Advertisement

war studies (kajian perang)

Kajian perang masih didominasi oleh refleksi- refleksi Carl von Clausewitz yang didasarkan pengalamannya di berbagai pertempuran Napoleon, On War (Clausewitz 1976). Buku ini sedang mengalami proses revisi ketika ia meninggal pada tahun 1831 sehingga hanya bab-bab pertama yang mencerminkan pemikirannya yang terbaru, dan ini mengundang perdebatan (terutama di kalangan pengkaji Marx) mengenai mana di antara tulisan Clausewitz yang awal atau yang belakangan yang memberi gambaran lebih benar dan lebih baik. Karena Perang-perang Napoleon digunakan untuk mewakili suatu pergeseran dalam karakter perang menuju konfrontasi total yang melibatkan mobilisasi seluruh masyarakat dan karena Clausewitz adalah pengungkap paling berpengaruh atas adanya pergeseran ini maka ia sering dipersalahkan atas timbulnya berbagai perang di kemudian hari, terutama karena tulisan-tulisan awal ini bisa dipergunakan untuk melegitimasi dorongan melakukan pertempuran mati-matian. Namun ia juga menjadi penganjur tindakan hati-hati, karena tulisan-tulisan Clausewitz yang belakangan lebih memperhatikan tarik-menarik antara sifat inheren perang mengambilalih dan menekannya hingga sampai tingkat kekerasan yang mutlak dan faktor-faktor pembatas di mana yang terpenting adalah pendefinisian mengenai tujuan perang yang akhirnya mengantarkan Clausewitz pada ajaran terkenalnya bahwa perang adalah kelanjutan politik melaui sarana lain (Gat 1989).

Advertisement

Meskipun politik barangkali bisa menciptakan tujuan-tujuan perang, namun tindakan aktualnya adalah tanggung jawab militer. Beberapa tokoh, seperti Henri de Jomini (1971 [1862]) dari Swiss, yang juga merupakan veteran Perang Napoleon, yakin bahwa keberhasilan perang ditentukan oleh penerapan prinsip-prinsip umum. Dalam skala yang lebih sempit, penyelidikan terhadap pertempuran masa sebelumnya dilakukan oleh militer agar bisa mengambil hikmah dalam mengembangkan berbagai doktrin dan taktik baru. Hans Delbruck dari Jerman bisa dikatakan unik sebagai salah seorang sejarawan akademi militer, la membedakan antara perang pembasmian (wars of annihilation), yang pada umumnya ditujukan untuk menghancurkan pasukan musuh secara mutlak, dan perang pelumpuhan (wars of exhaustion), di mana terdapat keterbatasan sumber daya dan pertempuran harus dialihkan dengan berbagai upaya untuk menghancurkan pusat perekonomian lawan, misalnya, dengan menghancurkan sumber pangan atau melakukan blokade (Craig 1985). Di sisi lain, asal-usul perang-perang tertentu dikaji oleh para sejarawan tetapi hanya ada sedikit teori tentang penyebab timbulnya perang.

Menjelang pergantian abad, muncul pemahaman tentang bagaimana paduan di antara berbagai revolusi dalam industrialisasi dan transportasi bisa menyebabkan timbulnya revolusi dalam peperangan. Bahkan sebagian perencana militer memahami bahwa yang paling penting diperhatikan adalah apakah kapasitas baru yang ditujukan untuk manuver dapat berhasil sebelum kapasitas baru itu ditujukan untuk melumpuhkan lawan. Kondisi absolut dari Perang Dunia I telah mentransformasi kajian perang.

Salah satu konsekuensi dari kenyataan ini adalah masalah perang berada pada inti kajian baru tentang hubungan internasional dan praktek hukum internasional. Perang diperlakukan sebagai kejahatan antar negara. Tujuannya adalah untuk merancang suatu tatanan internasional di mana berbagai persengketaan diselesaikan tanpa kontak senjata dan dengan demikian perang dapat dilarang. Kajian terhadap pelaksanaan perang ini sama saja dengan mendukungnya untuk terus terjadi dalam kehidupan manusia. Sebab- sebab terjadinya akhirnya harus dipahami dalam pengertian faktor-faktor irasional, seperti perlombaan senjata, lebih daripada sekadar kebijakan negara yang yang telah dipertimbangkan sungguh-sungguh.

