Perbedaan metodologi, relativisme rasionalitas

Para positivis logis dan para penentangnya setuju dalam menerjemahkan isu-isu metafisik dan epistemologis ke dalam metodologi. Mereka juga bersepakat tentang peran penting yang dimainkan kelaikan intervensi manusia terhadap metode, khususnya intervensi yang tidak bertujuan melahirkan suatu pemikian tentang masyarakat yang bisa mengubah perilaku manusia. (Popper (1945) menyebut hal ini efek Oedipus, Merton (1957) menyebutnya self-fulfilling prophecy}. Baik Marxis maupun kalangan konservatif tidak mengindahkan intervensi yang efektif dalam masyarakat, tetapi pandangan ini mengungkung mereka dalam teori-teorinya sendiri. Apa tujuannya membuat teori tentang masyarakat jika yang dapat kita lakukan untuk memperbaikinya adalah dengan membiarkannya? Disamping itu, bagaimana pandangan itu akan dipertahankan jika usaha pembuatan teori itu sendiri dapat membuat masyarakat menjadi lebih baik? Salah satu reaksi terhadap hal ini adalah dengan menghubungkan status istimewa dengan pembuatan teori (theorizing), untuk memahaminya sebagai sesuatu yang tidak terlalu ditentukan oleh proses besar umum deter-minisme dalam masyarakat. Pertama-tama Marx dan Durkheim berusaha dan kemudian dengan label “sosiologi pengetahuan” (sociology of knowledge) yang diberikan Mannheim untuk mengaitkan bentuk-bentuk kesadaran putatif (putative cognition) dengan bentuk-bentuk sosial, kepentingan kelas dan semacamnya, tapi di sisi lain mengabaikan ilmu-ilmu alam dan pembuatan teori-teori itu sendiri (Mannheim 1939 [1929]). ‘Program kuat’ dari sosiologi pengetahuan pertama kali diajukan oleh Merton, meski ia mengaitkannya dengan Mannhein melingkupi ilmu pengetahuan tanpa mengecualikan apa pun (Bloor 1991). Hal ini ditunjang adanya ide bahwa realitas, khususnya apa yang orang kehendaki sebagai realitas, adalah sebuah konstruksi sosial itu sendiri, dalam dirinya merupakan konstruksi sosial suatu gagasan yang barangkali berasal dari pemikiran fenomenologi tapi secara khusus merujuk pada Berger dan Luckmann (1966). Isu ini sering diperdebatkan tapi jarang menyentuh metodologinya dengan mengajukan bukti- bukti perbandingan untuk menunjukkan betapa realitas dapat dibangun secara sangat berbeda dalam waktu dan tempat berbeda. (Para teoretis psikologi radikal dikenal dengan nama teori label (labelling theory) memperluas jangkauannya hingga menyentuh batas-batas antara bentuk psikologi normal dan abnormal, sehingga menunjukkan bahwa psikopatologi juga bagian dari konvensi). Kebanyakan bukti berasal dari antropologi, yang menggambarkan masyarakat sebagai tempat pandangan dunia dengan memperhitungkan kategori bahasa dan realitas yang berbeda dengan1 pandangan kita. Realitas tampak relatif dalam kerangka sosial. Winch (1964) memperluas karya awalnya mendekati pandangan ini dengan menyatakan bahwa kajian klasik Evans-Pritchard tentang ilmu sihir Azande mengandung kerancuan konseptual dalam membandingkan sihir (magic) dengan ilmu pengetahuan. Perdebatan ini melibatkan juga Borton yang mengakui validitas perbandingan semacam itu (W.R. Horton dan Finnegan 1973). la adalah pengikut Gellner, seorang kritikus terkemuka terhadap berbagai idealisme sosiologi (Gellner 1992; R. Horton 1993).

Antropologi juga mendorong terjadinya tumpang tindih yang kemudian disebut perdebatan rasionalitas, sikap dalam bentuk lain terhadap isu relativisme. Pencarian karakterisasi yang menopang rasionalitas manusia berawal dari gagasan Aristoteles bahwa rasionalitas membuat ‘binatang manusia’ (human animal) berbeda dengan binatang lainnya. Sudah lama rasionalitas digunakan untuk mengganti arti penalaran, rasio (ratiocination), dan logika. Mill (1843) menganggap sudah semestinya bahwa logika merupakan hukum bagi pikiran manusia. Sebelumnya para antropolog beranggapan bahwa masyarakat tak beradab tidak memiliki kemampuan bernalar, bahkan tidak mampu menyusun kalimat yang koheren. Di abad ke-20, mereka justru berpendapat bahwa masyarakat “primitif” adalah rasional, jika tidak lebih rasional dalam beberapa hal dibandingkan dengan kita. Namun masyarakat mereka tidak dilengkapi ilmu pengetahuan dan dipenuhi tahayui, sehingga menyebabkan mereka menurut standar positivisme (logis dan empiris) dianggap tidak rasional. Para relativis beranggapan bahwa standar rasionalitas diadakan di atas tatanan sosial yang berbeda, sehing-ga standar-standar itu pun saling berbeda. Para absolutis beranggapan bahwa batas minimal bagi rasionalitas yaitu logika adalah kebutuhan minimal bagi keberlangsungan kehidupan sosial, sehingga tidak ada masyarakat yang tidak rasional. Namun tetap saja ada sebagian ahli mencoba mengukur rasionalitas (Elster 1983; Jarvie 1984; Wilson 1970). Sejak pertengahan tahun 1980-an, berbagai perkembangan, sebagaimana akan kita lihat nanti, menciptakan kegairahan baru di antara para relativis.

