Garis sejarah psikologi sosial

Pada pertengahan tahun 1950-an, Gordon Allport (1954) berpendapat bahwa sebagian besar masalah besar yang menjadi perhatian para psikolog sosial kontemporer telah diamati para filsuf sosial jauh sebelum pertanyaan-pertanyaan psikologi menjadi bagian dari metodologi ilmiah. Barangkali pertanyaan yang paling mendasar dilontarkan oleh Comte: bagaimana manusia secara simultan bisa menjadi penyebab sekaligus sebagai akibat dari masyarakat? Meskipun banyak pengarang buku teks dengan yakin mengidentifikasi kelahiran psikologi sosial pada tahun 1908 yaitu ketika diterbitkannya dua teks yang ditulis oleh Mc Dougall dan Ross tapi sebenarnya bidang ini baru mulai konsisten mengembangkan identitasnya sendiri pada pertengahan tahun 1930-an dan baru benar-benar menemukan momentumnya setelah PD II. Koherensi dan momentum berikutnya sangat tergantung pada perkembangan dari teori-teori dan metode sosial murni, contoh awal yang paling berpengaruh dalam hal ini merupakan kontribusi Kurt Lewin pada akhir tahun 1930-an dan awal tahun 1940-an.

Setelah usaha mempertahankan yang gigih dan disertai bukti-bukti, Lewin berhasil mendapatkan kemungkinan-kemungkinan eksperimentasi dalam kajian psikologi sosial. Kajian eksperimentalnya tentang atmosfir kepemimpinan yang otokratis, demokratis dan laissezfaire (dengan Lippit dan White tahun 1939) menunjukkan betapa kompleksnya variabel-variabel situasional yang dapat dimanipulasi, divalidasi, dan diperlihatkan untuk menghasilkan konsekuensi-konsekuensi yang berbeda tetapi teratur. Lewin berharap dapat menyelesaikan permasalahan generalisasi dari laboratorium menjadi “dunia nyata” dengan tidak hanya mengandalkan hubungan antara eksperimentasi dan ke teori tetapi juga penyelenggaraan paralel dari eksperimen laboratorium dan lapangan atas permasalahan yang berhubungan secara konseptual.

Meski diyakini bahwa Kurt Lewin layak mendapatkan gelar Bapak psikologi sosial eksperimental, terdapat banyak pengaruh lain yang berada di bawah payung psikologi sosial selama tahun 1920-an dan 1930-an di AS. Pengaruh-pengaruh ini meliputi berbagai kajian empiris atas pemecahan permasalahan kelompok, Thur- stone dan Chave (1929) serta Likert (1932) yang menciptakan teknik-teknik pengukuran sikap yang cerdas, serta perkembangan sampling responden serta metodologi survai riset.

Identitas terpenting dari psikologi sosial tetap terkait pada pendekatan eksperimental. Salah seorang pengikut Lewin, Leon Festinger, mencontohkan penekanan Lewin pada gerakan maju mundur antara sisi laboratoris dan lapangan, dan menunjukkan secara khusus bagaimana eksperimentasi hanya masuk akal jika dipersatukan dengan teori. Antara pertengahan tahun 1940-an sampai tahun 1960-an, ketika ia sedang giat-giatnya menekuni psikologi sosial, Festinger (1954; 1957) mengembangkan dua teori yang memiliki dampak sangat besar pada bidang ini. Pertama adalah teori” proses perbandingan sosial”, yaitu seperangkat dalil dan proposisi yang terperinci yang berkaitan dengan konsekuensi-konsekuensi bagi interaksi sosial dari kebutuhan orang akan jenis-jenis informasi tentang diri mereka dan dunia luar yang hanya dapat disediakan oleh orang lain. Kedua adalah teori “disonansi kognitif” (cognitive dissonance), yang menggambarkan berbagai manuver mental dan perilaku di mana orang berusaha memelihara dan mengembalikan konsistensi kognitif. Kekuatan teori ini sangat disokong oleh pernyataan Festinger bahwa beberapa kongnisi lebih tahan terhadap perubahan daripada yang lain, dan bahwa komitmen behavioral adalah sumber potensial bagi daya tahan seperti itu. Pernyataan ini memungkinkan dibuatnya prasyarat yang lebih akurat tentang bentuk-bentuk reduksi disonansi (dissonance reduction) yang akan diambil dalam situasi yang berbeda, terutama ketika perubahan diamati dalam kognisi yang paling tidak resisten. Ide-ide yang mempengaruhi kedua teori tersebut tetap penting dalam pemikiran sosiologi sosial saat ini dan telah menjadi bagian dari kearifan budaya kita. Yang juga sama penting, riset yang dibangkitkan oleh teori disonansi kognitif memberikan contoh yang jelas tentang kemajuan koheren melalui riset eksperimental dalam ilmu sosial, riset yang menyebabkan pemikiran-pemikiran kumulatif yang membantu menyempurnakan dan memperkuat teori yang mempengaruhinya.

