Ras sebagai konsep biologi

Banyak, atau barangkali sebagian besar, spesies makhluk hidup terdiri dari sejumlah populasi yang bisa dibedakan berdasarkan geografi dan memiliki ceruk (niche) ekologi yang sangat beragam. Untuk menciptakan susunan bagi berbagai sub bagian dalam sebuah spesies, para ahli biologi menggunakan istilah seperti subspesies, ras dan populasi untuk mengklasifikasikan berbagai kelompok komunitas yang membentuk sebuah spesies. Jadi. dalam sebuah spesies di mana dua subspesies atau lebih diakui eksistensinya, maka sebuah ras terdiri dari populasi-populasi atau agregarasi populasi yang masing-masing membentuk sub spesies, istilah ras sering diubah: ahli biologi mengenal ras-ras geografis” (yang mungkin anonim dengan subspesies); ras-ras ekologis” di mana, dalam satu spesies terdapat populasi-populasi yang dibedakan berdasarkan ekologi; dan “ras-ras mikrogeografik” yang mengacu pada populasi-populasi lokal (Mayr 1963).

Meskipun para ilmuwan peneliti kelompok makhluk hidup bisa saling berbeda antar satu sama lain dalam hal detail klasifikasi intraspesifik. namun selama beberapa waktu telah muncul kesepakatan umum bahwa ras merupakan kon-sep biologi yang valid. Pada masa lalu, perbedaan-perbedaan antar ras dalam suatu spesies sudah diidentifikasi berdasarkan morfologinya, yakni, struktur fisik yang bisa diamati.

Sejak pertengahan tahun 1930-an, dan terutama sejak tahun 1950, para ahli biologi, yang tidak puas dengan kajian terhadap populasi-populasi yang terbentuk secara morfologik dalam spesies, sudah melakukan kajian terhadap komposisi genetik sub-sub bagian dalam spesies itu. Kajian-kajian ini mengarahkan perhatiannya pada sejumlah ciri non-morfologi seperti gen untuk golongan darah dan untuk protein-protein spesifik. Ketika ciri-ciri pembawaan ini dianalisis, mereka menyatakan tidak ada batas-batas yang tegas dan tepat antara ras-ras dan populasi-populasi dalam sebuah spesies. Untuk tanda genetik semacam itu, bukan hal aneh untuk menemukan bahwa frekuensi sifat bawaan yang sedang diteliti ini tersebar di sepanjang gradien (atau cline) yang memotong batas-batas ras, sebagaimana yang dibatasi berdasarkan morfologi. Clines gen semacam itu sering tidak sejajar dengan gradien lingkungan yang bisa dideteksi; clines tampak netral dalam hubungannya dengan agen-agen seleksi alam dalam lingkungan tersebut.

Tanda-tanda genetik dalam suatu spesies bisa bervariasi sesuai dengan berbagai gradiennya. Dengan demikian, jika seorang ilmuwan mengandalkan suatu pemikiran tentang sub-sub bagian suatu spesies atas distribusi tanda genetik tertentu, maka ia mungkin menarik kesimpulan yang berbeda dari kesimpulan yang berasal dari penggunaan tanda genetik lain. Karena itu metode-metode analisis terbaru menggabungkan frekuensi-frekuensi berbagai tanda genetik, dengan harapan agar menghasilkan pemilahan populasi-populasi yang lebih merefleksikan hubungan genetik obyektif dari sub-sub bagian dalam satu spesies.

Gradien-karakter juga diterapkan pada beberapa bagian morfologi. Artinya, beberapa bagian struktural seperti ukuran tubuh, ukuran telinga, atau warna, berubah secara bertahap dan berkesinambungan di berbagai wilayah yang luas. Batas- batas seperti itu, berbeda dengan clines genetik, terlihat sesuai dengan gradien-gradien dalam bagian environmental dan seingat mungkin timbul karena peristiwa seleksi alam (Huxley 1963). Namun, frekuensi-frekuensi gen yang mengatur karakter morfologi kurang lazim digunakan dalam

kajian tentang hubungan antar genetik dalam satu spesies, karena berbagai alasan: pertama, sifat-sifat bawaan seperti itu sering merupakan kausasi genetik yang rumit, sulit dan bahkan tidak pasti; kedua, banyak di antaranya dan, terutama, ciri-ciri yang dapat diukur ditentukan tidak oleh pasangan gen yang tunggal, melainkan oleh sejumlah pasangan gen yang berbeda-beda; ketiga, sifat-sifat seperti itu sangat rentan terhadap modifikasi lingkungan: misalnya, bila binatang-binatang hidup di wilayah subur dan makan lebih banyak makanan, maka binatang-binatang itu diharapkan akan tumbuh lebih besar daripada binatang-binatang sesama spesies yang hidup di wilayah yang lebih tandus. “Sensitivitas eko” sifat- sifat bawaan metrik tubuh ini menyebabkan binatang-binatang tersebut kurang bermanfaat dalam analisis terhadap afinitas-afinitas genetik.

Pendek kata, ras adalah konsep biologi. Ras- ras dikenali melalui kombinasi faktor geografi, ekologi dan morfologi dan, sejak tahun 1970-an, melalui beberapa analisis terhadap penyebaran frekuensi-frekuensi gen untuk sejumlah kompo-nen yang pada dasarnya non-morfologik dan biokimiawi. Selama orang hanya memusatkan perhatian pada sifat-sifat bawaan morfologi saja, maka mungkin tidak sulit untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ras-ras memang berbeda satu sama lain secara khas dengan batas-batas yang tegas; penerapan pandangan dan analisis genetis terhadap masalah tersebut secara progresif menunjukkan bahwa varian-varian gen (atau alleles) yang dapat dikenali sama sekali tidak terkait dengan batas-batas hipotetik semacam itu. Memang sering, satu ras bergabung dengan ras lainnya melalui bentuk-bentuk antara, sementara para anggota satu ras bisa dan benar-benar saling berkembangbiak dengan para anggota ras-ras lain. Sehingga, dimasukkannya penilaian genetis dalam berbagai bahasan tentang ras justru mengaburkan garis-garis setiap ras, dan juga melemahkan konsep ras itu sendiri.

Incoming search terms:

  • ras sebagai konsep biologis

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • ras sebagai konsep biologis