Advertisement

Masyarakat Melayu Silat di Kalimantan Barat merupakan kelompok sosial yang hidupnya dari perladangan-berpindah. Sistem mata pencarian ini sudah diperoleh mereka secara turun-temurun, dan pada perkembangan selanjutnya kelompok sosial ini harus berhadapan dengan lingkungan budaya lain akibat dari interaksi sosial yang berkembang dengan komunitas lainnya. Pola tanam yang disebut sebagai .’ladang berpindah ini seakan-akan mengikuti suatu ketetapan pasti yang akhirnya akan berulang di tempat asal dibukanya lahan, sehingga sering disebut juga dengan ladang berotasi.

Makanan pokok komunitas ini adalah nasi, karena itu jenis tanaman yang banyak diusahakan di ladang adalah padi. Meskipun demikian, ditanam pula jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedele, dan kacang hijau dengan pola usaha tanam tumpang sari. Sistem pengelolaan lahan dengan cara tebang bakar, dengan harapan agar tanah dapat lebih subur. Pada dasarnya pola tanam yang dilakukan tidaklah semata-mata bercocok tanam padi saja, setelah tahun ketiga ladang ditanami dengan pohon karet. Di samping itu, terdapat juga tanaman umbi-umbian yaitu ubi kayu dan ubi jalar yang selalu dapat dipanen sepanjang tahun, tanaman ini juga dipakai sebagai pembatas lahan dan ditanam di pinggir-pinggir lahan. Ubi kayu dan ubi jalar ini dikonsumsi sendiri serta untuk pakan ternak.

Advertisement

Masyarakat umumnya tidak menggunakan pupuk dalam mengolah ladang, baik pupuk anorganik maupun pupuk organik. Pestisida digunakan untuk memberantas kutu putih yang menyerang tanaman tomat dan cabe, biasanya meng-gunakan pestisida organik yang diproses melalui permentasi, seperti cabe rawit yang ditumbuk halus.

Hasil pangan yang umumnya diproduksi sekali dalam setahun khususnya padi yang hampir seluruhnya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, artinya tidak pernah dijual kecuali tanaman pangan lainnya; seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung dan tanaman sayuran serta palawija lainnya.

Pekerjaan di ladang umumnya dilakukan bersama antara kepala keluarga dengan ibu keluarga dan anak-anak mereka, demikian juga dengan pekerjaan menoreh karet. Pekerjaan mengangkut dan menjual karet umumnya dilakukan oleh laki-laki dewasa, sedangkan menjual hasil pangan seperti sayuran dan palawija lebih banyak dilakukan oleh ibu rumah tangga. Pembagian tugas ini sudah berlangsung sebagai adat yang turun-temurun. Hasil panen padi ladang hanya dapat mencukupi kebutuhan keluarga selama 4-5 bulan, dan akan lebih cepat habis bilamana masyarakat sangat ketat terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan adat istiadat yang cenderung menghabiskan cadangan pangan masyarakat itu sendiri.

Hasil ladang umumnya mereka simpan di dalam lumbung pangan yang ada di rumah masing-masing dan ada juga yang disimpan di lumbung desa yaitu bangunan khusus yang dibuat untuk menyimpan pangan yang dibangun di tengah desa. Setiap panen warga wajib menyimpankan padi mereka atau jagung kepada lembaga adat yang mengurus adat yang menangani lumbung pangan.

Advertisement