Bahkan para ahli yang sebelumnya tidak yakin bahwa perang bisa dihapuskan, dan terlibat dalam kajian-kajian tentang penyelenggaraan perang, telah dikuasai keinginan kuat untuk menghindari pembantaian besar-besaran seperti dalam Perang Dunia I itu. Kebanyakan di antara mereka adalah veteran perang kendati mereka tidak suka perang atau pensiun dari perang. Ada juga pemikir seperti Douhet dari Italia dan Billy Mitchell dari Amerika (Warner 1943), yang yakin bahwa kekuatan angkatan udara sekarang memberi jalan untuk bisa menyelesaikan peperangan dengan cepat, bahkan barangkali tanpa sama sekali bertemu lawan di darat, sementara pemikir lain, seperti penulis Inggris “Boney” Fuller dan Basil Liddle Hart, yakin bahwa inovasi yang terpenting adalah tank (Bond 1977).

Peristiwa Perang Dunia II tidak sesuai dengan perkiraan para teoritisi pra-perang. Apalagi berkenaan dengan penghancuran Nagasaki dan Hiroshima oleh bom atom, membuktikan bahwa tipe-tipe perang yang dirumuskan sebelumnya bisa jadi sudah tidak memadai lagi. Bagi para pengkajiperang, peristiwa-peristiwa tahun 1930- an dan segala akibatnya telah menimbulkan bentuk keseriusan baru. Hubungan internasional bergeser dari model idealis ke realis. Minat kepada teori perang tercermin dalam bunga rampai berjudul Makers of Modern Strategy yang disusun oleh Edward Meade Earle. Karya ini hampir menyerupai upaya perang, tetapi merupakan teks baku selama empat dasawarsa hingga akhirnya digantikan oleh bunga rampai baru dengan judul yang sama (Earle 1943; Paret 1985). Di Chicago, Quincy Wright (1942) menghasilkan karya monumental Study of War, di mana melalui karya itu ditunjukkan arti penting analisis empiris yang serius.

Ciri penting lain Perang Dunia II adalah makin meningkatnya relevansi sains dan metode ilmiah dalam pengembangan senjata maupun taktik, yang ditandai dengan berbagai pengembangan radar, rudal dan mesin-mesin jet serta reaktor nuklir. Hal ini menegaskan bahwa kajian tentang penyelenggaraan dan persiapan perang mengandung kualitas kemasyarakatan yang menonjol. Berbagai dilema besar dari abad nuklir ini telah mempercepat kecenderungan yang berkenaan dengan masyarakat sipil. Menyusul disahkannya doktrin retaliasi masif (doctrine of massive retaliation) oleh Pemerintah Eisenhower pada tahun 1954, bermunculan berbagai kajian strategi. Sekilas tampaknya kebijakan keamanan Amerika Serikat mengandalkan suatu ancaman untuk membuat kehancuran besar bagi Uni Soviet dan sekutu- sekutunya sebagai hukuman atas pelanggaran sekecil apa pun. Barangkali kenyataannya memang demikian meski sebenarnya kredibilitas ancaman semacam itu telah merosot karena kemampuan Soviet makin meningkat untuk melancarkan tindakan balasan.

Itulah yang mulanya dikhawatirkan para ahli sejarah dan politik berkenaan dengan pandangan ini. Para ahli yang berasal dari latar belakang ini cenderung meragukan apakah kekuatan nuklir dapat dijadikan aset militer yang sangat menentukan bila dihadapkan dengan musuh yang juga memiliki kekuatan nuklir meskipun lebih rendah. Tetapi kedua pihak itu bertindak dan berbicara seolah-olah senjata-senjata nuklir itu telah menggantikan semua tipe senjata lainnya, dan komitmen terhadap para sekutu ditegaskan dengan berlandaskan pandangan ini. Hal ini membuat para ahli strategi klasik merasa bahwa mereka dihadapkan pada permasalahan sangat pelik di mana tradisi intelektual mereka tidak siap untuk itu (Freedman 1989).

Setelah masa-masa sulit lahirlah berbagai ahli strategi generasi baru seringkali dari jurusan ekonomi dan teknik bukan politik dan sejarah yang berusaha membuktikan bagaimana situasi baru bisa dikuasai dengan mengeksploitasi metodologi-metodologi baru pula. Karena logika ini mengarah pada upaya-upaya kerja sama untuk menanggulangi antagonisme adikuasa melalui negosiasi-negosiasi pembatasan senjata, maka berbagai kajian tentang masalah strategi akhirnya cenderung dipandang sebagai ranah sipil dan akademis.

