Advertisement

Biasanya orang menganggap para ahli antropologi sebagai penjelajah pelosok-pelosok dunia yang belum dikenal untuk mempelajari bangsa-bangsa yang asing sebagai orang yang menggali permukaan bumi untuk menemukan sisa-sisa fosil atau alat-alat dan periuk-periuk yang dipergunakan oleh manusia yang hidup pada suatu masa yang demikian jauh jaraknya dari masa kini sehingga mengaburkan khayalan manusia. Pandangan-pandangan tersebut walaupun jelas merupakan stereotip memang menjelaskan bahwa ilmu antropologi berbeda dari disiplin-disiplin lain tentang manusia: ilmu antropologi lebih luas ruang lingkupnya. Ilmu tersebut memang dimaksudkan sebagai ilmu yang khusus dan langsung menyoroti segala jenis manusia (tidak hanya bangsa tetangga saja) dan manusia dalam semua zaman diperhatikannya, mulai dengan jenis manusia yang muncul lebih dari sejuta tahun yang lalu dan ditelusurinya perkembangannya sampai zaman sekarang. Jadi, para ahli antropologi berusaha memperluas ilmu yang mendalami tentang manusia, melalui pendekatan perbandingan, maupun pendekatan historis terhadap kebudayaan di seluruh dunia. Setiap bagian dari dunia yang pernah didiami oleh manusia menarik perhatian para ahli antropologi. Memang para ahli antropologi pada waktu lalu tidak demikian luas dan komprehensif dalam bidang perhatiannya, dibandingkan dengan zaman sekarang ini; pendalaman mengenai peradaban negara-negara Barat serta perhatian tentang perhatian masyarakat-masyarakat kompleks dengan sejarahnya yang sudah tercatat, diserahkannya kepada disiplin yang lain. Berlainan halnya pada waktu akhir-akhir ini; pembagian pekerjaan secara umum antara disiplin mulai lenyap. Sekarang dapat saja ditemukan ahli antropologi yang bekerja, baik di desa-desa yang primitif, maupun di kota-kota industri.

Apa yang menjadi dorongan bagi ahli antropologi untuk memilih pokok yang begitu luas untuk dipelajari? Sebagian dari dorongan itu adalah perasaan bahwa suatu ucapan yang umum (generalisasi) tentang manusia (jadi tentang kita sendiri) hendaknya dibuktikan dan dapat berlaku untuk umat manusia dari berbagai masa dan berbagai tempat. Dengan demikian dapat dihindarkan bahwa hal-hal tertentu mengenai manusia dianggap bersifat umum sedangkan hanva berlaku untuk keadaan khusus. Misalnya, sebelum Margaret Mead memulai penelitian lapangannya vang terkenal tentang Samoa (yang kemudian dilaporkannya dalam bukunya: Coming of Age in Samoa, tahun 1928) banvak orang di Amerika beranggapan bahwa masa remaja adalah suatu masa gelora dan tekanan (Sturm und Drang) yang harus dialami manusia dan hal itu disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada masa pubertas. Tetapi berdasarkan pengamatannya terhadap remaja di Samoa, yang rupanya tidak memperlihatkan tanda timbulnya emosi, Mead menarik kesimpulan bahwa pendapat orang Barat tenang masa remaja tidak dapat diterapkan secara universal dan oleh karena itu harus dipertanyakan. Implikasi nyata dari karyanya ialah bahwa tekanan emosional dalam masa remaja sedikit banyaknya berkaitan erat dengan cara pengendalian pertumbuhan manusia dalam masyarakat Barat. Oleh karena itu, ahli antropologi sering dapat menambah penjelasan tentang kepercayaan dan kebiasaan yang pada umumnya diterima orang-orang sezamannya, karena pengenalannya tentang kehidupan manusia mempunyai jangkauan vang luas secara geografi dan dari sudut sejarah. Para ahli antropologi tidak hanya menguji universalitas dari anggapan-anggapan manusia dan kebiasaannya; mereka juga ingin menjelajahi tentang kemungkinan sifat universal dari ciri biologis manusia. Dalam masyarakat Amerika misalnya anak-anak selalu dianjurkan agar minum susu, karena itu akan menguatkan dan menyehatkan badan. Namun, ahli antropologi telah bertahun-tahun mengetahui bahwa di banyak bagian di dunia, di mana sapi dan kambing dipelihara, orang tidak minum susu segar. Sebab-sebabnya ditemukan belum lama ini. Dokter-dokter dan ahli-ahli fisiologi mendapatkan bahwa banyak bangsa pada umumnya kekurangan suatu ensim yang memudahkan pencernaan susu segar. Untuk orang-orang seperti itu susu segar mengakibatkan timbulnya penyakit. Jadi, di beberapa tempat orang memasamkan susu, agar lebih mudah dicerna; atau mereka sama sekali tidak minum susu. Jadi, penduduk dunia berbeda dalam ciri-ciri biologisnya: sesuatu yang sehat buat beberapa bangsa tidak selalu sehat bagi semuanya.

Advertisement

Advertisement