Ras dalam biologi manusia

Konsep biologi tentang ras , sebagaimana telah dipaparkan di atas, sudah diterapkan pada populasi-populasi spesies manusia yang hidup sekarang. Setidaknya sejak masa hidup pakar naturalis dan sistematika Swedia Linnaeus (1707- 78), semua makhluk hidup secara formal sudah diklasifikasi sebagai anggota-anggota spesies tunggal, Homo Sapiens. Akumulasi sisa-sisa fosil keluarga manusia sejak pertengahan abad ke-19

menunjukkan bahwa bentuk-bentuk lebih awal yang hidup [dan] secara sah bisa dianggap sebagai spesies-spesies yang berbeda dari genus yang sama, misalnya Homo habilis dan Homo erectus. Spesies kita, Homo sapiens, sangat mungkin muncul antara setengah dan sepertiga juta tahun sebelum sekarang.

Ketika Homo sapiens pertama kali tersebar di Dunia Lama dan, lebih belakangan, di Dunia Baru. spesies ini terpecah dalam zona-zona geografis dan berbagai ceruk ekologis menjadi banyak populasi. Sekarang kita berada dalam situasi di mana manusia yang hidup terbagi-bagi menjadi beberapa subbagian besar (major) dan kecil (minor) yang sebagian dari jenis-jenis variasi serupa juga diterapkan pada makhluk hidup lain. Dengan demikian, populasi-populasi juga menunjukkan variasi morfologis, termasuk beberapa batas yang terkait dengan batas-batas lingkungan, dan frekuensi-frekuensi gen yang bervariasi dengan dines distribusinya sehingga dalam hal tanda-tanda genetik individual menyimpang dari kelompok-kelompok populasi berdasarkan morfologik.

Para pakar antropologi fisik, yang mengandalkan sifat bawaan morfologik, sejak lama telah membagi umat manusia ke dalam ras-ras mayor berdasarkan geografi (yang juga disebut ras-ras mayor, sub-sub spesies dan konstelasi-konstelasi ras-ras). Sebagian besar klasifikasi mengenal tiga sub bagian besar, yaitu sub bagian Negroid, Mongoloid dan Kaukasoid; sejumlah peneliti juga memunculkan ras-ras mayor (besar) lain, seperti Amerind dan Oseanian. Dalam ras-ras mayor itu, terdapat puluhan ras minor (atau secara sederhana disebut ras saja), jumlah yang teridentifikasi itu bervariasi sesuai dengan penelitinya. Sedangkan untuk makhluk-makhluk hidup lainnya, klasifikasi Homo sapiens yang ada secara historik didasarkan atas sifat bawaan morfologi, seperti warna kulit, bentuk rambut dan ukuran tubuh. Sejak diterapkannya analisis genetik yang pertama dikaitkan dengan golongan darah dan kemudian dengan varitas protein-proteinnya, clines ternyata berada di antara batas-batas ras-ras minor dan bahkan ras-ras mayor. Selain itu ditemukan juga bahwa variasi genetis di antara ras-ras mayor itu kecil saja dibandingkan dengan variasi intra-rasialnya. Berbagai kesangsian mulai dikemukakan mengenai apakah ada landasan biologis yang mendukung klasifikasi ras-ras manusia itu (misalnya, Lewontin 1972).

Masalah itu diperumit dengan fakta bahwa, meskipun analisis genetik tidak hanya mendasarkan pada sifat bawaan seperti golongan-golongan darah ABO, MN dan Rh, melainkan juga sejumlah besar sifat bawaan lainnya, namun kesimpulan yang didapat selalu berbeda-beda seiring kombinasi dan jumlah sifat bawaan yang digunakan. Sebagai contoh, Piazza et al. (1975) menganalisis data frekuensi 18 gene loci pada 15 populasi manusia yang representatif: mereka menemukan bahwa populasi-populasi Negroid secara genetis lebih dekat dengan populasi-populasi Kaukasoid daripada dengan kelompok populasi mana pun yang diklasifikasikan sebagai Mongoloid. Sebaliknya, hal ini ditafsirkan sebagai menganggap penting pemisahan filogenetik sebelumnya antara Mongoloid, di satu pihak, dan Negroid-Kaukasoid di pihak lain, dan pemisahan yang belakangan lagi (yang lebih mutakhir) antara Negroid dan Kaukasoid.

