SEBAB-MUSABAB EVOLUSI DALAM TEKNOLOGI PRA-INDUSTRIAL

31 views

SEBAB-MUSABAB EVOLUSI DALAM TEKNOLOGI PRA-INDUSTRIAL – Sekarang kita harus mempertimbangkan sebuah pertanyaan krusial tentang bagaimana menerangkan evolusi teknologi pra-industrial dari satu tahap ke tahap selanjutnya.

Pernah dipercaya secara luas oleh para ilmuwan sosial bahwa semua jenis teknologi berkembang dengan sendirinya, dengan kekuatan independennya sendiri. Menurut pandangan mereka, perubahan-perubahan teknologi terjadi sebagai hasil kumulatif kekuatan inventif species manusia. Di samping itu, dirasakan bahwa kapanpun bentuk teknologi baru muncul, orang secara otomatis mengadopsinya karena mereka menyaksikan manfaat yang diberikan.

Banyak ilmuwan sosial telah meninggalkan pandangan tentang peribahan teknologi seperti ini. Sebagai ganti mereka mengikuti pan- dangan yang diajukan Ester Boserup (1965,1981; cf. Wilkinson, 1973) sekitar dua dasa warsa lalu. Boserup menyatakan bahwa orang tidak punya keinginan inheren untuk meningkatkan tingkat teknologi mereka. Dia mempostulatkan bahwa orang ingin hidup dengan cara sesederhana dan semudah mungkin. Kecenderungan mereka adalah memenuhi kebutuhan subsistensinya dengan bekerja sesedikit mungkin. Karena menggunakan teknologi baru secara aktual mengakibatkan manusia bekerja lebih keras, mereka tidak akan beralih ke metode baru tanpa kondisi khusus yang memaksa untuk melakukannya. Boserup percaya bahwa kondisi penting yang memaksa manusia untuk meningkatkan teknologinya adalah tekanan penduduk. Tekanan penduduk muncul ketika pertumbuhan penduduk menekan sumber makanannya. Ketika jumlah mulut yang harus diberi makan bertambah, satu titik akhirnya dicapai di mana orang mulai menghabiskan sumber makanan dan mengalami penurunan tajam dalam standard hidup mereka. Boserup menegaskan bahwa pada titik inilah manusia mulai mengintensifkan produksi. Mereka menggunakan bentuk teknologi baru dan bekerja lebih keras serta lama untuk memproduksi lebih banyak makanan untuk memberi makan lebih banyak orang. Masyarakat hortikulturasederhana , misalnya, mulai menggunakan teknik-teknik masyarakat hortikultur intensif. Begitu juga masyarakat hortikultur intensif mungkin berpindah ke pertanian yang menggunakan bajak

Harus disadari bahwa argumen Boserup tidak mengasumsikan bahwa peralihan ke teknologi yang lebih intensif akan membawa kepada standard hidup yang lebih baik. Evolusi dari satu tingkat teknologi ke tingkat teknologi yang lain pada umumnya bersinggungan dengan penurunan standard kehidupan. Argumennya jelas bahwa penerapan pertanian yang lebih intensif diperlukan untuk mempertahankan standard hidup setinggi mungkin dibawah tekanan jumlah penduduk yang semakin besar.

Mark Cohen (1977,1985) percaya bahwa argumen Boserup relevan untuk memahami asal-usul pertanian di seluruh dunia. Cohen menyatakan bahwa masyarakat pemburu-peramu barangkali sejak lama sudah mengerti bagaimana mendomestikasikan tanaman dan hewan, tetapi mereka baru menggunakannya setelah waktu berjalan sekitar mungkin 6.000 tahun setelah itu. Nampaknya, mereka tidak melihat adanya keuntungan mempraktekkan pertanian, dan mungkin mereka melihatnya sebagai cara hidup yang lebih baik ketim-bang mengumpulkan makanan dari gudang alamiah. Memang, ketika masyarakat pemburu-peramu kontemporer ditanyai etnografer tentang kenapa mereka tidak mempraktekkan pertanian, mereka biasanya menjawab begini, “Kenapa kami harus bekerja lebih keras untuk hidup yang tidak lebih baik dari hidup kami sekarang?” Richard Lee (1979), misalnya, menanyai seorang anggota suku !Kung bernama /Xashe tentang kenapa ovang !Kung tidak ikut mempraktekkan pertanian yang dilakukan tetangga mereka, dan /Xashe menjawab, “Kenapa kami menanam ketika begitu banyak biji mongongo di dunia ?” Jika masyarakat pemburu-peramu kuno sudah tahu bagaimana menanam bibit tetap mengelak melakukannya, apa yang akhirnya memaksa mereka untuk beralih ke cara hidup pertanian? Cohen percaya bahwa alasannya adalah “krisis makanan” yang disebabkan pertambahan penduduk. Dia ‘5erpendapat bahwa kelompok pemburu-peramu di beberapa wilayah dunia lkhirnya kehilangan ken-.ampuan lingkungan mereka untuk menc5pang standard hidup yang layak. Apabila ini terjadi, mereka dipaksa- untuk memproduksi makanan sendiri untuk mengatasi “krisis makanan”. Mereka akhirnya bersedia bekerja keras, karena mereka akan memperoleh sesuatu dengan cara tersebut.

