Profil sosiologi yang berubah

Berbagai usaha seringkali dilakukan untuk mereduksi keanekaragaman dan keterbukaan diskursus sosiologi menjadi serangkaian periode yang terbatas, masing-masing dibedakan oleh kekuasaan, atau setidaknya kelaziman, dari paradigma tunggal bentuk konsep yang saling berkaitan yang koheren dan terbatas. Tetapi sulit untuk menganggap sosiologi sebagai sebuah formasi diskursif dengan batas-batas, dengan ciri-ciri “ilmu pengetahuan normal” dalam pengertian Thomas Khun, yang memfokuskan pada paradigma yang sama. Karena selalu merupakan bagian dan bidang dari kehidupan intelektual maka pergeseran di dalam kepentingan diskursus sosiologi dan di dalam tugas yang diambil oleh sosiologi itu sendiri, lebih dari segalanya, mencerminkan perubahan kultural secara umum.

Telah diakui bersama, paruh kedua abad ke-20 telah membawa perubahan yang paling radikal terhadap semua pergeseran kebudayaan modern sejak pertama kali muncul ke permukaan. Konsekuensi yang paling penting dan mempunyai kemungkinan untuk berkembang adalah jatuhnya hirarki nilai yang sampai kini masih yang mempertanyakan semua kepastian modern, dan, terutama, keyakinan bahwa bentuk masyarakat modern di barat merepresentasikan bentuk peradaban yang pada akhirnya akan menjadi universal, dan bahwa (meskipun ada perlambatan temporer dan kadang-kadang juga ada kemunduran) dipastikan ada kemajuan yang terus-menerus ke arah masyarakat yang rasional dan tanpa cela. Erat kaitannya dengan krisis kepercayaan ini adalah mundurnya berbagai kekuatan dari proyek dominasi global, dan penurunan bertahap. namun terus-menerus, terhadap penghargaan kepada cita-cita sebuah negara yang mengatur semuanya, yang secara obsesif terlibat dalam usaha besar rekayasa sosial.

Konsekuensi yang paling penting bagi bentuk dan status sosiologi adalah hilangnya posisi meng-untungkan yang darinya sebagian besar karya sosiologi ortodoks telah dikerjakan: yakni kokpit, atau ruang kendali, suatu pusat administratif yang berkeinginan dan cukup mampu memperlakukan masyarakat sebagai sebuah obyek yang dapat dimonitor secara dekat dan dikelola, setelah proses sosial dianalisa menjadi serangkaian persoalan yang dapat didefinisikan dan secara prinsip dapat dipecahkan. Yang jelas banyak dari karya yang dikerjakan di dalam jurusan sosiologi mempertahankan kesan masa lalu disiplin ini ketika menghadapi tuntutan yang berasal dari birokrasi kesejahteraan dan peperangan yang semakin meluas. Meskipun demikian trend keseluruhan adalah jauh dari cara-cara yang lama dan mengarah kepada perspektif “kognitif” baru. Tidak diragukan lagi bahwa sifat dan tugas usaha-usaha sosiologis kini dipahami dengan cara yang berbeda dari pemahaman ada paruh pertama abad ke-20.

