Advertisement

Bagi masyarakat Talang Mamak terdapat berbagai pantangan dan larangan berkaitan dengan pengelolaan hasil perladangan dan hubungan sosial. Biasanya pekerjaan menuai baru selesai selama 7-10 hari. Di antaranya perlu waktu 1-2 hari untuk menuai padi tuha. Membawa padi tuha yang baru dituai langsung dari rumpun padi ke lumbung adalah pantangan, tapi harus selalu ditumpuk lebih dulu dalam keranjang petumpahan. Membawa petumpahan berisi padi pada waktu senja atau malam hari juga suatu pantangan. Karena itu, jika pemanenan padi tuha tidak selesai dalam sehari mereka akan menginap semalam di tengah huma. Malam gawai padi tuha itu merupakan kesempatan bagi mereka untuk bersuka ria, menyanyi, berpantun, dan memainkan alat musik (rebab, ketepung, gendang buluh manyan, serunai, salung). Anak-anak muda yang belum kawin memanfaatkan kesempatan itu untuk memilih pasangan sendiri, mereka boleh saling menggoda dan bersentuhan, asal tidak melewati batas. Biasanya perilaku muda-mudi itu diawasi diam-diam oleh orang tua mereka.

Seianjutnya menjadi tugas kaum perempuan untuk menjaga dan mengatur pemakaian padi yang telah disimpan dalam lumbung. Supaya padi tersebut tahan lama disimpan, maka setiap hari harus dijemur di bawah sinar matahari dengan menebarkannya di atas tikar pandan. Padi yang telah dikeringkan dapat disimpan beberapa tahun, asal tidak diganggu hama (terutama tikus) atau lembab terkena air hujan. Orang Talang Mamak tidak pernah menumbuk semua padi mereka menjadi beras, karena menurut mereka padi lebih tahan lama daripada beras. Mereka biasanya hanya menurunkan dan menumbuk padi menjadi beras untuk makan sekelamin (sekeluarga) selama satu minggu. Atau diturunkan dan ditumbuk untuk keperluan-keperluan khusus, seperti untuk membayar upah dukun, sumbangan untuk saudara yang mengadakan gawai. Menurut selera orang Talang Mamak beras dari padi yang baru ditumbuk lebih enak dan harum daripada beras yang sudah lama.

Advertisement

Melihat besarnya lumbung-lumbung padi orang Talang Mamak dapat diperkirakan, bahwa pada waktu-waktu tertentu hasil huma mereka memang mencukupi kebutuhan siklus hidup mereka. Lumbung-lumbung yang didirikan di samping rumah perhumaan disebut rengkiang, berbentuk pondok kecil dengan lantai setinggi 1-1,5 m dari tanah. Bagian depan sengaja dibuatkan atap agak lebar untuk menaungi tempat lesung di mana perempuan menumbuk padi. Pada masa kini orang Talang Mamak lebih suka membuat lumbung di dalam rumah, dan ini disebut kapuk. Kapuk biasanya dibuat dengan cara membangun ruang tambahan di bagian samping rumah. Alasannya, dengan cara ini padi lebih mudah diawasi bersama-sama dengan kucing dan anjing penjaga rumah.

Anjing dan kucing adalah dua jenis binatang penjaga yang tampaknya sangat lekat dengan kehidupan peladang. Sebagai ‘penjaga’ kedua jenis binatang ini dapat melindungi harta tuannya. Kucing secara khusus mengamankan padi di rengkiang atau kapuk. Bahkan juga sering terlihat berburu tikus di sela-sela rumpun padi. Karena lebih sering berada di sekitar rumah kucing adalah teman dekat kaum perempuan, tidak heran jika binatang ini dianggap identik dengan perhiasan dalam rumah.

Ciri lain dari pola pemanfaatan lahan dalam komunitas Talang Mamak adalah sistem pengelolaannya yang bersifat komunal, di mana pengaturan penggunaan hutan untuk ladang dan kelestarian rimba dilakukan melalui musyawarah adat. Sanksi terhadap pelanggaran berat dilaksanakan melalui sistem kepemimpinan adat setempat, di mana keputusan akhir ada di tangan Penghulu Adat. Dalam sistem adat Talang Mamak juga tampaknya tidak dikenal adanya hak milik pribadi atas lahan-lahan yang diusahakan (perladangan). Hutan primer (rimba) dapat dibuka oleh siapa saja dengan mempertimbangkan kelayakan pola rotasi. Bahkan hutan sekunaer, yaitu hutan yang sudah pernah dibuka menjadi huma, dapat dibuka oleh keluarga lain apabila telah disepakati oleh pengolah terdahulu dan atas sepengetahuan Penghulu.

Tanam pangan untuk pemenuhan kebutuhan pokok bagi masyarakat Ta-lang Mamak pada masa lampau dihasilkan sendiri melalui serangkaian aktivitas, dimulai dari penentuan lahan ladang, persetujuan dari penghulu adat untuk pemanfaatan lahan sebagai ladang, penentuan dan penilaian dari kemantan/dukun terhadap kondisi bakal lahan ladang. Kemudian diikuti dengan pembukaan lahan secara bersama-sama oleh anggota keluarga atau dengan sesama anggota petalangan, lalu pembakaran areal pertanaman, penanaman benih padi, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan sebagainya. Ada pula kegiatan pemeliharaan dan perawatan tanaman sebelum panen padi tuha, diakhiri dengan gawai serta penanaman tanaman keras sebagai tanda lahan tersebut pernah diolah.

Jenis tanaman pangan pokok yang umumnya dikonsumsi adalah padi dalam bentuk beras. Sebagian lain ada yang mengaku bahwa mereka memenuhi kebutuhan konsumsi mereka dari tanaman umbi-umbian, kacang-kacangan yang masih terdapat di daerah perladangan mereka.

Pola perladangan adalah bergeser dari ladang pertama menuju ke sebelahnya apabila ladang pertama sudah selesai dipanen. Satu kali musim tanam biasanya adalah 1 tahun dan seianjutnya peladang akan membuka lahan baru di samping lahan lama. Pada masa lampau rotasi perladangan dapat terjadi dalam kurun waktu 20 sampai 30 tahun. Hal ini disebabkan oleh biasanya pembukaan lahan baru akan dilakukan jika perhitungan cadangan bahan pangan mulai berkurang baik di gudang bahan makanan maupun tanaman cadangan yang dibiarkan tetap tumbuh. Namun, disebabkan karena cadangan bahan makanan semakin berkurang karena semakin rendahnya mutu lahan, maka pembukaan lahan baru dilakukan setiap tahunnya.

Incoming search terms:

  • Dimana ada huma /ladang berpindah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Dimana ada huma /ladang berpindah