Pada saat muncul antusiasme dalam usaha menyelidiki fenomena disonansi pada akhir tahun 1960-an, suatu orientasi teoretis yang sangat berbeda menjadi menonjol dalam psikologi sosial. Orientasi ini adalah “pendekatan atribusional” (attributionalapproach)dalam kognisi sosial, sebuah pendekatan yang dimulai oleh Fritz Heider dan ditemukan pertama kali dalam karya Psychology of Interpersonal Relations (1958). Premis dasar dari pendekatan atribusional ini adalah bahwa manusia termotivasi untuk memahami perilaku, dan bersiap-siap melakukannya dengan melihat perilaku tersebut dalam konteks sebab-akibat yang bermakna. Tanggapan kita terhadap orang lain, dengan kata lain, adalah sebuah fungsi dari segala sebab yang kita kaitkan dengan usaha-usaha kita menjelaskan perilaku mereka. Meski pada awalnya teori atribusi hampir secara eksklusif terfokus pada persepsi dari orang lain, Kelley (1967) dan Bem (1967) memperluas orientasi atribusi hingga mencakup persepsi-diri. Persepsi dari disposisi internal serta emosi kita sendiri kadang ditengahi oleh penilaian sebab-akibat kita tentang perilaku kita sendiri, dengan memperhitungkan ciri-ciri yang relevan dari konteks situasional

Pada saat orientasi atribusional berjaya pada awal tahun 1970-an, pendekatan ini mengumpan dan diumpan oleh kebangkitan kepentingan dalam kognisi sosial. Psikologi sosial (paling tidak sejak subjektivisme yang dimulai oleh W. I. Thomas) telah selalu memiliki minat dalam cara-cara di mana orang menginterpretasikan lingkungan sosialnya, tetapi sebuah penekanan terhadap analisis yang rinci dari pengolahan informasi serta kognisi sosial telah menjadi makin dominan sejak akhir tahun 1980-an (lihat sebagai contoh Fiske dan Taylor 1991). Pengaruh dari pendekatan atribusional telah tercermin dalam sebuah keprihatinan atas bias dan kesalahan atribusional dalam penerapan strategi-strategi inferensi (Nisbett dan Ross 1980; Schneider 1994).

Sementara perkembangan kognisi sosial terjadi dalam aliran utama psikologi sosial eksperimental, beberapa psikolog sosial masih berkon sentrasi pada permasalahan tradisional tentang pengaruh sosial dan proses-proses kelompok. Kajian klasik Asch (1956) tentang konformitas dan riset Milgram terhadap kepatuhan pada otoritas telah menjadi topik buku ajas standar. Dari sisi lain, penemuan mereka memperlihatkan kepekaan yang luar biasa dari orang dewasa normal terhadap berbagai tekanan pengaruh sosial. Sifat dari proses-proses kelompok secara khusus dibahas dalam analisis Thibaut dan Kelley (1959) tentang pertukaran hasil dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan dyads. Analisis tersebut berpusat pada matriks kontingensi dari teori game, dan juga perkembangan dari teori-teori penguatan dan perbandingan sosial dalam psikologi. Analisis ini memberikan kerangka yang kaya dan provokatif dalam membahas relasi kekuatan, peran, serta norma-norma pertumbuhan, dan juga mempengaruhi perkembangan teori identitas sosial f;ropa yang khas tentang hubungan antar-kelompok Banyak publikasi sejak tahun 1960-an menghadapi situasi konflik antar-personal yang rumit yang bisa diselesaikan melalui tawar-menawar dan negosiasi. Di sepanjang periode ini, sebuah aliran telah membawa pencerahan pada gejala-gejala sosial seperti agresi. perilaku menolong, perubahan sikap, pembuatan keputusan juri, kerumunan (crowding), diskriminasi sosial, dampak televisi, serta berbagai topik terapan yang lain. Ulasan-ulasan historis yang lebih komprehensif baik yang umum maupun yang dalam wilayah yang lebih spesifik dapat ditemukan dalam Handbook of Social Psychology (Lindzey dan Aronson 1985) serta Advances in Experimental Social Psychology (Zanna 1990; 1991; 1992; 1994).

Incoming search terms:

  • sejarah psikologi sosial

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • sejarah psikologi sosial