STRES PSIKOLOGIS DAN KENAIKAN TEKANAN DARAH

57 views

STRES PSIKOLOGIS DAN KENAIKAN TEKANAN DARAH – Berbagai kondisi penuh stres telah diteliti untuk mengetahui perannya dalam etiologi hipertensi esensial. Wawancara penuh stres, bencana alam seperti gempa bumi, dan stres pekerjaan telah diketahui menyebabkan kenaikan tekanan yang berlangsung dalam jangka pendek Menaikkan tekanan darah di dalam laboratorium merupakan hal yang relatif mudah. Terjadinya berbagai kondisi emosional, seperti kemarahan, ketakutan, dan kesedihan, meningkatkan tekanan darah (Caccioppo dkk., 1993). Secara sama, tugas yang menantang, seperti aritmatika mental, menggambar dengan cermin, meletakkan tangan di atas es (tes penekan dingin), dan berpidato di muka umum, semuanya memicu kenaikan tekanan darah (a.1., Manuck, Kaplan, & Clarkson, 1993; Tuomisto,1997). Serangkaian studi klasik oleh Obrist dan para koleganya (a.1., 1978) menggunakan tugas waktu reaksi di mana para peserta diberi tahu bahwa mereka akan mendapatkan kejutan listrik jika mereka tidak merespons dengan cukup cepat. Kinerja yang baik akan diberi bonus berupa uang. Tugas waktu reaksi tersebut menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah sistolik secara signifikan. Karena alasan etis tidak ada eksperimen yang dilakukan pada manusia untuk mengetahui apakah peningkatan tekanan darah sementara akan berkembang menjadi hipertensi jangka panjang dan perubahan struktural aktual pada sistem kardiovaskular. Dalam penelitian menggunakan hewan, hipertensi permanen terbukti tidak dapat dipastikan. Dalam-banyak studi yang menggunakan kejiftan listrik sebagai stresor, tekanan darah meningkat ketika hewan mengalami stres, namun kembali normal ketika stresor tersebut dihilangkan. Berbagai studi yang menggunakan stresor yang lebih alami, seperti bersaing dengan hewan lain untuk mendapatkan makanan (Peters, 1977), terbukti cukup berhasil menimbulkan kenaikan tekanan darah yang berlangsung lama. Namun, gambaran keseluruhan meng-indikasikan bahwa satu atau beberapa faktor pemicu, misalnya sistem saraf simpatis yang diaktifkan oleh rasa marah, diperlukan bagi stres untuk menimbulkan hipertensi esensial.

Meskipun hasil berbagai studi laboratorium tersebut menarik, pada akhirnya kita harus memahami bahwa kenaikan tekanan darah terjadi di dalam lingkungan alami orang-orang Karena itu, para peneliti juga melakukan studi pengukuran tekanan darah dalam aktivitas sehari-hari, di mana para peserta memakai gelang pengukur tekanan darah yang membaca tekanan darah ketika mereka menjalani rutinitas sehari-hari. Dalam banyak studi tersebut para peserta ditanya tentang kondisi emosional mereka ketika alat tersebut membaca tekanan darah. Temuan umum adalah baik kondisi emosional positif maupun negatif terkait dengan tekanan darah yang lebih tinggi (a.1., Jacob dkk., 1999; Kamarck dkk., 1998). Juga terdapat indikasi bahwa dari berbagai emosi negatif, kemarahan memiliki hubungan terkuat dengan kenaikan tekanan darah .
Studi lain yang memantau tekanan darah dalam aktivitas sehari-hari meneliti kondisi lingkungan yang terkait dengan tekanan darah. Contohnya, serangkaian studi meneliti efek stres terhadap tekanan darah di kalangan paramedis (Shapiro, Jamner, & Goldstein, 1993). Dalam salah satu analisis tugas panggilan ambulan dibagi dalam tingkat stres tinggi dan stres rendah. Sebagaimana diperkirakan, panggilan dengan tingkat stres tinggi berhubungan dengan tekanan darah yang lebih tinggi. Hal yang lebih menarik adalah hasil yang muncul ketika paramedis dibagi dalam berbagai kelompok menggunakan tes kepribadian yang mengukur kemarahan dan defensivitas. Tidak terdapat perbedaan tekanan darah antara berbagai kelompok dalarn tu-gas panggilan dengan tingkat stres rendah. Meskipun demikian, dalam tugas panggilan dengan tingkat stres tinggi, paramedis yang memiliki kemarahan dan defensivitas tinggi memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Dalam studi lain, para peserta mera ting hambatan pekerjaan setiap kali alat pengukur tekanan darah membaca tekanan darah (Kamarck dkk., 1998). Tekanan darah lebih rendah ketika para peserta merasa memegang kendali atas lingkungan kerja mereka—contohnya, ketika mereka merasa mempunyai pilihan atas apa yang sedang mereka kerjakan. Namun demikian, studi lain yang mengukur tekanan darah dalam aktivitas seharihari menemukan bahwa bagi perempuan, kombinasi ketatnya pekerjaan dan tang-gung Jawab keluarga berhubungan dengan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik.

Dalam berbagai studi pemantauan dalam aktivitas sehari-hari yang dijelaskan di atas, jumlah keseluruhan kenaikan tekanan darah yang berhubungan dengan kondisi emosional atau lingkungan cukup kecil. Namun, secara konsisten juga ditemukan bahwa sekelompok peserta mengalami kenaikan yang tinggi, menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang memiliki semacam predisposisi, atau diathesis, akan mengalami kenaikan tekanan darah yang tinggi yang dalam jangka panjang dapat menjadi hipertensi permanen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *