PROSES TERBENTUKNYA PIMPINAN MASYARAKAT

57 views

Ada suatu ungkapan yang menyebutkan bahwa pimpinan itu ”dilahirkan”, artinya dilahirkan oleh situasi dan kondisi dari masyarakat. Benar tidaknya ungkapan ini perlu ditelaah melalui proses- prosesnya, baik di dalam lingkungan masyarakat maupun dalam diri individu yang dinamakan pimpinan, sehingga dapat ditelusuri dengan cara bagaimana ia dapat muncul sebagai pemimpin atau tokoh di dalam masyarakat atau kalangannya.

Di dalam suatu uraian tentang kepemimpinan, terdapat asumsi yang menerangkan adanya kepaduan dan aspek-aspek lain yang mendukung kesatuan kelompok sehingga selalu terdapat perbedaan fungsi yang bersifat internal. Maksudnya adalah adanya aktivitas yang lebih besar dan intensitas interaksi yang berbeda daripada yang lain. Dalam hal ini kepemimpinan adalah salah satu aspek dari bentuk diferensiasi fungsi internal itu (Edgar Vinacke). Dikatakan sebagai salah satu aspek, menunjukkan bahwa mungkin secara struktural seseorang mempunyai diferensiasi fungsi internal. Misalnya seseorang mempunyai kemampuan-kemampuan sebagai pemimpin, akan tetapi bila situasi dan kondisi dalam kelompok tersebut belum atau tidak memungkinkan bagi seseorang itu untuk muncul sebagai pemimpin, maka ia akan tetap seperti anggota kelompok yang lain.

Di samping hal yang telah dijelaskan di atas, maka meskipun secara struktural seorang pimpinan menduduki status penting di atas yang lain, namun hal ini belum menjamin adanya efektivitas fungsinya sebagai pemimpin. Untuk menentukan arti kedudukan pimpinan cukup sulit bila dilihat dari segi korelasi antara efektivitas fungsi dan status yang dimiliki, tetapi arti kedudukan ini banyak bersangkut-paut dengan masalah bagaimana kedudukan tersebut diperoleh. Artinya kedudukan ini akan sangat berarti bila dicapai atas dasar pemilihan anggota kelompok itu sendiri.

Dalam hal cara bagaimana seseorang mencapai kedudukan pimpinan yang tidak diwariskan, mungkin karena faktor nasib baik ia dapat menjadi pimpinan. Dalam hal ini, mungkin karena situasi krisis yang terjadi dalam masyarakat menyebabkan individu tadi yang sebelumnya tidak populer sama sekali dapat muncul sebagai tokoh yang sangat berpengaruh.

Dapat juga seseorang muncul sebagai pimpinan karena usahanya untuk mempertahankan sistem pengontrolan kelompok yang konvensional. Di sini ia mencoba menolak suatu inovasi yang dirasakan dapat merusak seluruh konstelasi sistem yang ada dalam kelompok tersebut. Kemunculan seperti ini disebut defending. Kemungkinan lain adalah bila seseorang mencapai posisi pimpinan oleh karena sesuatu sebab yang disebut tantangan atau dalam istilah asing Leadership by challenging, artinya ia menginginkan adanya inovasi dalam sistem dari kelompoknya. Keinginan itu mendorongnya untuk mengorganisasi kekuatan-kekuatan yang mendukung gerakan ke arah perubahan yang diinginkannya.

Uraian tersebut di atas adalah gambaran tentang bagaimana seorang pimpinan “lahir” dalam kaitannya dengan situasi di mana ia berada. Situasi tersebut merupakan salah satu faktor yang secara langsung sangat menentukan kelahirannya, di samping faktor-faktor individual yang terdapat di dalam diri individu dan faktor-faktor kebutuhan yang secara nyata terdapat dalam kelompok yang bersangkutan.

Seseorang mungkin telah memiliki persyaratan individu yang dapat mendukungnya menjadi pimpinan, akan tetapi bila situasi yang dalam hal ini berarti kesempatan tidak memungkinkan, misalnya dalam kelompok tersebut banyak individu lain yang mempunyai potensi sebaik dia maka timbul keadaan kompetisi, yang berarti makin kecil peluang untuk individu tersebut mempunyai status sebagai pimpinan.

Selain hal di atas, maka kondisi-kondisi yang relatif stabil juga dapat merupakan faktor penghambat. Hal ini dapat dilihat dalam sistem masyarakat yang masih tradisional, di mana pimpinan kelompok lebih banyak dipilih atas dasar garis keturunan yang dikukuhkan melalui hukum adat. Begitu juga lamanya seorang pimpinan menjabat. Biasanya pemimpin tradisional memimpin sampai lanjut usia, sehingga menyukarkan penggantian tampuk pimpinan. Dalam kehidupan modern, masyarakat lebih mementingkan faktor-faktor individual, sehingga seringkah untuk mendaki atau menaiki jenjang sosial tertentu, berlaku suatu sistem kompetisi yang cukup berat. Dalam hal seperti ini faktor kesempatan sangat memegang peranan, sehingga timbul suatu asumsi bahwa tidak mungkin seorang pimpinan besar akan timbul tanpa adanya situasi yang krisis (polak).

Selain faktor kesempatan dan keberuntungan, maka anggota kelompok merupakan daya dukung yang harus ada di dalam kepemim-pinan, yang ikut menentukan apakah seseorang dapat menjadi pimpinan atau tidak. Hal ini ditinjau baik dari segi kebutuhan kelompok maupun dari segi proses-proses yang terjadi dalam kelompok itu sendiri, misalnya kekompakannya, motivasi anggotanya, dan semua kualitas-kualitas yang ada di dalam kelompok.

Incoming search terms:

  • pimpinan masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *