CIRI-CIRI UMUM TERAPI PASANGAN – Dalam semua terapi pasangan masing-masing pasangan dila tih untuk mendengarkan pasangannya dengan empati dan untuk menyatakan dengan jelas kepada pasangannya agar mengatakan apa yang dipahaminya dan perasaan yang ada di balik ucapan tersebut. Salah satu cara memperbaiki komunikasi adalah dengan membedakan antara maksud kata-kata tersebut dan dampaknya. Sebagai contoh, pasangan A berharap akan membantu dengan menanyakan kepada pasangannya apakah ia ingin membeli sesuatu di toko, namun pertanyaan ini dapat berdampak negatif jika pasangannya lebih suka A tinggal di rumah dan membantu mengerjakan suatu pekerjaan. Pasangan A bermaksud positif, namun pertanyaannya berdampak negatif bagi pasangannya.

Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pasangan yang bermasalah dan pasangan yang bahagia mungkin tidak jauh berbeda dalam maksudnya, namun tidak dalam dampaknya. Dalam suatu studi Gottman dan para koleganya (1976) menemukan bahwa kedua tipe pasangan mengucapkan pernyataan positif pada pasangannya sama banyaknya, namun pasangan yang bermasalah menuturkan bahwa mereka mendengar lebih sedikit pernyataan positif dari pasangannya. Gottman mengajukan suatu teknik untuk mengklarifikasi maksud suatu pernyataan ketika kedua pasangan sedang dalam pertengkaran yang memanas. Salah satu dari mereka mengatakan, “berhenti bertengkar,” dan meminta yang lain mengatakan keyakinannya mengenai maksud ucapan pasangannya. Umpan balik tersebut langsung menunjukkan apakah kata-kata yang diucapkan berdampak sesuai dengan yang dimaksudkan. Suatu pola interaksi yang disebut siklus tuntutanpenarikan diri secara luas dianggap destruktif bagi pasangan. Dijelaskan pertama kali oleh para peneliti MRI (Watzlawick, Beavin, & Jackson, 1967) dan fokus penelitian kontemporer terhadap orang lain (Christensen & Pasch, 1993; Christensen & Shenk, 1991), pola tuntutan-penarikan diri ditandai dengan upaya salah satu pasangan untuk membahas suatu masalah dan yang lain menghindari atau menarik diri dari upaya semacam itu. Penarikan diri tersebut mendorong timbulnya tuntutan yang lebih besar dari pasangan yang pertama yang kemudian terus berupaya lebih keras untuk melibatkan yang lain, namun justru mendapatkan penolakan yang lebih besar. Demikianlah siklus tersebut semakin kuat. Christensen dan Heavey (1990) berpendapat bahwa terdapat perbedaan gender dalam pola ini; perempuan cenderung berada dalam posisi menuntut, sedangkan laki-laki biasanya menarik diri. Pola ini terdapat pada pasangan yang mengalami konflik seputar kedekatan; orang yang menuntut perubahan berupaya menciptakan kedekatan dan orang yang menghindari interaksi berjuang untuk memperoleh atau mempertahankan otonomi (Christensen, 1987). Peran tersebut juga dapat bervariasi tergantung pada siapa yang menghendaki perubahan dan siapa yang lebih memilih agar hubungan mereka tetap seperti saat ini (Christensen & Pasch, 1993). Mengetahui siapa yang umumnya memainkan peran apa pada satu pasangan dapat bermanfaat bagi terapis pasangan dalam merencanakan stra tegi intervensi untuk menghentikan siklus destruktif tersebut.

Terapi pasangan dan keluarga selama bertahuntahun telah memanfaatkan secara kreatif perala tan rekaman video. Pasangan dapat diberi suatu masalah untuk diselesaikan sebagai bagian dalam satu sesi terapi, seperti ke mana akan pergi berlibur, dan dapat direkam gambarnya ketika mereka berusaha memutuskannya. Cara mereka mengegolkan keinginan mereka sendiri atau gagal dan cara mereka mengakomodasi keinginan yang lain atau gagal hanya merupakan salah satu aspek pola komunikasi mereka yang dapat dipahami oleh terapis dengan menyaksikan rekaman video situasi tersebut setelahnya, sering kali juga bersama pasangan tersebut. Pola komunikasi dan kesalahan komunikasi dapat langsung dibedakan dengan menggu-nakan cara ini. Pasangan dapat menyepakati untuk mencoba menggunakan cara baru dalam bernegosiasi dan berhadapan dengan isu-isu yang menimbulkan konflik (Margolin & Fernandez, 1985). Suatu praktik umum di kalangan terapis keluarga adalah memberikan tugas-tugas rumah yang spesifik kepada pasangan untuk melatih berbagai pola interaksi baru yang telah mereka pelajari di dalam sesi dan memulai proses penting untuk menggeneralisasi perubahan dari ruang konsultasi ke dalam kehidupan sehari-hari. Pasangan dapat diminta untuk berlatih Berbagai Isu Umum dan Pertimbangan Khusus Tingkat keparahan dan karakteristik disfungsi perkawinan yang ditangani para terapis tidak seluruhnya sama, seperti yang dikatakan oleh Margolin dan Fernandez (1985). Satu pasangan dapat mencari bantuan profesional ketika hanya terjadi ketidakpuasan dalam hubungan mereka, namun pasangan yang lain dapat menunggu hingga krisis yang terjadi sudah sangat parah sehingga salah satu dari mereka atau keduanya telah berkonsultasi dengan pengacara perceraian. Dengan demikian, terdapat berbagai tahap yang berbeda dalam masalah perkawinan (Duck, 1984; Weiss & Cerreto, 1980), dan dapat digunakan pendekatan terapeutik yang berbeda, tergantung pada penilaian terapis mengenai di titik mana pasangan tersebut berada. Contohnya, pasangan yang telah menikah selama lima tahun dan berada di ambang perceraian, serta terdapat ancaman kekerasan fisik, membutuhkan pendekatan yang lebih direktif dan lebih intensif dibanding pasangan yang setelah selama sepuluh tahun cukup bahagia kemudian merasa bahwa mereka saling menjauh.

