Advertisement

Naskah-naskah laporan etnografi yang cukup baik adalah lebih tua daripada karya-karya lain yang bisa disamakan dengannya dalam bidang arkeologi atau bidang antropologi fisik. Lagipula laporan etnografi itu berdasarkan berbagai sumber. Umpamanya, kita mempunyai naskah deskriptif dari India yang ditulis oleh peziarah-peziarah Buddhis dari Cina yang dibuat pada abad kelima, dan juga naskah-naskah oleh ahli-ahli Islam dari Timur Tengah yang berkunjung ke India kira-kira dalam abad kesepuluh. Perkembangan yang tidak berkaitan dari pelukisan etnografi di berbagai bagian dunia dapat dimengerti; adalah wajar, bahwa seorang musafir yang bertemu dengan orang-orang asing yang mempunyai ciri-ciri yang berlainan, pakaian, bahasa dan adat-istiadat lain, mencatat pengalaman-pengalamannya untuk dimanfaatkan oleh orang-orang di negerinya.

Naskah-naskah Yunani dan Roma

Advertisement

Beberapa dari orang Yunani kuno yang mengarungi Laut Tengah dengan kapalnya dalam abad kedelapan sebelum Masehi, mengalami bahwa pengetahuan tentang berbagai bandar dan manusia sangat membantu pedagang-pedagang yang perlu berlayar untuk berdagang. Catatan-catatan permulaan yang dikenal sebagai “buku petunjuk” itu memuat keterangan dar petunjuk-petunjuk untuk para musafir.