Namun analisis Nei (1978), yang didasarkan atas sebelas loci protein dan sebelas loci golongan darah pada dua belas populasi manusia, pertama-tama menunjukkan pemisahan antara Negroid dan Kaukasoid-Mongolid. Berikutnya, Nei (1982) dan Nei dan Roychoudhury(1982) masih dengan menggunakan sifat bawaan genetik dalam jumlah lebih besar, yakni 62 loci protein dan 23 loci golongan darah, yaitu 85 loci gen pada semuanya, di mana data diperoleh itu untuk jumlah 18 populasi dunia. Menarik sekali, sementara data protein menunjukkan pemisahan pertama antara Negroid dan Kaukasoid-Mongolid, sedangkan data golongan darah menunjukkan afinitas yang sedikit lebih dekat dan karena itu merupakan pemisahan yang lebih mutzkhir antara Negroid dan Kaukasoid.

Jelas, catatan terakhir itu belum menyinggung pola afinitas-afinitas yang pasti di antara ras-ras yang masih ada. Juga tidak ada konsensus mengenai apakah ukuran variasi genetik intrarasial, dibandingkan dengan interrasial, menghancurkan setiap landasan biologik yang mendukung klasifikasi ras-ras manusia itu. Dua kajian yang representatif untuk dikutip adalah Lewontin (1972) yang meyakini tidak adanya landasan sama sekali dan Nei dan Roychoudhury (1982) yang tidak setuju dengan Lewontin dan menyatakan bahwa, meskipun variasi gen interrasial itu kecil, namun diferensiasi genetik itu jelas nyata dan secara umum dan statistik sangat signifikan. Selain itu, juga jelas bahwa, dengan menggunakan estimasi-estimasi jarak genetik, Piazza et al.(1975), Neidan Roychoudhury (1982) dan lain-lainnya sudah memberi kemungkinan untuk mengkaji hubungan-hubungan genetik di antara ras-ras manusia yang dirumuskan terutama berdasarkan morfologi, membangun beberapa dendogram dan memberikan beberapa pengertian mengenai pola evolusi manusia mutakhir. Dengan demikian, para peneliti yang disebut belakangan itu sudah menemukan bukti dari loci protein untuk menyatakan bahwa kelompok-kelompok Negroid dan Kaukasoid-Mongolid berbeda satu sama lain kira-kira 110.000 – 34.000 tahun sebelum sekarang, sedangkan kelompok-kelompok Kaukasoid dan Mongolid berbeda pada kira-kira 41.000 – 15.000 tahun sebelum sekarang. Estimasi-estimasi ini sangat tergantung pada sejumlah asumsi dan bisa dimodifikasi dengan tambahan lebih banyak data.

Salah satu hal lagi bisa disebutkan di sini: batas diferensiasi genetik di antara ras-ras manusia yang ada, sebagaimana ditentukan oleh kajian tentang loci protein, tidak selalu terkait erat dengan tingkat diferensiasi morfologi. Memang perubahan evolusioner dalam ciri-ciri morfologik tampaknya diatur oleh faktor-faktor yang sangat berbeda dengan faktor-faktor yang mengatur diferensiasi genetik dalam gen-gen pembentuk protein ras-ras manusia, berdasarkan bukti yang diperoleh sekarang. Diferensiasi genetik pada loci protein tampaknya terjadi pada umumnya karena proses-proses biologis itu seperti mutasi, penyimpangan dan isolasi genetik, dengan migrasi yang memainkan peranan penting dalam pembentukan hubungan-hubungan genetik mutakhir di antara ras-ras manusia. Namun, ciri-ciri morfologik jelas tunduk pada seleksi alam yang lebih kuat daripada “loci protein rata-rata” (Nei dan Roychoudhury 1972; 1982).

Pendek kata, konsep ras bisa diterapkan terhadap manusia modern bahkan jika harus menggunakan prosedur-prosedur analisis mo-dern dari para ahli genetik populasi, dan pene-rapan semacam ini ternyata juga memiliki nilai heuristik. Namun demikian, dengan mengesam-pingkan pertimbangan-pertimbangan sosiopolitik, sejumlah peneliti modern yang meneliti variasi intraspesifik manusia menemukan bahwa lebih berguna dan lebih valid untuk mendasarkan kajian-kajian terhadap populasi seperti itu, sebagai unit analisis, dan sudah seharusnya membuang konsep ras dari segala kegiatan penelitian.

Incoming search terms:

  • pengertian subras

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian subras