Advertisement

Pendukung utama yang lain terhadap timbulnya disonansi adalah perasaan memilih suatu perilaku. Jika Anda merasa dengan bebas dan berdasarkan keinginan sendiri memilih Mercedes, nantinya Anda akan mengalami disonansi yang harus dikurangi. Tetapi seringkah kita tidak merasa memilih apa yang kita lakukan. Mungkin seorang salesman mengatakan kepada kita untuk menandatangani suatu kontrak dan menulis cek sebelum kita tahu apa yang terjadi. Atau mungkin mobil tua kita sudah hancur dan ini merupakan satu-satunya mobil baru yang tersedia. Tanpa perasaan memilih, tidak ada disonansi. Demikian pula, perilaku-yang-tidak-sesuai- dengan-sikap menimbulkan disonansi hanya jika perilaku itu dipilih dengan bebas (atau sedikitnya orang merasa bahwa perilaku itu bebas dipilih). Secara jelas hal ini diperlihatkan dalam dua eksperimen yang dilakukan oleh Linder, Cooper, dan Jones (1967). Para mahasiswa diminta menulis karangan yang tidak sesuai dengan opini mereka. Beberapa subjek dipaksa untuk merasa bahwa mereka mempunyai pilihan apakah akan membuat karangan itu atau tidak sedang yang lain tidak diberi pilihan. Setengah dari subjek dalam setiap kondisi dibayar Rp2.500,— dan setengahnya dibayar Rp500,—. Dengan adanya pilihan bebas, efek disonansi yang khas muncul. Terjadi lebih banyak perubahan dengan ganjaran yang lebih sedikit. Dengan tidak adanya pilihan, efek disonansi tidak akan timbul. Terjadi lebih banyak perubahan dengan ganjaran yang lebih besar.

Makna penting dari pilihan yang dirasakan adalah bahwa hal itu muncul bersama dengan dirasakannya tanggung jawab terhadap semua konsekuensi, entah bersifat ‘logis’ atau tidak untuk merasa bertanggung jawab terhadap konsekuensi tersebut. Seperti yang kita lihat pada bagian sebelumnya, orang cenderung mempertalikan dengan hal-hal internal bila perilaku dilakukan dalam kondisi pilihan bebas, dan mengemban tanggung jawab moral terhadap perilaku yang ditimbulkan secara internal. Serangkaian penelitian memperlihatkan peranan penting rasa tanggung jawab terhadap timbulnya disonansi. Bahkan konsekuensi-negatif-yang-tidak-terduga menimbulkan disonansi, selama pengambil keputusan merasa bertanggung jawab terhadap konsekuensi itu. Bila dia tidak merasa bertanggung jawab terhadap akibatnya, tidak ada disonansi, tanpa mempedulikan sejauh mana akibat itu merugikan. Bila dia merasa bertanggung jawab, akan muncul disonansi entah konsekuensi itu dapat diduga atau tidak. Pai lak dan teman-temannya merancang serangkaian penelitian untuk menggambarkan masalah ini. Dalam penelitian pertama (Pallak, Sogin, dan Van Zante, 1974), suatu tugas yang membosankan dievaluasi kembali dalam suatu arah yang lebih baik, konsisten dengan pengurangan disonansi, bahkan bila konsekuensi negatif (belajar bahwa tugas itu hanya membuang waktu) tidak diketahui hingga diselesaikannya tugas itu selama subjek menyelesaikan hal ini dalam kondisi pilihan yang dirasakan tinggi. Dalam penelitian selanjutnya (Sogin & Pallak, 1976), mereka menunjukkan efek disonansi sebagai sesuatu yang tergantung pada pertalian internal. Bila konsekuensi negatif terjadi akibat sesuatu yang dirasakan subjek sebagai tanggung jawabnya, maka evaluasi kembali disonansi akan timbul baik efek itu terduga maupun tidak terduga.

Advertisement

Maka pertanyaan kritik mengenai konsekuensi negatif yang tidak terduga mencakup apakah individu merasa perilaku sebelumnya merupakan tanggung jawabnya atau tidak. Itulah sebabnya mengapa pilihan yang dirasakan merupakan hal yang sangat penting. Bila orang memilih sesuatu yang berakibat buruk, mereka merasa bertanggung jawab terhadap hasilnya, dan hal ini akan menimbulkan disonansi. Ini merupakan prasyarat utama bagi disonansi kognitif, dan bagi perubahan sikap yang timbul dari tindakan tegas: insentif minimum, pernyataan yang tidak dapat dibatalkan dan konsekuensi yang dapat diduga, pilihan yang dirasakan, dan tanggung jawab pribadi terhadap konsekuensi. Ini hanya merupakan sebagian kondisi dari yang semula diajukan oleh para ahli teori disonansi. Baik disonansi pascakeputusan maupun disonansi yang ditimbulkan oleh perilaku-yang-tidak-sesuai-dengan sikap tidak seumum seperti yang diyakini dalam versi paling awal tentang teori disonansi. Akan tetapi, keduanya terjadi secara meyakinkan dengan adanya beberapa keadaan tertentu.

Incoming search terms:

  • tanggung jawab sebagai pilihan
  • konsekuensi dari tanggung jawab
  • konsekuensi tanggung jawab
  • pilihan dan tanggung jawab

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • tanggung jawab sebagai pilihan
  • konsekuensi dari tanggung jawab
  • konsekuensi tanggung jawab
  • pilihan dan tanggung jawab