PENYEBAB DEMENSIA – Demensia umumnya diklasifikasikan menjadi empat tipe. Penyakit Alzheimer adalah yang paling umum; demensia frontal temporal dan frontal subkortikal ditentukan oleh daerah otak yang paling terpengaruh, dan demensia vaskular oleh penyebabnya yaitu stroke. Penyakit Alzheimer. Lebih umum terjadi pada perempuan dibanding pada laki-laki karena umur perempuan yang lebih panj ang, penyakit Alzheimer menguasai sekitar 50 persen demensia pada orang-orang lanjut usia dan diderita oleh lebih dari 4 juta orang Amerika.

Dalam penyahtt Alzheimer, yang ditemukan oleh seorang neurolog asal Jerman Alois Alzheimer pada tahun 1906, jaringan otak mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, dan kematian biasanya terjadi 10 atau 12 tahun setelah onset simtom-simtom. Sekitar 100.000 orang Amerika meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini. Penderita pada awalnya hanya mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi dan dalam mengingat materi yang baru dipelajari, dan dapat terlihat seolah pikirannya kosong dan mudah tersinggung, kekurangan yang mungkin diabaikan selama beberapa tahun. namun pada akhirnya mengganggu kehidupan sehari-hari. Memang, kelemahan kecil dalam pembelajaran dan memori yang terungkap melalui berbagai tes neuropsikologis ditemukan pada orang-orang yang di kemudian hari menderita penyakit ini jauh sebelum timbulnya simtom klinis apa pun. Seiring berkembangnya penyakit tersebut, orang yang bersangkutan sering kali menyalahkan orang lain atas kegagalan dirinya dan dapat mengalami delusi bahwa dirinya sedang menjadi tertuduh. Memori terus mengalami kemunduran, dan orang yang bersangkutan semakin mengalami disorientasi dan semakin mudah tersinggung. Depresi merupakan hal umum, terjadi pada 30 persen orang-orang yang menderita penyakit Alzheimer.

Perubahan fisiologis utama pada otak, yang terlihat dalam otopsi, adalah atrofi (pembuangan) korteks serebral, pertama-tama korteks entorinal dan hipokampus, dan selanjutnya frontal, temporal, dan parietal lobe. Seiring hilangnya neuron dan sinaps, celah yang terbentuk semakin lebar dan tepi-tepinya semakin sempit dan datar. Rongga-rongga otak juga melebar. Plah daerah kecil berbentuk bulat yang berisi sisa-sisa neuron yang hilang dan r3-amiloid, timbunan protein seperti terserak di seluruh korteks. Serat-serat protein abnormal serat neurofibrilari-menumpuk di dalam tubuh sel neuron. Plak dan serat tersebut terdapat di seluruk korteks serebral dan hipokampus, Serebelum, jaringan saraf tulang belakang, dan daerah motorik serta indrawi pada korteks tidak terlalu terpengaruh, oleh karena itu, pasien Alzheimer tidak terlihat memiliki masalah fisik hingga penyakit tersebut mencapai fase lanjut. Selarna beberapa waktu pasien mampu berjalan kaki secara normal dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang sudah sangat umum, seperti menyapa dan mengobrol sebentar, tidak terganggu, sehingga bila hanya bertemu sebentar, orang lain tidak akan melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Sekitar 25 persen pasien penyakit Alzheimer juga mengalami kemunduran-atak yang sama dengan yang terjadi pada penyakit Parkinson. Terdapat beberapa kontroversimengenai relatif pentingnya penumpukan amiloid dan serat neurofibrilari dalam penyakit Alzheimer. Kedua zat tersebut dapat menghambat fungsi otak. Bila amiloid menumpuk di dalam suatu sel, sel tersebut akan mati. Serat neurofibrilari dihubungkan dengan berbagai perubahan protein tau, yang diperlukan untuk menjaga pengantaran berbagai komponen penting fungsi neural (seperti gelembung sinaps) dari akson ke ujung sinaptik. Bukti yang mendukung pentingnya amiloid diperoleh dari berbagai studi genetik dan dari fakta bahwa amiloid meningkat pada tahap dini penyakit tersebut . Meskipun demikian, karena peningkatan amiloid juga ditemukan dalam proses penuaan normal, hal itu bukan keunikan penyakit Alzheimer. Secara kontras, serat neurofibrilari justru lebih merupakan kekhasan penyakit Alzheimer sehingga kemungkinan merupakan hal penting dalam etiologi penyakit ini. Lebih jauh lagi, bila amiloid dan serat berkorelasi dengan kelemahan kognitif, serat menunjukkan hubungan yang lebih erat. Kedua zat tersebut terus menjadi subjek banyak penelitian.

