SEJARAH FILSAFAT

Inggris: history of philosophy.

Filsafat, persis seperti setiap ilmu, mempunyai sejarahnya sendiri dalam arti ganda kata itu: sebagai urutan waktu peristiwa-peristiwa dan sebagai gambaran ilmiah terhadap peristiwa-peristiwa itu. Objek utama sejarah filsafat (sebagai sebuah ilmu) bukan peristiwa-peristiwa eksternal, tetapi hasil-hasil akalbudi (rasio) yang berpikir, gagasan-gagasan filosofis serta isi dan pengaruhnya di kemudian hari. Tetapi hasil-hasil akalbudi yang berpikir mewujudkan dirinya sendiri dalam keserbaragaman subjek-subjek yang terbatas. Secara konkret, semua ini merupakan pikiran-pikiran insani dengan segala kondisionalitasnya dan kontingensi perjalanar sejarah yang merupakan ciri khas bagi segala sesuatu yang manusiawi. Pertanyaannya ialah apakah dan sejauh manakah hal-hal ini juga merupakan bagian dari objek sejarah filsafat. Uraian filsafat dari sudut pandangan sejarah peradaban akan memandang gagasan- gagasan filosofis dengan segala implikasinya sebagai aspek-aspek bidang-bidang kultural lainnya. Namun, sebagai ungkapan pribadi insani, gagasan-gagasan filosofis mempunyai suatu titik kesatuan sintesis yang karenanya gagasan-gagasan itu berdiri di luar aliran segala peristiwa yang lain dan darinya mereka menerima suatu pewarnaan yang personal, yang unik. Ini memberikan dasar bagi uraian biografis terhadap sejarah filsafat. Metode yang merunut sejarah dan ciri-ciri umum manusia dan bangsa-bangsa berkaitan dengan itu.

Tujuan

Tujuan sebuah sejarah filsafat ialah menguraikan berbagai problem dan gagasan sehubungan dengan asal-usul dan perkembangannya. Ini pada gilirannya mengandaikan suatu evaluasi yang jujur dan akurat tentang masa lalu filsafat. Objek real sejarah filsafat ialah prinsip-prinsip dan perkembangannya yang terus menerus, dan gagasan-gagasan para filsuf, bukan sejauh gagasan-gagasan itu timbul sebagai hasil “pengaruh-pengaruh” aksidental tertentu, melainkan pertama-tama sejauh gagasan- gagasan itu merupakan produk pikiran. Maka, sejarah filsafat tertarik kepada dinamisme yang tersembunyi di dalam gagasan- gagasan. Kaidah tentang apa yang termasuk ke dalam sejarah filsafat dalam arti ini bukan hu-bungan abstrak kebenaran atau kekeliruan formal, melainkan kontribusi yang diberikan filsafat dalam setiap bidang yang melampaui posisi yang sudah dicapai hingga mencapai suatu pemahaman lebih mendalam terhadap eksistensi atau pada pemahaman akal budi tentang dirinya sendiri.

Filsafat dan sejarahnya menemukan dirinya sendiri dalam hubungan timbal balik. Filsafat sebagai produk roh manusia ada hanya dalam bentuk sejarah. Karena itu filsafat tidak dapat diangkat dari sejarahnya sendiri jika ingin menjadi suatu filsafat yang kreatif yang mengenal dirinya sendiri dan apa yang dikejarnya. Namun, sejarah filsafat sejati (setidak-tidaknya menurut metode sejarah ide-ide) hanya mungkin bagi seseorang yang mempunyai filsafat sistematis yang mendalam dan merangkum semua.