Advertisement

Masyarakat yang berpola hidup berburu dan meramu, biasanya mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok dengan selingan pisang dan keladi ketika tidak memroses sagu. Pembuatan atau pemrosesan sagu merupakan hal yang paling umum dilakukan oleh penduduk Mentawai. Pemrosesan sagu biasanya memakan waktu tiga minggu. Proses pembuatan sagu bermula dari pemotongan pohon sagu yang telah berusia 10 hingga 15 tahun. Pemotongan ini dilakukan terhadap satu batang pohon sagu menjadi empat bagian. Satu bagian dari potongan pohon sagu ini dapat dipakai untuk dikonsumsi selama satu minggu dalam satu keluarga batih.

Membuat sagu biasanya dilakukan oleh laki-laki. Pertama, dia harus mendapatkan pohon sagu yang sudah berumur sekitar 15 tahun atau lebih. Lalu pohon tersebut dibersihkan dari pohon-pohon yang merambat. Setelah itu pohon sagu dipotong dengan kapak dan dibagi ke dalam empat bagian, dan setiap bagian dibelah dengan memakai kapak. Bagian dalam sagu dipisahkan dari kulitnya dengan memakai oodak (alat pengupas dari kayu) dan kemudian bagian dalam tersebut dicacah dengan memakai kukuilu (alat untuk penghancur menjadi kepingan agak halus). Alat ini berbentuk segi tiga, terbuat dari kayu yang diikat satu sama lain dengan menggunakan tali dari kulit kayu.

Advertisement

Kedua, cacahan sagu tersebut kemudian diletakkan dalam kotak besar yang terbuat dari kayu ukuran 150 cm lebar x 200 cm panjang x 25 cm tinggi disebut juga dengan geogebat. Kotak kayu persegi tersebut dibuat sedemikian rupa sebagai alat penyaring air sagu, dasar dari saringan tersebut dipakai serat-serat dari pohon kelapa (teitei tapi) yang dijalin dengan penguat dari semacam tumbuhan rumput untuk mengikatnya (uupput dereat) dan jalinan tersebut disebut dereat. Alat penyaring sagu ini kemudian berkembang dengan penggunaan bahan yang terbuat dari kain atau dari nilon dengan membelinya di kota kecamatan. Perubahan ini dapat terjadi karena adanya hubungan sosial dengan tipe sosial budaya masyarakat lainnya. Begitu juga alat untuk mencacah sagu agar menjadi lebih halus sudah banyak berubah, yaitu dengan cara menggunakan mesin penghalus yang dibuat sendiri. Dengan demikian, terjadi suatu penyederhanaan penggunaan waktu untuk memproses sagu.

Geogebat diletakkan di atas panggung setinggi sekitar 2 m dengan topangan empat batang kayu (deret geogebat). Alas geogebat dibuat dari anyaman bambu (ibatgereat) yang diperkuat dengan tiga batang kayu, dipasang melintang (batsimune). Di antara geogebat dan batgereat diletakkan anyaman bambu juga yang lebih halus (.batsalaksa). Sagu yang telah dicacah kemudian ditaruh di geogebat.

Ketiga, cacahan sagu tersebut kemudian diinjak-injak oleh seseorang yang berdiri di atas geogebat. Sebelum diinjak, orang tersebut mengambil air untuk mencampur sagu yang akan diinjak. Alat pengambil sagu terbuat dari sebatang bambu sepanjang 3 m dengan ujungnya berupa kerucut terbuat dari bambu yang dianyam (pupupu/dhedheibu). Setelah dicampur dengan air, barulah cacahan sagu tersebut diinjak-injak. Akibat dari injakan tersebut air yang telah bercampur dengan cacahan sagu akan berwarna putih dan akan mengalir ke bawah geogebat.

Air sagu akan mengalir melalui teitei tapi lalu batsalaksa dan kemudian batgereat dan jatuh pada sebuah kayu mirip sampan (borojat) yang diletakkan agak miring untuk mengalirkan air yang sudah bercampur sagu berwarna putih. Agar air sagu tidak berantakan ke kiri dan kanan dan terbuang secara percuma, di antara borojat dan batgereat diletakkan semacam dindmg terbuat dari anyaman daun sagu (tobat), sehingga air sagu yang berwarna putih dapat diarahkan alirannya. Air kemudian mengalir melalui borojat ke sebuah sampan yang besar yang diletakkan di bawah sebagai alat untuk mengendapkan sagu dan sekaligus memisahkannya dengan air.

Keempat,air sagu yang sudah ada di sampan akan terus mengalir dan akan terbuang. Untuk menahan endapan sagu, di dalam dibuat sekat-sekat yang terbuat dari daun sagu (buluk duisebanyak dua atau tiga sekat sepanjang soroba tersebut.

