Advertisement

PRINSIP KAUSALITAS

Inggris: principk of causality.

Advertisement

Beberapa Pengertian

1. Prinsip kausalitas metafisik merupakan salah satu prinsip pengetahuan yang sangat penting. Dan ia mutlak perlu bagi bukti sah adanya Allah. Berkaitan dengan rumusan prinsip kausalitas, maka rumusan “tidak ada akibat tanpa sebab tidak cocok karena ia bersifat tautologis. Juga, ungkapan “Segala sesuatu yang mulai berada harus mempunyai sebab”, tidak berguna karena permulaan dari banyak hal dalam waktu kosmos, misalnya hampir tidak dapat didemonstrasikan dengan tingkat kepastian menurut metode ilmu-ilmu eksperimental. Karena itu, rumusan yang lebih disukai bagi realitas ini ialah: “Setiap eksisten yang kontingen mempunyai sebab” (Kon- tingensi). Di sini “eksisten” dipahami sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh ada. “Mempunyai suatu sebab” berarti secara lebih tepat: dihasilkan atau dijadikan ada oleh bekerjanya sebab efisien. Rumusan itu juga berarti bahwa eksisten yang pada hakikatnya bersifat netral terhadap eksistensi dan bukan- eksistensi merupakan eksisten yang tergantung; bahwa eksisten itu memiliki eksistensi berkat aktivitas eksisten yang lain, yaitu aktivitas dari suatu sebab; karena itu eksisten itu dibuat . Suatu sebab hanya dapat dianggap sebagai suatu sebab yang mencukupi kalau ia paling sedikit memiliki kesempurnaan eksistensi yang sama sebagaimana akibat yang mau dijelaskan. Keabsahan prinsip kausalitas disimpulkan secara a priori dari konsep tentang hal yang kontingen dan hal yang disebabkan. Esensi kontingen dari hal kontingen itu sendiri hanya menga-takan kemungkinan (potensi) eksistensi, tetapi bukan realitas (aktivitas) eksistensi. Dengan demikian, menyangkut dirinya sendiri hal kontingen itu sama sekali tidak mampu menyumbangkan sesuatu apa pun juga bagi aktualisasinya sendiri dan karena itu memerlukan bantuan dari hal lainnya. Hal lainnya ini, untuk kepentingan sendiri, sungguh-sungguh berada secara independen dari eksisten kontingen ini dan, oleh kegiatannya, merupakan sebab dari eksistensi dari hal kontingen tersebut.

Berkaitan dengan sifat logis dari prinsip kausalitas, sudah banyak dibicarakan tentang pertanyaan apakah ada atau tidak suatu prinsip “analitik” atau prinsip “sintetik”. Para pendukung sifat analitik dari prinsip kausalitas seringkali hanya mengatakan bahwa sifat analitik tersebut bersandar pada suatu insight a priori yang berasal dari suatu perbandingan konsep-konsep dan karena itu sifat analitik itu menegaskan suatu keniscayaan hakiki yang tidak bersyarat. Memang, kedua pandangan itu tepat. Namun, kalau yang disebut analitik hanyalah putusan-putusan di mana predikat menyajikan suatu aspek yang sudah terkandung dalam konsep-konsep subjek, maka prinsip kausalitas tidak dapat secara tepat disebut analitik. Karena, “sungguh-sungguh disebabkan” tidak secara niscaya terkandung dalam konsep eksisten yang kontingen. Karena itu, dalam arti ini, prinsip kausalitas merupakan prinsip sintetik a priori. Juga, dengan demikian, prinsip kausalitas tidak dapat direduksikan pada prinsip kontradiksi dengan demonstrasi tidak langsung, kalau dituntut agar reduksi tersebut harus maju semata- mata dengan bantuan analisis konsep-konsep. Tentang relasi antara prinsip kausalitas dan prinsip alasan-yang-mencukupi. Suatu contoh khusus tentang prinsip kausalitas ditemukan dalam apa yang dinamakan hukum gerak yang pertama kali dirumuskan oleh Aristoteles yakni, apa saja yang bergerak (berubah) digerakkan (diubah) oleh yang lain (Quidquid movetur, ab alio movetur). Menurut prinsip ini, setiap perubahan membutuhkan sebab. Yang dimaksudkan perubahan di sini ialah perubahan menuju kepada suatu kepenuhan eksistensi yang lebih besar, kepada kesempurnaan (peralihan dari potensi ke aksi). Prinsip itu juga berarti bahwa sebab ini, paling sedikit secara parsial, harus berlokasi dalam eksisten lain yang berbeda dari eksisten yang berubah. Dan karena itu Ada yang berubah tidak cukup untuk menjelaskan perkembangan kecenderungan-kecenderungannya sendiri. Alasan untuk ini ialah bahwa kurangnya kesempurnaan yang ditemukan sebelum perubahan dalam eksisten yang akan disempurnakan, tidak merupakan sebab yang cukup bagi bertambahnya kesempurnaan eksistensial yang bakal dihasilkan.

2. Hukum kausalitas fisik berbeda dari prinsip kausalitas metafisik. Karena, hukum yang pertama terbatas pada kejadian-kejadian dalam dunia benda-benda untuk menjelaskan kejadian- kejadian itu secara alamiah, ia membutuhkan suatu sebab yang menghasilkan suatu peristiwa partikular dengan keniscayaan fisik. Dari pertimbangan eksklusif tentang kausalitas alamiah ini kiranya dipahami bahwa ungkapan “kejadian kausal”, seringkah diambil untuk mengartikan hal yang sama dengan “kejadian yang niscaya”. Bagaimana pun, prinsip kausalitas memberikan kemungkinan yang terbuka bagi sebab yang bekerja secara bebas.

Incoming search terms:

  • pengertian kausalitas
  • prinsip kausalitas
  • arti kausalitas
  • apa itu KONTINGEN
  • prinsip hukum kausalitas
  • definisi kausalitas
  • causality arti
  • kausalitas pengertian

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kausalitas
  • prinsip kausalitas
  • arti kausalitas
  • apa itu KONTINGEN
  • prinsip hukum kausalitas
  • definisi kausalitas
  • causality arti
  • kausalitas pengertian