Ringkasnya, fokus minat sosiologis bergeser dari structures ke agency, dari masyarakat yang dipahami terutama sebagai seperangkat batasan eksternal yang membatasi bidang pilihan yang tersedia untuk anggota-anggota masyarakat tersebut, dan dalam beberapa hal menentukan perilaku mereka, menuju kepada latar belakang sosial yang dipahami terutama sebagai kumpulan sumber daya yang diambil oleh aktor-aktor untuk mengejar kepentingan mereka sendiri. Kini tidak lagi banyak yang menganggap masyarakat sebagai pola posisi dan fungsi sosial yang mengekalkan dirinya sendiri, namun kini lebih banyak anggapan bahwa masyarakat adalah sebuah proses yang terus-menerus berlangsung, yang dalam perjalanannya menyatukan dan membongkar (selalu bersifat sementara) jaringan ketergantungan dan tahap-tahap bagi tindakan. Meskipun kategori masyarakat tampaknya tidak akan hilang dari diskursus sosiologi, namun maknanya se-dang mengalami perubahan yang sangat penting. Kategori tersebut semakin banyak dipakai di dalam pengertian sociatio (aktor sosial masuk ke dalam atau mengabaikan hubungan) atau namun lebih bersifat gejala di dalam pengertian “sociality’ (yang berarti kapasitas dasar aktor untuk bersosialisasi). Hal ini jelas merupakan pergeseran krusial: ciri-ciri atau penekanan baru lainnya yang dikemukakan di bawah ini, dan membentuk wacana sosiologi kontemporer, mungkin direpresentasikan sebagaimana manifestasi atau konsekuensinya.

Apabila dulu sosiologi terutama berhubungan dengan semua aspek stabilitas, reproduksi diri dan perulangan, dan dengan jalan atau cara mengamankan semua aspek tersebut (perhatian utama dari “teori sistem” Talcott Parson yang pernah dominan dan perhatian dari fungsionalisme struktural), maka kini perhatian beralih kepada studi inovasi. Dipahami bahwa setiap tindakan adalah semacam kerja kreatif, meskipun pemahaman ini selalu mengambil penjelasan dari pola-pola yang telah ada dan bermakna.

Penekanan juga jauh bergeser penelitian hukum dan keteraturan. Tindakan tidak lagi dianggap sebagai kepastian, tetapi lebih sebagai kemungkinan, setiap tindakan adalah kreasi unik, dan karena itu sebenarnya tidak dapat diprediksi. Keraguan juga ditujukan kepada nilai prediktif dari statistik. Diakui bahwa sebagian besar fenomena yang sering terjadi tidak selalu merepresentasikan trend masa depan. Akibatnya, tampaknya tidak ada kriteria yang jelas untuk mengantisipasi konsekuensi dari kejadian, dampak dan durabilitasnya, dan karena itu, untuk menilai signifikansinya. Hal ini pada gilirannya mengakibatkan erosi obyek atau daerah studi sosiologi yang pernah menjadi pusat perhatian dan bersifat khusus. Karena sosiologi tidak lagi berhubungan dengan “konflik dasar,” “hubungan utama,” atau “proses yang mengarahkan,” maka tidak jelas mengapa beberapa topik tertentu, aktor atau peristiwa harus diberikan prioritas oleh para sosiolog.

Perhatian para sosiolog bergeser dari ruang kendali (dari isu-isu seperti dampak negara, dominasi kelas, dan sebagainya) ke interaksi sehari-hari dan mendasar, ke tingkat akar rumput dari realitas, ke apa yang aktor lakukan satu sama lain dan kepada mereka sendiri, di dalam konteks interaksi langsung. Di bawah pengaruh argumen Alfred Schutz yang menyatakan bahwa “dunia di dalam jangkauan” memberikan arketip untuk para aktor suatu model dari semua “kesemestaan makna yang lain (Schutz 1982), diasumsikan bahwa keahlian dan pengetahuan yang esensial secara reflektif atau tidak reflektif, yang disebarkan oleh para aktor di dalam kehidupan sehari-hari mereka pada akhirnya bertanggung jawab atas apa yang dianggap sebagai trend global dan impersonal, atau bertahannya struktur obyektif.