Setelah cukup lama menginjak-injak dan dirasa sagunya sudah mencukupi, lalu sagu didiamkan mengendap di sampan. Kira-kira 3 minggu barulah endapan sagu tersebut diambil dan diletakkan di sebuah tempat yang terbuat dari kulit pohon sagu yang dianyam (angkin).

Kelima,endapan sagu yang masih basah dikumpulkan dan dimasukkan dalam angkin,satu angkinbiasanya dapat terisi 25 kg sagu basah. Sagu yang dibuat tersebut dapat memenuhi kebutuhan selama 4 bulan untuk satu keluarga yang punya tiga orang anak. Sisa cacahan sagu yang masih ada yang berupa ampasnya lalu diberikan kepada ayam atau babi untuk makanan. Sisa potongan pohon sagu yang telah diambil bagian dalamnya kemudian dibusukkan di dalam air untuk kemudian diambil ulat-ulat sagunya dan dapat dimakanmembuat sagu secara banyak (bergiliran). Para pembuat sagu ini biasanya dalam mengerjakannya selalu bernyanyi-nyanyi untuk menghilangkan rasa lelah.

Kegiatan pembuatan sagu yang memerlukan beberapa orang dan melibat-kan orang dusun pada masa sekarang tidak lagi dilakukan, pembuatan alat pengolah sagu sudah dibuat oleh satu keluarga batih yang tidak ada pemisahan dalam pekerjaan secara jenis kelamin. Kaum perempuan pada masa sekarang sudah dapat terlibat dalam pembuatan alat pengolah sagu, seperti pada proses penyediaan kayu-kayu untuk pembuatan alat. Begitu juga dalam pemrosesan, seperti membuat tepung sagu yang cukup dengan cara menghaluskan bongkahan sagu dengan menggunakan alat pembuatan serpihan halus (gogojai) yang cukup dilakukan oleh kaum perempuan dan kemudian memeras sagu halus dengan menggunakan alat saring dari nilon dan dicampur air dan memerasnya.

Segala peralatan pemrosesan akhir pembuatan sagu cukup dengan peralatan yang dibeli dari toko atau warung seperti alat penyaringan dari nilon dan penghalus sagu bongkahan biasanya dibuat sendiri dengan alat yang berbentuk papan dan diberi paku-paku yang berjumlah banyak untuk memarut bongkahan sagu.

Lain halnya dengan pemrosesan sagu bagi masyarakat dan kebudayaan Senggi di Papua. Mata pencarian masyarakat pada umumnya adalah meramu sagu dan berburu. Dalam proses meramu sagu dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Mula-mula pohon sagu yang dianggap telah dewasa ditebang lalu dibersihkan dan kemudian dilakukan pembelahan pohon sagu oleh kaum laki-laki yang pekerjaannya juga menghancurkan hati batangnya. Kemudian kaum perempuan dan anakanak yang memeras-meras dan kemudian memeras serat-serat sagu yang telah lumat oleh air dan kemudian ditampung dengan menggunakan sebuah wadah yang terbuat dari anyaman daun sagu. Setelah didiamkan selama satu malam, sagu yang telah mengendap dapat dibawa pulang.

Sama halnya dengan proses peramuan sagu bagi masyarakat Waropen, pohon sagu yang sudah berumur 8-10 tahun dianggap sudah dewasa dan kemu-dian layak untuk ditebang dan diproses untuk dijadikan tepung. Pekerjaan laki-laki adalah memotong pohon sagu tersebut dan kemudian membelahnya. Setelah itu kaum perempuan mengambil alih pekerjaan dengan cara memukul-mukul bagian yang lunak dari pohon sagu yang telah dipotong dan dibelah tersebut sehingga hancur. Setelah hancur kemudian dimasukkan ke dalam sebuah biduk atau perahu (garetta). Serat-serat yang mengandung tepung sagu kemudian dicampur dengan air dan kemudian diperas.

Selanjutnya tepung sagu (/i) yang kemudian mengendap di dasar diambil setelah airnya dibuang. Sagu kemudian dimasukkan ke dalam tas yang terbuat dari anyaman daun sagu (nokeng). Secara umum, satu pohon sagu yang besar dapat menghasilkan 100-150 kg sagu. Sebagian dari sagu dimakan setelah diolah menjadi sagu bakar atau bubur sagu (pepeda), dan sebagian lagi disimpan dalam satu tempayan (yvesi).

Kelompok masyarakat dengan tipe berburu dan meramu memiliki sistem ekonomi pengumpulan pangan. Di beberapa tempat di Indonesia, penduduknya masih hidup dalam kategori ini terutama di wilayah Papua, Kalimantan, pedalaman Sumatra, Kepulauan di Pantai Barat Sumatra, seperti, Nias, Mentawai, Simeuleu, dan beberapa kepulauan di Nusa Tenggara Timur. Selain berburu binatang beberapa suku bangsa yang berdiam di pantai-pantai utara dan barat daya Papua hidup dari mencari umbi-umbian, hasil-hasil hutan dan juga meramu pohon sagu untuk mendapatkan tepung sagu guna dipakai sebagai sumber makanan pokok.