Positivisme logis dalam filsafat meredup pada tahun 1960-an. Ilmu-ilmu sosial sedikit ketinggalan di belakangnya. Ilmu politik dan psikologi mengalami revolusi perilaku pada tahun 1950-an (sehingga ilmu perilaku menjadi sebutan yang populer), di mana gagasan positivis tentang tujuan dan metode menjadi dominan sedangkan hegemoni positivis terhadap filsafat runtuh. Sementara itu yang tampak lebih subtil, dalam sosiologi dan antropologi ada percampuran antara positivisme awal dan empirisisme Durkheim pada tahun 1940-an menjadi fungsionalisme, suatu cara pandang tentang masyarakat lepas dari besarnya cacat logika yang dimilikinya (Gellner197 3) yang bentuk modifikasinya terus bertahan sebagai aliran utama pemikiran tentang tujuan dan metode. Meskipun terjadi perdebatan seru, fungsi-onalisme dipercaya mampu sebagai sebuah metode. Hal ini barangkali karena positivisme yang makin kaya, naturalisme ekstrem dan induktivisme dari positivisme logis jarang mempengaruhi para ahli sosiologi dan antropologi sekalipun jika semua itu mengumandangkan retorika tertentu (Jarvie 1964).

Sejak tahun 1940-an telah terjadi intervensi dalam perdebatan mengenai tujuan dan metode ilmu sosial. Seorang ekonom, Hayek (1952), dan filsuf anti-positivisme, Popper (1957), dalam berbagai artikel yang kemudian menjadi buku klasik, menyatakan bahwa ilmuwan sosial menyerap pandangan yang keliru tentang ilmu alam. Hayek menegaskan bahwa dalam ilmu pengetahuan terdapat elemen-elemen pembentukan model a priori; Popper mengatakan bahwa metode ilmiah merupakan masalah uji coba (trial and error).Keduanya mengritik identifikasi ilmu pengetahuan dengan deskripsi positivisme tentang ilmu pengetahuan. Keduanya mengecam upaya pencarian hukum-hukum sejarah. Positivisme dinyatakan sebagai karikatur dan diberi label ‘scientism’, kemudian tidak saja dinilai sebagai klaim Marxis dan positivis yang palsu, tetapi juga sebagai sesuatu yang ditentang aprioris kontinental.

Berdasarkan contoh ekonomi yang selama ini terabaikan, Hayek dan Popper menyatakan bahwa hasil tes metode itu menghasilkan kesimpulan: melalui tes tersebut, kebebasan yang dimiliki para ekonom untuk menciptakan model sederhana dan menguji implikasinya sebelum mempertemukan model tersebut dengan dunia nyata merupakan sesuatu yang biasa digunakan untuk pemahaman umum dan pemikiran sosial profesional. Karya mereka menjadi bagian dari perdebatan seru tentang metodologi yang di antara para ekonom yang dimulai oleh Robbins (1932) dan Hutchison (1938), diikuti kemudian oleh Friedman (1953), Klappholz dan Agassi (1959), dan lainnya (Blaug, 1992). Namun, dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya, ekonomi ibarat matematika bagi kalangan non-ilmuwan: suatu mata pelajaran dasar yang diperlukan setiap orang. Di sisi lain, terdapat ambivalensi: ilmu ekonomi memiliki status yang tinggi, namun apakah teori-teori ekonomi bisa diuji merupakan persoalan yang terus-menerus dipertanyakan hingga kini. Karena itu perdebatan yang terjadi dalam ilmu ekonomi berkenaan dengan pembuatan model, rasionalitas, asumsi- asumsi realistis, apakah teori bertujuan mengungkap kebenaran ataukah memberi prediksi yang tepat, sedangkan nilai matematikasasi (Boland 1982)sangatjarangdisebut dalam diskusi tentang tujuan dan metode ilmu sosial lainnya. Hal ini memprihatinkan karena perdebatan dalam ilmu ekonomi mengasumsikan bahwa perilaku ekonomi adalah konvensional dan karenanya metode ilmu ekonomi adalah bebas untuk berbeda dengan metode ilmu alam.

