Marxist history (sejarah Marxis)

Ketika Karl Marx menyebut sistem-sistemnya sebagai ‘materialisme historis’, ia menyatakan utang budinya pada dua tradisi intelektual yang penting. Pertama, Pencerahan Perancis dengan penekanannya pada determinasi kekuatan material, seperti cuaca dan perekonomian, terhadap sikap dan perilaku sosial: mulanya dimaksudkan untuk mendobrak cara pikir religius yang mapan, tapi kemudian menjadi dasar metode analisis ekonomi sistematik yang lebih positif. Kedua, reaksi Jerman kepada Pencerahan, dengan penekanannya pada nilai semua model pemikiran yang dipahami dalam konteks historis asal-mulanya: semula dimaksudkan untuk mempertahankan cara-cara pikir religius peninggalan masa lampau tapi kemudian menjadi basis metode pemahaman kultural simpatetik yang lebih umum. Kendati banyak sejarawan pada masa berikutnya menemukan determinisme ekonomi dan historisisme kultural melalui karya-karya Marx, pendekatan-pendekatan ini tidak berasal dari Marx. Bahkan kombinasinya dengan materialisme historis telah diantisipasi para pemikir Pencerahan Skotlandia seperti Adam Smith yang telah mengembangkan pemikirannya sendiri tentang tahap-tahap perkembangan sosial. Marx sendiri sudah menyadari betul masalah ini, dan dalam suratnya kepada Weydemeyer ia menolak segala klaim yang menyatakan telah menemukan eksistensi kelas dan perjuangan kelas dan sejarah, serta menekankan bahwa kontribusinya yang utama adalah membuktikan bahwa ‘perjuangan kelas akan menyebabkan kediktatoran proletariat’ (1852). Sementara Marx dikenal sebagai penemu materialisme historis, elemen Marxis yang secara spesifik ada di dalamnya adalah argumentasinya bahwa, sebagaimana feodalisme tidak menghendaki munculnya borjuis dan transformasi masyarakat revolusioner, maka perkembangan ekonomi kapitalisme akan mendorong munculnya kesatuan proletariat dan terjadinya pengambilalihan alat-alat produksi borjuis secara revolusioner.

Selama lima puluh tahun setelah meninggalnya Marx di tahun 1883, karya historis Marx banyak dilarang sebagai karya para aktivis sayap kiri dalam upayanya menjustifikasi strategi politik mereka dengan menggabungkan material dan perkembangan ekonomi kapitalisme pada masa itu. Namun depresi selama perang dan muncul¬nya fasisme, ditambah lagi keberhasilan sosialisme di Uni Soviet, membuat Marxisme lebih mungkin diterapkan di Barat, dan Marxisme mulai berada di luar tema utama perdebatan historis, khususnya melalui karya Maurice Dobb dan Ernest Labrousse. Dobb adalah ekonom Cambridge yang terlibat dalam sejarah melalui karya perintisnya mengenai perekonomian Rusia di bawah rezim Soviet. Yang lebih penting, esai-esai Dobb (1946) tentang perkembangan ekonomi kapitalisme memunculkan agenda penelitian mengenai transisi dari feodalisme menjadi kapitalisme dan mengenai formasi ekonomi kelas pekerja modern yang menjadi patokan para sejarawan Marxis Inggris generasi berikutnya. Labrousse adalah sejarawan Sorbonne yang mengkaji siklus ekonomi abad ke-19 di Perancis. Kajian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan material-material sebenarnya yang menjadi sebab pecahnya Revolusi 1789 (Labrousse 1943). Yang lebih penting, kepeloporannya dalam menerapkan metode kuantitatif yang canggih mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peralihan menuju sejarah demografi dan ekonometrik yang lebih pesat di antara para sejarawan Perancis generasi berikutnya yang tergabung dalam jurnal Annales.

Periode setelah Perang Dunia II kemudian menjadi saksi berkembangnya aliran-aliran sejarawan Marxis di berbagai universitas Barat, yang terutama memfokuskan pada analisis mengenai struktur-struktur material dalam perkembangan politik. Karya penting tentang asal mula terjadinya Revolusi Inggris pada abad ke-17, mengenai perkembangan gerakan buruh Inggris di abad ke-19, dan mengenai sejarah ekonomi dan sosial berbagai kementerian Perancis pada periode awal modern dan modem telah menemui berbagai tantangan tak ringan tapi karya-karya ini memberi suatu konstribusi permanen terhadap upaya memantapkan pendekatan orientasi-problem sebagai pengganti gaya naratif dalam penulisan sejarah. Hal ini dipahami sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas menuju sejarah ekonomi yang sama-sama berakar pada karya radikal-liberal mengenai Revolusi Industri Inggris yang dimulai dengan Arnold Toynbee (1884), dan pada karya demokratik mengenai faktor-faktor material dalam sejarah AS yang dimulai dengan ‘tesis garis batas’-nya Frederick Jackson Turner (1893). Bahkan pada saat kejayaannya, sejarah Marxis menolak keras ketegangan internal, khususnya setelah terjadi invasi ke Hungaria pada tahun 1956. Kegagalan rezim sosialis yang memalukan ini menimbulkan pertanyaan mengenai teleologi politik yang telah mendukung pendekatan Marxis terhadap sejarah, dan menyebabkan reevaluasi terhadap kekukuhan determinisme ekonomi dan penekanan kembali pada elemen-elemen historis isme kultural dalam karya-karya Marx. Gejala ini terutama muncul di Inggris, dengan tradisi pribumi yang kuat atas sosialisme etis dan idealis: salah satu kontribusi yang paling berpengaruh adalah kajian Edward Thomson (1963) mengenai kelas pekerja Inggris abad ke-19. Penekanan tradisi politik dan religius yang sama besarnya dengan struktur ekonomi dan menafsirkannya dalam kerangka tradisi itu sendiri menghasilkan manifesto terkenal mengenai upaya menyelamatkan mereka yang telah mengikuti pandangan masa lampau atau gagasan-gagasan utopis dari generasi masa depan yang rendah diri’.

Para sejarawan dalam tradisi Marxis yang masih setia dengan analisis historis konkret meninggalkan kerangka teleologis kuno dengan cara mendekonstruksi kategori-kategori material yang utama seperti kelas dan memasukkan dampak aktivitas negara dalam cakupan kekuatan sosial mereka. Akibatnya, karya mereka makin terseret dalam arus liberal. Para sejarawan dalam tradisi Marxis yang berusaha mempertahankan adanya fokus khusus cenderung menekankan dampak pembatasan bahasa pada kesadaran. Jika penekanan ini menjadi suatu pendekatan baru terhadap pergerakan-pergerakan populer dan menjadi basis pendekatan kritis terhadap metode historis, maka penekanan ini tidak hanya menghapus teleologi materialis kuno tapi juga segala pendekatan menyimpang dalam menganalisis konteks kultural. Ironisnya, kemudian, banyak sejarawan yang masih menyatakan kesetiaannya pada warisan kritis Marx ini mulai mengusulkan versi historisisme yang makin tidak berdasar.