Advertisement

Sebagian penduduk Indonesia berada di pedesaan dan hidup dengan mata pencaharian pokok di bidang pertanian. Oleh karena itulah strategi pembangunan pertanian dalam Pelita VI diarahkan untuk mewujudkan pertanian tangguh yang dicirikan oleh kemampuannya dalam mensejahterakan para petani dan mendorong pertumbuhan sektor-sektor terkait dalam sistem perekonomian secara keseluruhan. Kebijaksanaan operasional pelaksanaan pembangunan pertanian didasarkan pada sistem agribisnis terpadu berkelanjutan dengan memanfaatkan secara optimal sumberdaya pertanian dalam suatu kawasan ekosistem.

Dengan pendekatan ini orientasi pengembangan komoditas tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi saja, tetapi diperluas mencakup keseluruhan subsistem di dalam sistem agribisnis.
Wujud penerapannya adalah dengan sistem usaha pertanian terpadu dengan skala ekonomi yang mencapai persyaratan efisiensi dalam wadah demokrasi ekonomi.
Dasar pemikiran dari strategi pembangunan pertanian dalam Pelita VI tersebut adalah karena kemajuan sektnr-sektor non pertanian banyak tergantung pada kemajuan sektor pertanian. Seperti yang dikemukakan oleh Jorgensen (1961), Ranis dan Fei (1961), Kuznet (1965), dan Enke (1982), bahwa kemajuan yang dicapai oleh sektor non pertanian tergantung dari keberhasilan pembangunan di sektor pertanian dalam arti tersedianya surplus produksi bagi tenaga kerja di sektor non-pertanian. Dengan demikian pertumbuhan sektor nonpertanian ditentukan oleh surplus di sektor pertanian.
Namun demikian keberhasilan strategi pengembangan sektor pertanian akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh semua pihak dan tidak hanya oleh Departemen Pertanian saja, terutama perlu adanya dukungan secara politis dari Departemen-Departemen terkait. Dukungan secara politis dari Departemen-Departemen yang lainnya ini diharapkan dapat menciptakan kondisi yang kondusif di dalam menerapkan sistem agribisnis, sehingga dapat mewujudkan pertanian tangguh.

Advertisement

Advertisement