Pencitraan keliru tentang ilmu pengetahuan yang diberikan positivis, Marxis dan aprioris anti- ilmu pengetahuan tidak berdampak besar. Setelah melakukan koreksi, Hayek dan Popper menyatakan bahwa modifikasi sederhana terhadap metode akan memungkinkan ilmu sosial menjadi bagian ilmu pengetahuan yang seutuhnya. Sebaliknya, masalah yang paling banyak mengundang kontroversi adalah pertanyaan ontologis. Pertama, apakah manusia bertindak rasional apakah manusia benar-benar bertindak? Bertentangan dengan kecenderungan Hegelian dalam Marx untuk membuat abstraksi dan memperkaya abstraksi itu dengan kekuatan sebab-akibat (hubungan produksi, kelas, dsb), Hayek dan Popper menyingkirkan ontologi dan mengajukan prinsip tindakan rasional atau individualisme metodologis karena lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan praktek nyata ilmu-ilmu sosial. Ini adalah prinsip untuk menghubungkan tujuan dengan individual, bukan dengan sosial secara keseluruhan. Menurut mereka, institusi sosial adalah nyata, tetapi institusi-institusi dibangun, didukung dan diberi tujuan oleh individu. Perdebatan tentang soal ini terus berlanjut dan meluas (O’Neill 1973).

Pada tingkat tertentu Hayek dan Popper tidak memberikan kontribusi yang berarti karena positivis, behavioris, dan semua ilmu sosial telah berkembang sejak tahun 1960-an. Pada awal dekade tersebut, sebuah esei tentang sejarah ilmu pengetahuan diterbitkan untuk membuang positivisme logis dari ilmu sosial dan, seperti Popper, Hayek dan positivis, terus bersikeras tentang keutuhan ilmu pengetahuan, di sisi lain secara eksplisit menempatkan ilmu sosial sebagai bentuk yang kurang dikembangkan sehingga belum memenuhi syarat. Penulis esai tersebut, ahli fisika, adalah orang yang belajar sendiri tentang sejarah tanpa sama sekali mengindahkan ilmu ekonomi, sosiologi, atau ilmu sosial lainnya. Buku tersebut berjudul The Structure of Scientific Revolutions, dan penulisnya adalah Thomas Kuhn (Barnes 1982).

Kuhn (1962) berpendapat bahwa yang membedakan sebuah ilmu pengetahuan dengan pre-science atau non-science adalah dominasinya melalui suatu paradigma, yaitu, suatu karya yang dikenal luas dalam bidang tertentu di mana kebanyakan orang meniru metode, gaya dan substansinya. Dalam ilmu pengetahuan, paradigma semacam ini akan menjalankan fungsinya bila dimasukkan secara utuh dalam buku teks standar yang mutahir. Mengingat perdebatan yang terus-menerus tentang fundamental ilmu-ilmu sosial, serta adanya buku-buku teks tandingan, Kuhn menggolongkan ilmu sosial sebagai pre-science. Ironisnya, para ilmuwan sosial menerima ide-ide Kuhn tapi memutarbalikannya: mereka menyatakan bahwa karena ilmu sosial memiliki buku teks maka berarti ilmu sosial memiliki paradigma, dan karenanya ilmu sosial adalah ilmu pengetahuan.Tetapi Kuhn secara spesifik mengatakan bahwa pasti ada suatu kesepakatan di antara para tokoh di satu bidang tertentu tentang satu-satunya paradigma yang diakui bila bidang tersebut ingin disebut ilmiah. Kesimpulannya, ada banyak ilmu sosial, atau cabang ilmu sosial, maka sebanyak itu pula paradigma yang berlaku: begitu kita menyatakan bahwa Freud dan Piaget tidak bersaing dalam bidang psikologi anak melainkan karena memang ada dua bidang, yaitu psikologi perkembangan (developmental psychology dan psikologi kesadaran (cognitive psychology, maka berarti suatu bidang pre-science ditransformasikan dalam dua bidang kajian ilmiah yang didominasi paradigma.

Perdebatan kembali menajam. Para pengritik Kuhn menyatakan bahwa ada buku teks tentang pseudo-science (astrologi), non-science (teologi) dan kasus-kasus yang meragukan (psikoanalisis). Selanjutnya, Kuhn memberikan suatu prosedur legitimasi untuk menarik batas para birokrat akademik yang berusaha menutup-nutupi perdebatan, kontroversi dan kebingungan serta menciptakan kesan adanya kemajuan di suatu “bidang” (field), “subyek” (subject), “wilayah” (area), dsb. Maka kategori-kategori terhadap alamiah dan konvensional belum termasuk fisika, kimia, biologi dan matematika mungkin berasal dari berbagai problem dan perdebatan teori yang begitu panas (Hattiangadi 1978/9).

Suatu pemahaman yang lebih relativis tentang Kuhn menyiratkan bahwa tidak ada tujuan atau metode khusus yang menandai ilmu alam yang berarti punya banyak kemiripan dengan subyek lainnya, yaitu dapat dibedakan jika sepenuhnya didasarkan pada status sosialnya. Dengan demikian perbandingan dengan ilmu sosial merupakan persoalan empiris bagi ilmu sosial dan ‘program kuat’ dari sosiologi pengetahuan telah mempertahankan dirinya sendiri (Bloor 1976). Entah itu menunjukkan persamaan ataukah perbedaan, hasil-hasilnya merupakan bagian dari sosiologi pengetahuan, yang pada gilirannya benar-benar merupakan disiplin yang komprehensif. Berbagai kajian ilmu sosial, dalam forum apa pun, berimplikasi ke segala arah, baik dalam sosiologi maupun filsafat, baik dalam metateori maupun teori.