Teori Cohen tentang asal-usul pertanian tidak sepenuhnya disetujui oleh para arkeolog modern, yang paling berkompeten untuk menilainya. Meski teori tersebut sangat masuk akldalam hubungan dengan apa yang kita tahu tentang sikap masyarakat pemburu-peramu modern terhadap praktek pertanian, dan sejumlah antropolog dan arkeolog modern telah mengembangkan beberapa teori tentang asal-usul pertanian dengan memberikan peran signifikan kepada tekanan penduduk (Binford, 1968;Flannery, 1973; Harner, 1970; Harris, 1977). Tetapi, walaupun masih banyak keraguan tentang sebab awal munculnya pertanian, ilmuwan sosial lebih tahu pasti tentang peranan tekanan penduduk terhadap intensifikasi produksi pertanian. Boserup sendiri memberikan bukti kuat tentang perubahan tingkat kepadatan penduduk terhadap pola produksi ekonomi. Sebagai contoh, dia menunjukkan fakta pertambahan penduduk Jepang dari sekitar 1600 ke sekitar 1850 yang diikuti oieh perubahan intensitas produksi (1965:61):

Pada awal periode tersebut, perubahan dinastik menciptakan perdamaian internal setelah melewati masa pergolakan, dan jumlah penduduk meningkat dengan cepat, terutama selama paruh pertama periode ini. Dalam kadar tertentu, pertambahan penduduk nampaknya menyebabkan berkurangnya ukuran ratarata pemilikan tanah pertanian dan terjadinya perubahan menyeluruh terhadap metode yang sela na ini dipakai. Membajak dengan bantuan binatang semakin bartyA dan panen berlipat ganda dapat diperoleh melalui irigasi dan dengan membeli kotoran manusia dan ikan kering untuk pupuk sebagai pelengkap atau pengganti metode tradisional yang berupa menghunjamkan rumput, daun-daun dan abu ke dalam ladang.

Boserup juga menyatakan bahwa penurunan kepadatan penduduk diikuti oleh regresi aktual dalam teknik penanaman. Tentang ini dia menulis sebagai berikut ( 1965: 62-63):

Amerika latin adalah wilayah yang menderita karena kemerosotan penduduk pada abad ini. Di banyak wilayah, kepadatan penduduk masa pra-Columbia tidak pernah tercapai lagi dan penduduk suku Indian telah mengalami regresi dalam teknik pertaniannya….

Banyak laporan peneliti tentang regresi teknis yang terjadi setelah migrasi ke wilayah-wilayah yang kurang padat penduduknya, bahkan ketika migrasi terjadi atas inisiatif pemerintah dan dirancang untuk menaikkan perluasan metode intensif ke wilayah-wilayah migrasi. Di Tanganyingka, Vietnam, Ceylon dan India (sic) perluasan administrasi pelayanan menunjukkan bahwa para penanam yang menggunakan metode intensif di daerah mereka yang padat meninggalkan metode tersebut setelah mereka ditempatkan kembali ke daerah yang tidak begitu padat dan memberikan jatah tanah yang lebih luas bagi masing-masing keluarga.

Banyak penelitian tambahan yang mendukung pandangan bahwa tekanan penduduk adalah sebab utama evolusi teknologi pra-industrial. Peningkatan sistem produksi pertanian yang intensif tampaknya muncul sebagai respons terhadap jumlah penduduk yang meningkat di berbagai wilayah dunia seperti Amerika Selatan, New Guinea, Mesoamerika kuno, dan Mesopotamia kuno (Carneiro, 1968; Clarke, 1966; Sanders, 1972; Adams, 1972).

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, walaupun teori demografik tentang intensifikasi pertanian telah banyak mendapat sambutan, sebagian ilmuwan sosial tetap mengajukan kritik ( cf. Bronson, 1972; Cowgill, 1975; B. White, 1982). George Cowgill (1975) dan Benjamin White (1982), misalnya, menyatakan bahwa teori tersebut secara tidak tepat mengasumsikan adanya kecenderungan alamiah penduduk manusia untuk bertumbuh. White menyatakan bahwa pertambahan penduduk tidak bersifat alamiah atau otomatis, tetapi tergantung kepada berbagai keadaan sosial, ekonomi dan politik. Dia berpendapat bahwa karena tidak ada kecenderungan inheren dalam pertambahan penduduk manusia, maka tekanan penduduk tidak dapat diandalkan secara logis sebagai sebab kemajuan dalam tingkat teknologi pertanian.

Tetapi walaupun benar bahwa perubahan demografik dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, tidaklah berarti tidak ada kecenderungan inheren bagi pertambahan penduduk di kebanyakan masyarakat pra-industrial. Ada bukti kuat bahwa masyarakat pra-industrial memberikan perhatian yang sangat besar kepada upaya pengaturan jumlah penduduk, dan ini menunjukkan bahwa mereka bangkit melawan realitas biologis yang potensial (cf. Harris dan Ross,1987). Secara khusus, adanya pembunuhan terhadap anak perempuan di berbagai belahan dunia merupakan bukti kuat dari kebutuhan manusia untuk mengendalikan jumlah mereka ( Harris and Ross, 1987; Wilkinson, 1973; Cohen,Malpass and Klein, 1980).

Perubahan demografik berinteraksi dengan cara yang sangat kompleks dengan berbagai komponen sistem sosiokultural, tetapi hal itu hampir tidak dapat dianggap sebagai sebab universal dalam evolusi sosiokultural. Peristiwa evolusioner yang lebih baru, seperti Revolusi Industrial atau pemiskinan duapertiga penduduk dunia kontemporer, muncul karena disebabkan beberapa sebab yang berbeda-beda. Tetapi pada tingkat pra-industrial pertambahan penduduk tampaknya merupakan taruhan terbaik kita sebagai rangsangan kritis bagi kemajuan teknologi subsistensi (cf. Johnson and Earle, 1987 ). Paling tidak, belum ada orang yang mengajukan teori yang meyakinkan teori tekanan penduduk.

Masyarakat pemburu-peramu memonopoli 99 persen sejarah Tnanusia, dan sebagian tetap bertahan hingga sekarang. Anggota masyarakat ini bertahan hidup dengan berburu binatang liar dan meramu tanaman dan sayuran liar. Sejak lama orang berpikir bahwa mereka berada pada batas-batas survival yang paling sederhana, tetapi bukti yang lebih baru menunjukkan mereka hidup sangat berkecukupan dengan usaha yang minimum. Ternyata, mereka membentuk suatu “masyarakat asli yang makmur”.

Sebagian komunitas manusia di berbagai bagian dunia mulai menerapkan teknik subsistensi agrikultur sekitar 10.000 tahun lalu. Transisi kepada pertanian-umumnya dikenal dengan Revolusi Neolitik. Baru sekarang diketahui bahwa transisi ke pertanian terjadi secara independen di beberapa wilayah dunia. Perkembangan pertanian adalah transisi yang lamban dan bertahap dari berburu dan meramu, dan tampaknya manusia secara aktual memulai untuk pertama kalinya menggunakan pengetahuan yang sudah lama mereka miliki.

Masyarakat pertanian paling awal mempraktekkan bentuk pertanian yang dikenal dengan hortikultura sederhana. Banyak masyarakat hortikultura sederhana yang sekarang hidup di daerah-daerah terpencil, terutama di wilayah hutan tropis. Masyarakat hortikultura sederhana biasanya menanami tanah dengan menebas hutan, membakar hasil tebasan yang sudah terkumpul, dan menanam bibit di atas abu yang tersisa. Kelompok ini umumnya seringkali menggilirkan kebun mereka dan membiarkan mereka yang sebelumnya ditanami kosong dalam periode yang lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *