Advertisement

Ketika wilayah itu merupakan bagian dari kerajaan Sunda, baik pada masa pemerintahan Galuh (Ciamis) maupun Pakuon Pajajaran (Bogor). Tetapi sejak akhir masa kekuasaan Pakuon Pajajaran, Cirebon berhasil memisahkan diri dan kemudian berkembang menjadi suatu pemerintahan yang merdeka. Bahkan kemudian kedudukannya menjadi sangat penting setelah Cirebon berhasil mengembangkan dirinya sebagai salah satu pusat perdagangan serta pemerintahan yang bercorak Islam dan sebagai pusat penyebaran Islam untuk daerah Jawa Barat.
Menurut sumber lokal, yakni Tjarita Tjaruban, terdapat dua silsilah dari dua orang yang dianggap pendiri kerajaan Islam Cirebon. Yang pertama, Syarif Hidayat, orang kelahiran Mekah, anak tertua Putri Lara Santang yang bersuamikan putra seorang Pangeran Mesir, Maulana Sultan Mahmud. Syarif Hidayat, menurut silsilah ini, adalah cucu Raja Pakuon Pajajaran, karena Putri Lara Santang adalah putri Prabu Siliwangi, Raja Pakuwon Pajajaran yang naik takhta pada tahun 1482. Sekembalinya dari Mekah, Syarif Hidayat menjadi pemuka Islam terkenal di Jawa Barat, dengan nama Susuhunan Jati. Sebagai cucu raja, ia diberi kekuasaan atas Cirebon. Orang kedua yang disebut pendiri Kerajaan Islam Cirebon adalah Fadhillah Khan. Ia dilahirkan di Pasai pada tahun 1409 M. Ayahnya bernama Maulana Makhdar Ibrahim Gujarat. Setelah dewasa, Fadhillah Khan meninggalkan Aceh. Ia berhasil menjadi salah seorang pemimpin pasukan di Kerajaan Demak dan kemudian kawin dengan salah seorang putri Susuhunan Jati.
Berdasarkan sumber Portugis, penyebar Islam yang kemudian berkembang menjadi seorang negarawan dan pendiri Kerajaan Banten dan Cirebon adalah seseorang bernama Faletehan. Menurut Husein Dja- jadiningrat, Faletehan itulah Nurullah yang lebih dikenal dengan nama Syekh Ibnu Maulana. Diriwayatkan bahwa Nurullah berasal dari Pasai. Pada waktu Pasai direbut Portugis pada tahun 1521, Nunillah pergi naik haji. Sekembalinya dari Mekah tahun 1524, ia tidak mau menetap di Pasai yang dikuasai Portugis, dan langsung pergi ke Demak. Ia diterima dengan baik oleh Sultan Demak. Dengan seizin Sultan Demak, dia pergi menyebarkan Islam ke Banten dan berhasil membangun suatu masyarakat muslim di sana. Di kemudian hari, Banten diserahkan kepada anaknya, Hasanuddin, dan ia sendiri pindah ke Cirebon. Di Cirebon ia mendirikan sebuah pemerintahan Islam yang merdeka.
Dilihat dari riwayat hidupnya, sangat mungkin Nurullah itulah Fadhillah Khan dalam Tjarita Tjaruban. Memang banyak penulis berpendapat bahwa Fadhillah Khan itu adalah juga Faletehan. Maka yang bernama Faletehan, Nurullah atau Syekh Ibnu Maulana, dan Fadhillah Khan adalah orang yang sama. Dialah yang berkuasa atas Cirebon setelah Susuhunan Jati, dan berhasil membangun Cirebon sebagai pemerintahan Kesultanan yang kukuh. Setelah meninggal dunia, ia dimakamkan di samping mertuanya di Gunung Jati. Terkenallah ia kemudian sebagai Sunan Gunung Jati.
Pengganti Sunan Gunung Jati adalah Panembahan Ratu. Pada masa-masa pemerintahannya, Demak telah berkembang menjadi pusat kekuasaan politik, dan Cirebon berada di bawah kekuasaannya. Tetapi setelah Demak runtuh dan Pajang muncul, Cirebon tidak lagi terikat dengan Pajang dan berdiri sendiri sebagai pemerintahan yang merdeka. Bahkan sampai masa Mataram, Cirebon masih menikmati kemerdekaannya. Mataram sendiri bersikap hati-hati terhadap Cirebon dan membangun hubungan baik dengannya. Untuk menanamkan kekuasaan politiknya di Cirebon, raja Mataram menempuh jalan hubungan perkawinan, yakni dengan mengawini putri Panembahan Ratu atau cucu Sunan Gunung Jati. Sejauh ini Mataram masih menghormati Cirebon sebagai pusat spiritual.
Tetapi, sejak tahun 1628 hubungan baik antara Cirebon dan Mataram berubah. Pada waktu Mataram menyerbu Batavia, Cirebon membantu. Tetapi setelah Mataram mengalami kegagalan, banyak orang Cirebon berpindah ke Banten. Tindakan ini dianggap pemberontakan oleh Sultan Agung Mataram. Banten pada waktu ini belum dapat ditundukkan oleh Mataram dan mempunyai hubungan buruk dengan Mataram akibat sikap Banten yang membantu Surabaya dalam konflik Mataram-Surabaya tahun 1620-1625. Cirebon kemudian diserbu dan ditaklukkan oleh Mataram. Sejak itu, Cirebon harus membayar upeti kepada Mataram. Hubungan ini menjadi makin buruk lagi ketika politik penghancuran pusat-pusat pemerintahan dan pusat-pusat di daerah pesisir dilaksanakan oleh Mataram. Amangkurat I mengharuskan Panembahan Ratu II dan Sultan Cirebon, pengganti Panembahan Ratu I, tinggal di Mataram. Pemerintahan Kesultanan Cirebon diserahkan kepada putranya, Pangeran Wongsokerto, yang memerintah atas nama ayahnya. Di Mataram, politik Amangkurat I ini menimbulkan kegoncangan. Pemberontakan antara lain dilancarkan oleh putra mahkota sendiri dengan bantuan Trunojoyo dan penguasa-penguasa di daerah pesisir, termasuk Cirebon. Tetapi menjelang kemenangannya, terjadi perpecahan antara putra mahkota dan Trunojoyo. Setelah pemberontakan berakhir dan putra mahkota berhasil naik takhta dengan gelar Amangkurat II (1677-1703), Trunojoyo melancarkan pemberontakan terhadapnya. Amangkurat II meminta bantuan VOC. Sebagai imbalannya ia menyerahkan daerah pesisir. Akibatnya, pada tahun 1681 Sultan Cirebon harus menandatangani perjanjian penyerahan wilayah kekuasaannya kepada Kompeni, sekalipun berdasarkan perjanjian ini Cirebon tetap dianggap sebagai wilayah hegemoni Mataram.
Sejak saat ini, Cirebon dan sultan-sultannya berada di bawah pengaruh Kompeni. VOC berhak membangun benteng di Cirebon dan berperang melawan musuh-musuhnya di Cirebon. Di samping itu VOC berhak mendapat monopoli terhadap segala ekspor dan impor yang dikehendakinya, seperti impor, kapas, ekspor lada, kayu dan gula. Perdagangan pribumi Cirebon harus mendapatkan izin dari VOC.
Pada tahun 1705 Cirebon diserahkan sepenuhnya oleh Suitan Paku Buwono I kepada VOC, sebagai imbalan bantuan yang diterimanya dalam merebut kekuasaan di Mataram. Pada tahun itu juga Cirebon dijadikan wilayah keresidenan bersama-sama dengan Priyangan dan Indramayu dan langsung di bawah kekuasaan VOC. Dengan demi Kian Cirebon telah terkait dalam kerangka politik eksploitasi kolonial terhadap daerah jajahan, dan bermulalah babakan baru sejarah Cirebon.
Seperti di daerah-daerah lainnya yang dikuasai VOC, Cirebon merupakan daerah eksploitasi. Segala aktivitas perdagangan dan hasil pertanian yang diperdagangkan dikuasai VOC. Hasil pertanian rakyat dibeli dengan harga yang murah. Untuk pengurusan pajak, seluruh desa diborongkan kepada pemborong pajak orang Cina, yang biasanya menarik pajak dengan berlebihan. Akibatnya, rakyat sangat menderita. Kemelaratan dan kelaparan merata di kalangan masyarakat. Keadaan tidak aman karena kerusuhan, perampokan, dan penindasan senantiasa terjadi.
Tercatat antara tahun 1719 dan 1812, masyarakat Cirebon mengalami 10 kali mala petaka kelaparan dan wabah penyakit yang hebat. Keadaan seperti ini kadang-kadang mengakibatkan juga timbulnya huru hara, misalnya yang terjadi pada tahun 1768. Semua orang Cina di daerah Cirebon menjadi sasarannya. Mereka semua diserbu dan diusir dari Cirebon. Tindakan kekerasan sering terjadi juga terhadap orang- orang Belanda. Tindakan ini mencapai puncaknya dalam peristiwa pemberontakan Cirebon dari tahun 1804 sampai 1819.
Pada masa-masa pergerakan nasional, Cirebon juga tidak terkecuali. Partai-partai nasionalis berkembang dan berakar di daerah ini, dan dengan demikian meneruskan tradisi militansi dan protes awal abad ke 19. Sampai pada masa revolusi kemerdekaan, Cirebon ikut bergolak dan terkait terus dalam gerak langkah pembangunan bangsa.

Incoming search terms:

  • sejarah hegemoni barat di cirebon
  • hegemoni cerebon
  • hegemoi cirebon
  • daerah yang dikuasai cirebon
  • daerah jajahan mataram
  • arti sejarah cirebon
  • arti nama wongsokerto
  • ARti amangkurat jati
  • apa hubungan kesultanan cirebon dengan mataram islam dan banten
  • silsilah faletehan

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • sejarah hegemoni barat di cirebon
  • hegemoni cerebon
  • hegemoi cirebon
  • daerah yang dikuasai cirebon
  • daerah jajahan mataram
  • arti sejarah cirebon
  • arti nama wongsokerto
  • ARti amangkurat jati
  • apa hubungan kesultanan cirebon dengan mataram islam dan banten
  • silsilah faletehan