Advertisement

Di Indonesia, antara tahun 1974 dan 1976 para penerbit buku swasta diperkirakan menerbitkan rata-rata 3,5 juta eksemplar buku dalam setahun. Pada tahun 1981, perkiraan itu meningkat menjadi antara 5 juta dan 10 juta eksemplar setahun, dengan jumlah judul antara 2.500 dan 3.000. Yang jauh lebih banyak lagi adalah jumlah buku yang diterbitkan dalam kaitan dengan program perbaikan mutu pendidikan tingkat dasar dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak dimulainya program itu pada tahun 1973 sampai bulan September 1979, diterbitkan 154 juta buku teks dan 7 juta buku pembimbing bagi para guru, atau rata-rata 25 juta eksemplar setahun.

Dalam bidang media oers, sampai pertengahan tahun 1970-an rata-rata surat kabar dicetak hanya beberapa puluh ribu atau di bawah 100.000 eksemplar setiap kali terbit. Tetapi 10 tahun kemudian, sejumlah surat kabar nasional dan daerah dicetak ratusan ribu eksemplar, bahkan beberapa di antaranya di atas setengah juta eksemplar sekali terbit. Oplah penerbitan pers antara tahun 1987 dan 1988 meningkat hampir dua juta eksemplar, dari 7,8 juta menjadi 9,7 juta.

Advertisement

Menurut data Departemen Penerangan, pada tahun 1979 di Indonesia terdapat 1.969 perusahaan percetakan. Lima tahun kemudian, tahun 1984, jumlah itu bertambah dengan hampir 2.000 menjadi 3.900. Tiga tahun berikutnya, tahun 1987, perkembangan pesat mengubah lagi angka itu menjadi 5.500, di antaranya 1.000 di Jakarta, 916 di Jawa Timur, dan 472 di Jawa Tengah.

Banyaknya percetakan ini berbeda dengan keadaan pada akhir tahun 1949, sesudah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tanggal 27 Desember. Di Jakarta, waktu itu, hanya ada dua perusahaan percetakan milik pengusaha pribumi. Tetapi pada tahun 1951 jumlah itu melonjak menjadi 23, selain 24 percetakan milik pengusaha asing yang boleh dikatakan seluruhnya orang Belanda, dan 86 percetakan lainnya milik pengusaha etnis Cina.

 

Percetakan Masuk Indonesia

Menurut hasil penelitian yang diketahui sampai sekarang, almanak Tijdboek untuk tahun 1659 merupakan barang cetakan pertama yang dibuat di Indonesia. Mungkin pada pertengahan abad ke-17 para pencetak dari Nederland mulai tertarik membuka usaha percetakan di Batavia (Jakarta), yang sejak tahun 1619 telah dikembangkan menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan kompeni (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC).

Pada tahun 1668, VOC mengadakan kontrak dengan ahli penjilidan buku asal Amsterdam bernama Hendrik Brants untuk mencetak semua barang cetakan yang diperlukan VOC. Selain itu, VOC menjual sebuah alat cetak kepada Brants. Karena ia hanyalah seorang juru jilid, Brants bekerja sama dengan juru cetak berpengalaman, Jan B ruining, liasa kontrak ity berlaku selama dua tahun, dan sesudah itu VOC mengadakan kontrak baru atau mempekerjakan orang Belanda yang memiliki keahlian atau berkecis dalam produksi barang cetakan. Waktu itu, mungkin VOC juga mempunyai pabrik pembuatan huruf sendiri. Para pencetak dan penerbit pertama yang membuka usaha di Batavia dapat disebut subkontraktor bagi kantor VOC setempat. Pada tahun 1677 mereka mencetak sebuah kamus Belanda-Melayu, dan tahun 1693 sebuah kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Portugis, bahasa yang waktu itu umum digunakan di Asia Timur.

Walau di Batavia sudah bergerak para pencetak swasta (stads-drukkers), pada tahun 1719 VOC agaknya mendirikan usaha percetakannya yang kedua di Batavia, bernama Castle Press. Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron von Imhoff, yang memerintah pada tahun 1743-1750, kemudian mendirikan usaha percetakan VOC yang ketiga.