Ketika para aktor dianggap mempunyai banyak pengetahuan dan dalam prinsipnya mudah untuk memonitor diri sendiri, maka tugas utama investigasi sosiologis berubah menjadi rekonstruksi pengetahuan mereka. Hal ini secara dramatis mengubah peran yang selama ini dianggap masuk akal di dalam diskursus sosiologi, yang pada awalnya dianggap interpretasi alternatif yang lemah informasinya, dan secara esensial keliru, terhadap realitas sosial kini menjadi sumber utama bagi interpretasi sosiologis. Sosiologi, sampai pada derajat yang belum pernah terjadi sebelumnya, kini menerima pandangan hermeneutika, menekankan bahwa realitas sosial secara intrinsik adalah bermakna (diberi makna oleh aktor yang memproduksinya), dan bahwa untuk memahami realitas tersebut maka seseorang harus merekonstruksi makna yang diberikan oleh aktor tersebut. Ini tidak selalu berarti bahwa para sosiolog harus berusaha sampai pada empati: untuk menemukan apa yang sedang dipikirkan para aktor, untuk menerangkan motif kesadaran dan tujuan eksplisit mereka. Ahli-ahli sosiologi masih cenderung menyangkal bahwa para aktor selalu merupakan penilai interpretasi sosiologis yang paling baik. Tetapi pendekatan hermeneutika bukan berarti bahwa penjelasan atau penafsiran realitas sosial harus memperlakukan aktor sebagai pengendali-makna dan pencipta-makna, ketimbang sebagai orang yang didorong dan ditarik oleh desakan dan kekuatan yang secara obyektif dapat digambarkan.

Trend lain yang berhubungan erat adalah perpindahan di dalam ketertarikan dari koersi dan desakan eksternal ke konstruksi diri dan definisi diri dari aktor. Tindakan adalah bermakna, aktor

mempunyai pengetahuan, secara konstan merefleksikan identitas dan motif-motif tindakan mereka. Dapat dikatakan bahwa jika manusia dipandang oleh sosiolog ortodoks terutama dikendalikan oleh kebutuhan dan sasaran dari kekuatan sosial maka mereka kini cenderung lebih sering ditafsirkan dikendalikan oleh identitas subyek yang termotivasi dan mempunyai pilihan.

Trend yang paling umum adalah mengesampingkan organisasi sosial untuk mencari pemicu tindakan sosial yang sebenarnya. Dengan demikian ahli sosiologi kontemporer lebih memberi perhatian kepada komunitas (community dengan mengorbankan “society” atau “masyarakat (yang di dalam sosiologi modem diasumsikan, demi tujuan praktis, identik dengan negara-bangsa). Dalam selang waktu yang lama para sosiolog percaya bahwa komunitas adalah peninggalan dari masa pra-modern, yang ditakdirkan lenyap seiring dengan berjalannya modernisasi. Kini posisinya dikembalikan ke posisi utama di dalam analisis sosiologis, dan dianggap sebagai sumber tertinggi dari makna yang dipunyai aktor, dan, karena itu, dari realitas sosial itu sendiri. Komunitas tersebut dianggap sebagai penyangga tradisi, yang dipertahankan dan diciptakan kembali oleh tindakan-tindakan dari para anggotanya; menjadi sumber uta ma dari semua komunitas umum (commonality) yang dijumpai di dalam makna para aktor; dan menjadi poin referensi dalam proses di mana para aktor mendefinisikan diri mereka sendiri dan membentuk identitasnya (dan dengan demikian, secara timbal balik, mempertahankan komunitas). Berbeda dengan “masyarakat,” yang diidentikkan dengan negara-bangsa, komunitas tidak memiliki batas-batas obyektif (yaitu batas-batas yang dijaga oleh kekuatan koersif). Komunitas adalah cair, dan kekuatan yang mencengkeram anggotanya mungkin juga beragam bentuknya (cengkeraman itu tidak lain adalah intensitas dari identifikasi emosional para aktor dengan apa yang mereka rasakan, atau bayangkan, sebagai komunitas).

Para sosiolog mengatakan bahwa komunitas adalah imagined. Sebagaimana pandangan dalam sosiologi kontemporer, komunitas adalah sesuatu yang dipostulatkan, postulat tersebut menjadi kenyataan ketika tindakan dilakukan seolah-olah tindakan tesebut adalah realitas. Karena itu ada sifat saling mempengaruhi yang konstan antara aktor dan komunitas “mereka,” yang tidak diberi prioritas di dalam analisis sosiologi.