Advertisement

1. Mengenai pengetahuan. Aristoteles mendasarkan kebenaran pengetahuan manusia bukan pada dunia gagasan yang transenden yang terpilah dan terpisah dari hal-hal pengalaman sehari-hari seperti dalam Platonisme, melainkan pada forma (ide) yang termuat dalam benda-benda dan yang berhubungan dengan konsep-konsep manusia yang obyektif dan nyata. Pengalaman inderawi dan abstraksi intelektual bekerja sama dalam pembentukan dan pengembangan pengetahuan manusia.

2. Mengenai Metafisika. Filsafat pertama atau metafisika, yang merupakan ilmu mengenai yang-ada dan bentuk-bentuknya, adalah mahkota dari semua ilmu. Yang-ada yang kontingen, yang berubah-ubah yang tunduk kepada “menjadi” dan perubahan, tersusun dari prinsip potensial dan prinsip aktual yang disebut Aristoteles materi dan forma. “Menjadi” bukanlah awal dari sesuatu yang sama sekali baru yang tidak ada sebelumnya, melainkan perubahan esensial. Di sini materi, yang diduga merupakan bagian yang kekal, tak diciptakan, dapat menentukan, kehilangan bentuk esensial awalnya; dan di bawah pengaruh sebuah sebab efisien mendapat bentuk yang lain, dc- terminasi formal yang baru (hal ini berkaitan dengan teori Aristoteles hilemorfisme).

Advertisement

3. Mengenai kosmologi dan antropologi filosofis. Terdapai sejumlah penjelasan yang bertentangan mengenai apa persij hakikat komponen-komponen ini khususnya tentang forma (bentuk) dan bagaimana bentuk ini berbeda dari ide Platonis Forma (ide) adalah prinsip batiniah determinasi dan tujuar (telos, entelechy). Ini menunjukkan khususnya prinsip-prinsip formal dalam benda-benda hidup: jiwa tumbuhan, jiwa binatang dan jiwa manusia. Jiwa manusia juga menjalankan fungsi- fungsi kehidupan vegetatif dan kehidupan hewani. Manusia memperoleh pengetahuan rohani bukan dengan menghasilkannya secara murni keluar dari dirinya sendiri, melainkan karena determmasi-determinasi yang sampai padanya melalu i pancainderanva. Dalam proses ini, ia sama sekali tidak pasil melainkan bekerja melalui kekuatan intelek spontan yang kekal; ia tidak dihasilkan dengan kelahiran melainkan datang “dari luar’. Filsuf Arab menafsir teks Aristoteles yang tidak jelas sebagai Monopsikisme. Mereka mengatakan bahwa terdapat hanya satu intelek pelaku (agent intellect) yang berfungsi dalarn semua manusia.

4. Mengenai etika. Berhubungan dengan kehendak, Aristoteles mengajarkan bahwa manusia mempunyai kebebasan pilihan, tetapi ia tidak membuat suatu pembedaan tajam (jelas) antara kebebasan dan kerelaan. Dalam etikanya tujuan hidup manusia dilukiskan sebagai kebahagiaan yang dapat dicapai dalam prak- tek kebajikan. Dan jenis kebahagiaan paling tinggi dicapai dalam kontemplasi (perenungan) tentang kebenaran.

5. Mengenai Allah. Allah dipandang sebagai pikiran murni (noesiy noeseoi = pikiran dari pikiran) dan penggerak pertama dari benda-benda langit. Diragukan apakah ia berpikir tentang Allah sebagai pribadi atau tidak; dan Allah bukan pencipta. dunia.

6. Mengenai politik dan masyarakat. Dalam politiknya ia juga mengajarkan bahwa keluarga dan negara, sebagai komunitas sosial, pada mulanya bersifat alami. Demikian pula ia menolak gagasan utopis Plato tentang isteri-isteri dan milik-milik umum dalam suatu negara ideal.

7. Karena itu ajaran Aristoteles pada umumnya dikembangkan dalam suatu konfrontasi yang bijaksana, kritis namun cermat antara gagasan-gagasannya sendiri dengan gagasan-gagasan dari para pendahulunya, khususnya Plato.

Incoming search terms:

  • aristotelianisme adalah
  • definisi pokok pikiran
  • pikiran pinter gagasan
  • pokok ajaran aristoteles
  • pokok pokok ajaran Aristoteles
  • www apa yang dimaksut dengan platonisme dan aristotelianisme

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • aristotelianisme adalah
  • definisi pokok pikiran
  • pikiran pinter gagasan
  • pokok ajaran aristoteles
  • pokok pokok ajaran Aristoteles
  • www apa yang dimaksut dengan platonisme dan aristotelianisme