden memperlihatkan kesesuaian antara sikap dan perilaku, walaupun kenyataannya wawancara itu berlangsung sekitar 2 bulan sebelum hari pemilihan. Selain itu, sebagian besar (84 persen) ketidakkonsistenan terjadi pada orang-orang yang sikapnya hanya memperlihatkan pilihan yang lemah terhadap salah satu calon atau partai.

Penelitian semacam itu mengarah pada tinjauan lanjut yang cermat terhadap kesimpulan berikut: “Sebagian besar penelitian sikap-perilaku memberikan hasil yang positif. Korelasi yang terjadi cukup meluas untuk menunjukkan bahwa paksaan kausal yang penting turut dilibatkan, apa pun proses kausal yang mendasari model seseorang.” Tetapi semua orang mengakui, ada banyak variasi dalam situasi yang berbeda, bagaimanapun konsistennya sikap dan perilaku itu. Dewasa ini, usaha penelitian terutama diarahkan untuk menentukan kondisi-kondisi yang menunjukkan tingkat konsistensi yang lebih besar atau lebih kecil.

Incoming search terms:

  • kepentingan menjaga tingkah laku
  • cara menjaga sikap dan perilaku
  • cara menjaga tingkah laku
  • apakah kepentingan menjaga tingkah laku
  • cara menjaga perilaku
  • cara menjaga sikap
  • menjaga sikap dan perilaku
  • maksud cara mnjaga prilaku
  • cara jaga sikap
  • pentingnya menjaga perilaku

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • kepentingan menjaga tingkah laku
  • cara menjaga sikap dan perilaku
  • cara menjaga tingkah laku
  • apakah kepentingan menjaga tingkah laku
  • cara menjaga perilaku
  • cara menjaga sikap
  • menjaga sikap dan perilaku
  • maksud cara mnjaga prilaku
  • cara jaga sikap
  • pentingnya menjaga perilaku