Advertisement

Dalam tiap-tiap masyarakat dikembangkan serentetan pola-pola budaya ideal dan pola-pola itu cenderung diperkuat dengan adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan. Pola-pola budaya yang ideal itu memuat seperti hal-hal yang oleh sebagian besar dari suatu masyarakat, diakui sebagai kewajiban yang harus dilakukannya dalam keadaan-keadaan tertentu. Pola-pola ideal seperti itu sering disebut norma-norma. Kita semua tahu, bahwa orang tidak selalu berbuat sesuai dengan patokan-patokan yang mereka akui. Andaikata para warga masyarakat memang selalu mengikuti norma, maka tidak perlu ada pembatasan-pembatasan langsung atau tidak langsung. Sebagian dari pola-pola kita yang ideal berbeda dari perilaku sebenarnya, karena yang ideal itu dikesampingkan oleh cara yang telah dibiasakan oleh masyarakat. Pola-pola ideal yang lain mungkin belum pernah menjadi pola kelakuan yang diikuti dan karena itu mungkin hanya menggambarkan apa yang digambarkan oleh warga masyarakat.

Suatu kepercayaan yang diidealiser dan sudah lama diidam-idamkan di Amerika, misalnya adalah bahwa dokter-dokter merupakan orang-orang yang tidak mementingkan diri dan ramah tamah dan orang yang memilih ilmu kedokteran sebagai profesi karena merasa “terpanggil” untuk melayani kemanusiaan, dan yang tidak begitu mementingkan keuangan atau prestise kedudukannya. Tentu saja banyak dokter yang tidak sesuai dengan gambaran ideal ini. Walaupun demikian, sukses, terus-menerus dari program-program televisi yang menggambarkan seorang dokter sebagai contoh kebajikan menunjukkan bagaimana berakarnya dalam jiwa orang Amerika citra tentang seorang dokter yang baik.

Advertisement

Adanya jurang antara pola ideal dan pola-pola kelakuan yang sebenarnya merupakan gejala yang umum dalam kebudayaan-kebudayaan manusia. Antara suku-suktr bangsa tertentu di Irian, misalnya pola-pola aktual xlari hubungan lelaki-perempuan, agaknya berbeda sekali dari pola .budaya yang ideal. Suku bangsa Mae Enga, di Pegunungan Barat mempunyai gagasan untuk mempertahankan perpisahan yang hampir bersifat total antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Mereka percaya bahwa, sesudah wanita menjadi akil-balig, dia menjadi kotor, mempunyai kualitas yang luar biasa dan jahat, dan tiap lelaki yang berhubungan dengannya akan tercemar olehnya. Tidaklah mengherankan, bahwa pergaulan seksual dianggap suatu perbuatan sial yang menyedot sifat kejantanan seorang lelaki. Dengan demikian menurut orang Mae Enga, pola tingkah laku yang ideal adalah agar semua lelaki selalu menghindari kaum wanita. Tetapi untuk memungkinkan kelahiran anak-anak, orang Mae Enga harus berkompromi dengan idealnya. Bagian terbesar dari kaum lelaki pada akhirnya menikah juga, walaupun mereka tetap hidup terpisah dari isteri mereka. Pergaulan seksual memang dilakukan, walaupun hanya sekali-sekali. Tetapi pada orang Kamanao dari Pegunungan Timur, jurang antara pola-pola tingkah laku ideal dan pola kelakuan yang sebenarnya malahan lebih menonjol lagi. Orang Kamanao. seperti orang Mae Enga, mempunyai “peraturan” ketat yang melarang pergaulan seksual; tetapi dalam kenyataannya, kaum lelaki Kamanao sering memuaskan diri dalam pergaulan seksual dan mereka merasa bahwa aktivitas seksual meningkatkan kekuatan dan kejantanan mereka.

Incoming search terms:

  • budaya ideal
  • pola budaya ideal
  • pengertian budaya ideal
  • pola ideal masyarakat
  • pengertian kebudayaan ideal
  • pemahaman pola budaya ideal
  • jelaskan yang dimaksud pola ideal masyarakat
  • budaya yang ideal adalah
  • budaya ideal adalah?
  • arti kelakian yg sebenarnya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • budaya ideal
  • pola budaya ideal
  • pengertian budaya ideal
  • pola ideal masyarakat
  • pengertian kebudayaan ideal
  • pemahaman pola budaya ideal
  • jelaskan yang dimaksud pola ideal masyarakat
  • budaya yang ideal adalah
  • budaya ideal adalah?
  • arti kelakian yg sebenarnya