Dilihat dari pemanfaatan tanaman sagu (.Metroxylon xp) di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara yang sudah berlangsung ribuan tahun, sezaman dengan pemanfaatan buah kurma di wilayah Mesopotamia atau lembah Sungai Eufrat dan Tigris di wilayah Timur Tengah. Laporan perjalanan musafir asal Venesia, Italia pada akhir abad XIII juga telah melaporkan pemanfaatan tanaman sagu menjadi makanan pokok di wilayah Sumatra dan Selat Malaka.

Data luas areal hutan sagu sampai tahun 1980-an mencapai 850.000 ha. Dari data tahun 1978 masih ada 59,33% penduduk Maluku yang masih mengonsumsi makanan pokok berbahan dasar sagu. Data tahun 1980 menunjukkan masih ada 30% penduduk Maluku dan 20% penduduk Papua Barat yang mengonsumsi sagu. Selain itu sagu juga menjadi bahan dalam pembuatan makanan yang khas di seluruh Indonesia.

Hutan sagu di Indonesia sampai dengan pertengahan abad XX umumnya tumbuh dan berkembang secara alamiah dan belum dibudidayakan secara intensif seperti tanaman pokok penghasil karbohidrat lainnya misalnya padi, jagung, ubi jalar, dan ubi kayu. Tanaman sagu dapat tumbuh dari biji buah atau tunas seperti tanaman pisang. Namun demikian, di beberapa tempat seperti di Papua dan Seram penduduk mulai menanam rumpun-rumpun sagu untuk dibiakkan di tempat yang belum tumbuh hutan sagu. Tanaman sagu ini umumnya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan tepung sagu setelah berumur 10-15 tahun dan dapat mencapai tinggi 10 m.

Dalam pemanfaatan hutan sagu dari batang tanaman yang dihancurkan untuk mendapatkan tepung sagu dibutuhkan pengetahuan dan teknologi untuk membuat tepung sagu atau aci. Pertama-tama penduduk dapat melihat dari tanda-tanda pohon sagu yang sudah siap ditebang adalah sudah muncul kuncup bunganya. Pada saat itu tepung acinya sudah padat, sedangkan pada saat sagu mulai berbuah adalah saat yang paling tepat untuk dipanen. Hal ini dikarenakan pada saat itulah aci yang dihasilkan sangat banyak. Setelah itu pohon sagu akan layu dan mati.

Karena hutan sagu biasanya sangat lebat, dan pemilihan pohon sagu yang siap panen biasanya diambil secara acak, maka pada tahap pendahuluan yang perlu dilakukan adalah dengan membuka jalan di areal menuju pohon sagu yang sudah siap tebang. Membuka jalan di sini dapat berupa jalan kecil yang sederhana di atas rawa atau membuka akses ke sungai yang ada untuk memudahkan pengangkutan batang sagu. Biasanya batang sagu ditebang dengan kapak, setelah itu batang sagu dibersihkan dari pelepahnya. Kemudian dipotong-potong sepanjang 1,5-2 m untuk memudahkan diangkut ke kampung penduduk. Namun, adakalanya bagian dalam batang sagu yang menghasilkan tepung sagu (empulur) yang diambil di hutan kemudian dibawra ke kampung. Sesampainya di kampung batang sagu dibelah dan dihancurkan dengan tongkat atau alat tokok, dapat juga dengan diparut. Setelah itu empulur yang sudah hancur dicampur air dan diperas. Selanjutnya air perasan tersebut diendapkan dan dikeringkan sampai didapatkan aci kering atau tepung sagu kering. Biasanya teknologi yang dipergunakan adalah teknologi sederhana dengan menggunakan peralatan yang disediakan dari hutan, seperti tongkat pemukul, tempat saringan, dan saringannya. Aci inilah yang kemudian dapat diolah menjadi berbagai makanan asli penduduk.

Dalam data yang ditulis oleh Heryanto dan Pangloli (1992) dapat diketahui bahwa di Papua dari satu pohon sagu dapat diperoleh 120-175 kg sagu kering (aci), sedangkan di Seram dari satu pohon sagu dapat diperoleh 144-265 kg aci kering. Pengolahan sagu secara modern mulai dilakukan pada akhir abad XIX dengan menggunakan cara-cara yang modern sampai saat ini, meski cara tradisional lebih banyak dipakai. Sebagai contoh pada 1989, PT Sagindo Sari Lestari di Bintuni (Manokwari, Papua) dapat memproduksi 36.000-150.000 ton per tahun sagu kering.

Advertisement