Herodotus

Karya yang lebih maju dari catatan permulaan itu adalah karya ahli sejarah Herodotus (484 425 SM). Dia seorang musafir ulung yang pernah berkunjung ke Macedonia, Thrace, Babilonia, Palestina dan Mesir. Khususnya laporan panjang tentang Mesir oleh Herodotus adalah sangat menarik. Di sini dikutip beberapa kalimat dari laporan itu. Mengenai Mesir sendiri, saya akan menulis dengan panjang lebar, karena tidak ada negeri yang memiliki demikian banyak hal-hal yang mengagumkan, demikian juga tidak ada suatu negeri yang mempunyai hasil-hasil karya yang sukar untuk dilukiskan dalam kata-kata. Tidak saja iklimnya berbeda dari bagian di dunia, dan sungainya pun tidak sama dengan sungai yang lain, tetapi adat-istiadat orangnya pun berbeda sama sekali dari kebiasaan manusia lainnya. Wanitanya pergi ke pasar dan berdagang, sedangkan pria tinggal di rumah dan menenun, dan jika seluruh dunia mengerjakan tenunan dari bawah ke atas, orang-orang Mesir menyelesaikannya dari atas ke bawah; wanita-wanita Mesir memikul beban di atas pundaknya dan kaum prianya menjunjung beban di atas kepala. Makanannya disantap di luar rumah, di jalanan dan mereka masuk lagi ke rumah untuk beristirahat. Wanita tidak dapat menjabat sebagai pendeta atau ulama, baik untuk dewa, maupun untuk dewi, tetapi prianya bisa saja menjabat kedua-duanya, untuk dewa atau dewi; putra-putra mereka tidak usah membiayai orang tua mereka jika tidak menghendakinya, tetapi putri-putri harus menyokong orang tua mereka, walaupun mereka tak sudi. Di negeri-negeri lain, pendeta-pendeta atau ulama-ulama, berambut gondrong. Tetapi di Mesir, rambutnya dicukur; di negeri-negeri lain adalah kebiasaan untuk mencukur rambut selama berkabung untuk keluarga dekat; tetapi orang-orang Mesir yang pada umumnya tidak memelihara rambut, memanjangkan jenggot dan rambut jika seorang anggota keluarganya meninggal. Umumnya, manusia hidup terpisah dan binatang-binatang, tetapi orang Mesir selalu hidup bersama binatang; di mana orang-orang lain mempergunakan jawawoot dan gandum sebagai bahan makanan, maka adalah hina untuk makan bahan-bahan itu di Mesir. Yang mereka makan adalah spelt (semacam gandum) dan sebagian orang menamakannya zea. Di Mesir orang menguli adonan untuk roti dengan kaki sedangkan lumpur dan malahan mengambil yang kotor dilakukan dengan tangan. Mereka adalah satu-satunya bangsa di dunia yang bersama bangsa-bangsa lain yang meniru mereka, yang mengadakan penyunatan …. Rasa keagamaan mereka sangat mendalam, jauh lebih mendalam dari bangsa-bangsa lain dan mereka menyelenggarakan upacara-upacara sebagai berikut. Mereka minum dari mangkok kuningan yang mereka gosok bersih setiap hari. Tidak ada pengecualian dalam melakukan itu. Mereka mengenakan pakaian dari linen yang selalu mereka cuci bersih dengan sungguh-sungguh. Banyak di antara pernyataan-pernyataan ini mungkin tidak benar. Naskah ini penuh dengan catatan-catatan, di mana editornya membetulkan kesalahan- kesalahan yang dibuat oleh Herodotus. Sepanjang pengetahuan kita, sebaliknya Herodotus sering juga benar. Uraiannya tentang penguburan-penguburan di ciaerah Scythia, umpamanya, dibenarkan oleh penemuan-penemuan arkeologi. Dalam laporannya tentang Mesir, Herodotus kelihatannya jujur dan realistis. Dia membuat perbandingan-perbandingan antara perangai serta kelakuan orang Mesir dan orang Yunani, tetapi ia tidak berusaha untuk menonjolkan superioritas orang Yunani, sekalipun hal itu kadang-kadang tersirat di dalamnya. Herodotus tahu, bahwa kebudayaan Mesir jauh lebih tua daripada kebudayaan Yunani. Ia mempunyai kepentingan historis untuk menelusuri asal-usul beberapa adat Yunani di Mesir. Menurut ceritanya kebanyakan nama dari dewa-dewa Yunani berasal dari Mesir. Orang-orang Mesir-lah yang pertama kali mengadakan pertemuan-pertemuan khusuk, pawai prosesi dan memanjatkan doa-doa bersambut-sambutan kepada para dewanya (litani); orang Yunani belajar untuk mempergunakan semua itu dari orang Mesir. Herodotus menceritakan tentang hal-hal yang aneh-aneh: Jika seekor kucing mati dengan wajar di sebuah rumah makan semua orang yang tinggal di rumah itu, mencukur alis mata mereka; jika seekor anjing yang mati, mereka mencukur seluruh kepala dan badan.Pengobatan dilakukan menurut jenis penyakitnya atau dapat dikatakan secara spesialistis; setiap tabib atau dukun menangani hanya satu jenis penyakit atau tidak lebih; karena itu negeri itu penuh dengan dukun-dukun atau tabib spesialis; beberapa mengadakan pengobatan mata, yang lain pengobatan kepala, yang lain lagi pengobatan gigi, beberapa dokter mengobati perut dan beberapa lagi mengadakan pengobatan umum. Ahli-ahli arkeologi bisa menyusun kembali sebagian besar dari kebudayaan Mesir Purba berdasarkan penemuan mereka, tetapi uraian Herodotus tentang Mesir yang dilakukan pada abad kelima sebelum Masehi, memuat banyak keterangan-keterangan dan semuanya akan hilang jika tidak dicatatnya. Bagian tentang Mesir ini tentu hanya merupakan sebagian dari “Sejarah” hasil karya Herodotus, yang mencakup bidang yang sangat luas itu.

Megasthenes

Megasthenes adalah seorang bangsa Yunani yang tidak lama sesudah invasi barat-laut India oleh Iskandar Agung, oleh Istana Siria dikirim sebagai Duta Besar ke Pataliputra, ibu kota dinasti Maori. Ia meninggalkan suatu lukisan tentang wilayah India Utara sekitar tahun 302-288 sebelum Masehi dan memberikan gambaran tentang sistem kasta pada waktu itu. Ia menulis: “Tidak ada orang yang boleh kawin di luar kastanya sendiri atau melaksanakan “panggilannya” atau sesuatu cabang kesenian selain yang tercakup dalam kastanya; misalnya, seorang serdadu tidak dapat memelihara ternak atau seniman tidak dapat menjadi ahli filsafat.4 Megasthenes rupanya kurang mengerti tentang beberapa aspek dari sistem kasta. Ini tentu tidak mengherankan, tetapi ia mencatat adanya sistem itu serta banyak aspek lain dari kebudayaan India Gambaran yang dilukiskannya dalam banyak hal cocok dengan karya seorang India pada waktu yang sama, yakni Arthashastra, karya Kautilya.