Satu isu penting adalah memutuskan siapakah sebenarnya yang menjadi pasien. Istilah pasien yang teridentifihasi sering kali digunakan bila lebih dari satu anggota keluarga menemui seorang terapis, terutama bila orang tua berkonsultasi dengan terapis karena masalah yang dialami anak mereka. Selain itu, penanganan berjalan paling baik bila anggota keluarga sepakat mengenai masalah yang harus ditangani. Kesulitan juga dapat timbul bila salah satu pasangan ingin mengakhiri hubungan dan yang lain ingin mempertahankannya. Terakhir, terapi pasangan bervariasi tergantung pada ada atau tidaknya keterlibatan anak-anak.

Terapi keluarga menjadi semakin rumit bila terjadi penyiksaan seksual atau non-seksual. Terapis harus mempertimbangkan pengaruhnya bagi pasangan yang mengalami penyiksaan dan bagi anak-anak yang kemungkinan juga mengalami penyiksaan bila harus menyelamatkan hubungan karena bila terjadi penyiksaan terhadap pasangan maka kemungkinan besar juga terjadi penyiksaan terhadap anak-anak. Terlepas dari siapa yang teridentifikasi sebagai pasien, terapis harus sensitif terhadap kebutuhan semua orang yang hidupnya dipengaruhi oleh hubungan tersebut (Kadis & McClendon, 1995). Pertimbangan etis lain dalam terapi keluarga mencakup bagaimana menghadapi pengungkapan rahasia oleh salah satu pasangan ketika yang lain tidak hadir. Beberapa terapis menangani hal ini dengan menyampaikan kepada pasangan di awal terapi bahwa tidak satu pun dari yang diceritakan oleh salah satu pasangan kepada terapiS akan dirahasiakan dari yang lain. Beberapa terapis lain merasa kebijakan tersebut dapat menghambat mereka untuk memperoleh informasi yang bernilai (Kadis & McClendon, 1995).

Sebuah penelitian yang menarik memfokuskan pada masalah individual yang dialami salah satu pasangan dan bagaimana masalah semacam itu merespons terapi bersama versus intervensi yang ditargetkan bagi masalah individual. Mengingat depresi yang dialami salah satu pasangan sering kali merupakan bagian dari masalah dalam hubungan pasangan dan bahwa kekambuhan depresi lebih mungkin terjadi jika pasangan yang sudah sembuh dari depresi mengalami masalah perkawinan (Hooley & Teasdale, 1989), para peneliti di Stony Brook (Beach & O’Leary, 1986; O’Leary & Beach, 1990) dan Universitas Washington (Jacobson dkk., 1989, 1991) meneliti terapi perkawinan behavioral (BMT) sebagai satu penanganan depresi. Berbagai temuan dalam penelitian itu menunjukkan bahwa terapi kognitif Beck yang diberikan secara invidual-bagi pasangan yang mengalami depresi tidak lebili efektif dibanding BMT untuk menyembuhkan depresi dan bahwa terapi kognitif tidak seefektif BMT untuk meningkatkan kepuasan perkawinan. Dengan kata lain, seseorang yang mengalami depresi dan sekaligus juga mengalami masalah dalam hubungan dapat memperoleh manfaat yang sama besarnya dari pendekatan berorientasi sistem terhadap hubungan dengan manfaat yang diperoleh dari intervensi individualyang juga dapat bermanfaat bagi hubungan yang bermasalah. Penelitian ini menggarisbawahi karakteristik interpersonal depresi dan peran depresi dalam hubungan intim yang bermasalah. Terlebih lagi, temuan bahwa terapi kognitif individual tidak memperbaiki perkawinan seperti halnya perbaikan perkawinan menghilangkan depresi menunjukkan keterbatasan terapi individu nonsistem, misalnya terapi kognitif, serta kelebihan pendekatan sistem, misalnya BMT.

Filed under : Bikers Pintar,