Terdapat bukti yang sangat kuat bagai basis genetik Alzheimer. Risiko Alzheimer meningkat pada kerabat tingkat pertama dari individu yang mengalaminya, dan kesesuaian pada kembar MZ lebih besar daripada kembar DZ. Di antara kasus-kasus dengan onset dini (sebelum 60 tahun), yang mencakup kurang dari 5 persen dari seluruh kasus penyakit Alzheimer, pola penurunan penyakit menunjukkan bekerjanya satu gen tunggal yang dominan. Karena orang-orang dengan sindroma Down sering kali juga menderita penyakit Alzheimer jika mereka hidup hingga mencapai usia paruh baya, pada awalnya perhatian difokuskan pada kromosom 21, yang abnormal dalam sindroma Down. Suatu gen yang mengendalikan protein yang berperan dalam pembentukan P-amiloid ditemukan berada pada bagian lengan panjang kromosom 21, dan berbagai studi menunjukkan bahwa gen tersebut menyebabkan terjadinya sekitar 5 persen kasus penyakit Alzheimer yang timbul di usia lebih muda. Berbagai gen dominan yang menyebabkan terjadinya penyakit Alzheimer dengan onset dini juga ditemukan pada kromosom 1 dan 14. Perhatikan bahwa kami menggunakan kata “menyebabkan” dalam dua kalimat sebelumnya. Tidak seperti diathesis genetik yang kami sebutkan pada berbagai bab sebelumnya, gen penyakit Alzheimer tampaknya tidak membutuhkan pengaktifan oleh suatu stresor untuk mengakibatkan terjadinya penyakit tersebut. Sebagai contoh, tidak ada seorang pun yang memiliki gen tersebut pada kromosom 21 yang mencapai usia di atas 67 tahun tanpa menderita penyakit Alzheimer.

Mayoritas kasus penyakit Alzheimer dengan onset akhir menunjukkan bentuk tertentu suatu gen pada kromosom 19 (disebut apolipoprotein E 4 allele), yang lebih berfungsi sebagai diathesis genetik yang telah sangat sering dibahas sebelumnya. Memiliki satu E 4 allele meningkatkan risiko penyakit Alzheimer hingga hampir 50 persen, dan memiliki dua allele meningkatkan risiko hingga di atas 90 persen. Memiliki bentuk yang lain dari gen ini (E 2 allele) menurunkan risiko menderita penyakit Alzheimer. E 4 allele berhubungan erat dengan penyakit Alzheimer di kalangan etnis Hispanik di Karibia dan kemungkinan merupakan penyebab tingkat kejadian penyakit yang lebih tinggi di kalangan kerabat tingkat pertama dari penderita penyakit tersebut yang berasal dari etnis Afrika Amerika.

Pentingnya gen tersebut dalam etiologi penyakit Alzheimer diperkuat oleh fakta bahwa orang-orang kulit putih yang memiliki dua E 4 allele menunjukkan metabo-lisme glukosa yang abnormal pada korteks bahkan sebelum onset satu simtom pun. Bagaimana tepatnya gen tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer? Jawabannya tidak pasti, namun gen tersebut tampaknya berhubungan dengan terjadinya plak dan serat, dan tampaknya meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan otak karena radikal bebas yang merupakan molekul tidak stabil yang dihasilkan oleh oksigen yang menyerang protein dan DNA.

Terakhir, lingkungan tampaknya memiliki satu peranan dalam sebagian besar kasus Alzheimer, seperti ditunjukkan dalam laporan mengenai para kembar MZ yang berumur panjang yang tidak memiliki kesesuaian bagi penyakit tersebut. Penalarannya sama dengan penalaran yang digunakan untuk menilai pentingnya faktor-faktor genetik dan lingkungan dalam gangguan apa pun—jika dua orang yang memiliki material genetik sama (contohnya kembar MZ), namun hanya salah satunya yang mengalami gangguan tertentu, maka faktor-faktor lingkungan pastilah memiliki peranan.

Riwayat cedera kepala merupakan salah satu faktor risiko menderita penyakit Alzheimer. Berbagai studi longitudinal juga menunjukkan bahwa depresi meningkatkan risiko menderita penyakit Alzheimer, namun tampaknya hanya pada orang-orang yang menunjukkan hendaya kognitif ringan pada saat studi tersebut dimulai. Beberapa faktor lingkungan tampaknya memberikan perlindungan terhadap perkembangan penyakit Alzheimer. Obat-obatan nonsteroid antiperadangan seperti ibuprofen tampaknya mengurangi risiko penyakit Alzheimer, seperti halnya nikotin. Kelompok obat-obatan yang disebut sebagai statin dan digunakan untuk mengendalikan kolesterol tampaknya juga bersifat protektif. Sayangnya, faktor-faktor protektif tersebut dapat memiliki efek yang tidak diinginkan efek tiegatif merokok yang sangat terkenal pada sistem kardiovaskular dan masalah gastrointestinal serta hati yang disebabkan oleh obat-obatan antiperadangan dan statin.

Memiliki tingkat kemampuan kognitif yang tinggi juga dapat memberikan perlin-dungan. Kemungkinan ini ditunjukkan dalam sebuah studi terhadap para biarawati yang menulis otobiografi berminggu-minggu sebelum sumpah religius mereka. Otobiografi tersebut dianalisis berdasarkan kompleksitas gramatikal dan kepadatan pemikirannya, berbagai konsep yang berhubungan dengan pengetahuan umum, keahlian kosa kata, dan kemampuan kognitif lainnya. Cuplikan dari otobiografi duz biarawati menggambarkan perbedaan dalam kemampuan linguistik yang ditemukan antara keduanya.

Filed under : Bikers Pintar,