Tacitus

Sejarawan Roma yang bernama Tacitus (kira-kira 55 — 117 SM) menulis suatu uraian panjang tentang kaum biadab di Eropa Utara. Karyanya Germania yang tersusun baik itu, dimulai dengan diskusi tentang lingkungan dan memuat uraian mendetil tentang bentuk fisik orang Jerman, tipe rumahnya dan adat kebiasaannya. Berbeda dengan Herodotus dan Megasthenes, Tacitus tidak mengunjungi negeri yang digambarkannya, tetapi mendapatkan keterangan tidak langsung dari serdadu-serdadu dan orang-orang lain yang melancong ke Utara. Rupanya penulisan buku itu, sebagian terdorong oleh keinginan Tacitus untuk memberi kejutan kepada orang-orang Roma yang pada waktu itu telah dekaden dengan menampilkan bagaimana segarnya tenaga orang Jerman primitif itu serta kebaikannya. Pendeknya, karyanya merupakan lukisan berharga sekali serta meyakinkan tentang kehidupan suku-suku bangsa Utara yang hidup pada waktu itu.

Uraian-uraian oleh Orang-orang Bukan dari Eropa

Setelah kerajaan Roma jatuh, dengan nyata kelihatan menurunnya rasa ingin mengetahui, atau paling tidak berkurangnya jumlah karya deskripsi etnografi mengenai kebudayaan-kebudayaan lain. Sebaliknya, di negeri Cina, laporan terperinci ditulis tentang India, termasuk tulisan Fa-Hien dalam abad kelima dan tulisan Hsieuen Tsiang dalam abad ketujuh Masehi. Alberuni, seorang sarjana Muslim di Kerajaan Mahmud dari Ghazni, berkelana di seluruh India mulai dari barat laut, sekitar tahun 1030 M. Dalam suatu cerita panjang mengenai negara itu ia memberikan keterangan tentang pesta-pesta seperti Divali dan Shiv Ratri yang masih dilaksanakan di India dewasa ini. Alberuni menuturkan tentang perkawinan yang diatur oleh orang tua dan larangan bagi seorang janda untuk kawin lagi, yang dewasa ini masih berlaku. Seorang sarjana Islam lain yang menonjol adalah Ibnu Khaldun yang lahir di Tunisia pada tahun 1332 dan meninggal di Kairo pada tahun 1406. Ia adalah pengarang dari The Muqaddimah yang merupakan semacam naskah etnologi dan sosiologi. Ibnu Khaldun membandingkan cara-cara hidup orang-orang Badui yang bersifat kelana dan orang-orang yang menetap dan bekerja di kota-kota, membicarakan akibat-akibat dari iklim dan watak manusia dan menarik kesimpulan-kesimpulan umum tentang timbul-tenggelamnya dinasti-dinasti dalam bab-bab yang mengandung proposisi sebagai berikut: “Orang-orang yang ditaklukkan selalu mencoba meniru penakluk-penakluk mereka dalam hal-hal yang khas, seperti dalam hal pakaian, pekerjaan serta lain-lain adat kebiasaannya. “Orang-orang Badui dapat mencapai kekuasaan kerajaan hanya berkat pemanfaatan beberapa segi keagamaan, seperti kedudukan nabi atau kesaktian atau pada umumnya, suatu peristiwa besar yang bersifat agama. Kewenangan kerajaan dan kekuasaan dinasti yang luas, hanya dicapai melalui kelompok serta perasaan kelompok. Sehubungan dengan tulisan itu Arnold Toynbee menyatakan “tidak dapat disangkal lagi, bahwa karya ini karya besar yang pernah dilahirkan dalam sejarah”.

Incoming search terms:

  • makalah etnologi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • makalah etnologi