Gubernur Jenderal von Imhoff, orang berhaluan liberal yang ingin meningkatkan kehidupan intelek¬tual dan kebudayaan di Batavia, mendorong seorang bawahannya untuk menerbitkan surat kabar pertama berbahasa Indonesia, bernama Bataviasche Nouvelles. Surat kabar yang dicetak di Castle Press sebagai mingguan ini mendapat izin awal selama tiga tahun dan mulai terbit tanggal 7 Agustus 1744. Tetapi para direktur pelaksana VOC di Amsterdam yang berjumlah 17 orang (De Heeren Zeventieri) tidak senang melihat surat kabar ini karena menganggapnya merugikan dan membahayakan kepentingan VOC. Karena itu, belum lagi izin awal itu berakhir, surat kabar ini sudah harus ditutup pada tahun 1745 (Lihat BATAVIASCHE NOUVELLES).

Pada akhir abad ke-18, menjelang pembubaran VOC pada tanggal 31 Desember 1799, usaha percetakan swasta yang kini dikendalikan oleh keluarga Dominicus telah berkembang menjadi usaha penerbitan. Mereka menerbitkan puisi, kamus, almanak, dan surat kabar kedua di Indonesia— mingguan bernama Vendu Nieuws (Berita Lelang)— yang dikenai sensor sangat ketat dan terbit pada tahun 1775-1809.

Gubernur jenderal dapat memerintahkan penutupan suatu usaha percetakan demi kepentingan umum untuk memelihara ketentraman dan ketertiban. Ketentuan tahun 1856 ini pada dasarnya masih menjadi pegangan bagi peraturan-peraturan tentang percetakan yang dikeluarkan selama abad ke-20, pada tahun-tahun 1906, 1931, dan 1968. Peraturan tahun 1906 menunjukkan sedikit perubahan, dengan menyatakan bahwa semua barang cetakan harus diserahkan ke kantor kepala daerah dalam waktu 24 jam setelah terbit. Keharusan meminta izin dari pemerintah untuk mendirikan perusahaan percetakan dan penerbitan juga berlaku selama pendudukan militer Jepang (1942—1945) dan pendudukan Belanda (1945—1949).

Pelopor Percetakan Pribumi. Sampai sekarang masih menjadi pertanyaan, siapa sebenarnya pelopor usaha percetakan dan penerbitan dalam bahasa Indonesia (Melayu) di kalangan masyarakat pribumi. Surat kabar dan majalah dalam bahasa Melayu yang diterbitkan di Indonesia pada masa awal umumnya ditangani oleh gabungan orang Belanda dan pribumi atau keturunan Cina dan pribumi.

Tetapi beberapa peneliti sejarah menganggap R.M. Tirtoadisoerjo bukan saja perintis pers melainkan juga pelopor usaha percetakan dan penerbitan di kalangan masyarakat pribumi. Tirtoadisoerjo, yang sebelumnya bernama R.M. Djokomono, mendirikan NV Javaansche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften (Toko Buku dan Percetakan dan Toko Alat Tulis Jawa) pada bulan Januari 1904. Pada tahun 1907—1912 ia menerbitkan majalah, kemudian surat kabar, Medan Prijaji, di Bandung. Surat kabar ini pada suatu waktu dapat mencapai oplah rata-rata 2.000 eksemplar, suatu jumlah yang besar untuk masa itu.

Incoming search terms:

  • sejarah percetakan
  • sejarah percetakan di indonesia
  • percetakan pertama di Indonesia
  • sejarah percetakan di i
  • pengertian percetakan menurut para ahli
  • pengertian perusahaan percetakan
  • yg dimaksud perkembangan percetakan
  • percetakan pertama di indoneisa
  • pengusaha pertama penerbitan dan percetakkan di indonesia adalah
  • peecetakan pertama kali di indonesia oleh pemeribtah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • sejarah percetakan
  • sejarah percetakan di indonesia
  • percetakan pertama di Indonesia
  • sejarah percetakan di i
  • pengertian percetakan menurut para ahli
  • pengertian perusahaan percetakan
  • yg dimaksud perkembangan percetakan
  • percetakan pertama di indoneisa
  • pengusaha pertama penerbitan dan percetakkan di indonesia adalah
  • peecetakan pertama kali di indonesia oleh pemeribtah