Atas alasan konsekuensi-konsekuensi berbahaya dari konfrontasi adikuasa, tampaknya makin memungkinkan untuk percaya bahwa perang sudah dekat dengan saat kematiannya. Tentu saja, arti penting dari upaya menghindari perang mengandung pengertian bahwa pada akhirnya kajian perang didominasi oleh kajian tentang penangkalan (deterrence). Dalam kerangka teori perang, ini bisa diakomodasikan dalam suatu model realis yang menyatakan bahwa kekuatan- kekuatan besar harus mengejar kepentingan-kepentingan mereka dengan cara yang rasional (Waltz 1960).

Dalam konteks ini kajian perang akhirnya berkutat di sekitar tiga masalah utama. Pertama, apakah ada kemungkinan bahwa pengembangan-pengembangan teknologi senjata nuklir dapat mengakibatkan kondisi tertentu yang memberi kemenangan berarti dalam suatu konfrontasi adikuasa? Kedua, bila kondisi tersebut tidak terjadi, dan dengan mengasumsikan bahwa berbagai arsenal nuklir akan terus menerus saling menetralisasi satu sama lain, seberapa besar signifikansi pengembangan kekuatan militer konvensional? Ketiga, seberapa besar kemungkinannya mempercayai perilaku rasional pada saat-saat krisis, bila faktor-faktor seperti kekeliruan informasi dan salah persepsi, kesesatan dalam proses pengambilan keputusan dan psikologi individu para pemimpin, serta ketergantungan yang berlebihan pada berbagai peringatan dini dan prosedur peluncuran otomatik, dapat mengundang berbagai konsekuensi yang berbahaya?

Pertanyaan nomor tiga di atas telah mendorong kajian empiris lebih rinci mengenai berbagai keberhasilan dan kegagalan di masa lampau dalam mencegah timbulnya perang (Jervis, et. al., 1985). Karya ini mengangkat isu-isu metodologi mengenai kemungkinan melakukan generalisasi dari rentetan peristiwa penting dalam berbagai periode sejarah dan latar belakang geopolitik. Sejak tahun 1960-an sudah ada pendekatan khusus mengenai kajian perang yang bermuatan empirisisme yang kental (Midlarsky 1989). Juga termasuk dalam pendekatan ini adalah penyelidikan terhadap “berbagai korelasi perang” (Small dan Singer 1980).

Dengan berakhirnya Perang Dingin semua pendekatan dari kajian perang harus ditinjau kembali. Perang Teluk menunjukkan bahwa kajian-kajian klasik mengenai pelaksanaan perang barangkali masih mendapat tempat, namun kekuatan yang terutama dari analisis adalah menunjukkan bahwa persaingan antar kekuatan besar yang telah mendominasi kajian perang sejak masa Clausewitz pada akhirnya harus menyerah pada sejarah. Bila memang masih ada tradisi militer yang tetap relevan, maka tradisi itu adalah tradisi perang tanpa aturan/gerilya. Tradisi semacam ini sudah ada sejak dulu dengan mengatasnamakan anti kolonialisme tapi  sekarang proses dekolonisasi sudah hampir tuntas pada umumnya terbatas pada konflik-konflik di dalam dan di antara negara-negara yang baru merdeka dan masih sangat lemah.

Tradisi penulisan perang cenderung menempatkan operasi-operasi darat skala besar sebagai titik mula. Bahkan, pemikiran tentang perang didominasi perhatian terhadap tindakan agresi skala besar dan pertempuran mati-matian (termasuk penghindaran dari keduanya). Bagi sebagian ahli hal ini juga berarti berakhirnya pengaruh Clausewitzdan irelevansi skema intelektualnya (Creveld 1991; Keegan 1993). Namun, konflik etnik dan perang saudara juga sering timbul akibat tujuan-tujuan politik dan ini memerlukan pemahaman tentang manipulasi yang efektif atas sarana-sarana tindak kekerasan. Aspek ini masih menjamin kelangsungan kajian perang, bahkan di tengah berbagai perubahan besar dalam lingkungan internasional, kondisi-kondisi sosial dan ekonomi, serta kemajuan teknologi militer.

Incoming search terms:

  • definisi perang menurut para ahli
  • pengertian peperangan menurut para ahli
  • pengertian perang menurut para ahli
  • perang menurut para ahli
  • pengertian tentang perang dan aturan perang menurut para ahli
  • pengertian perang menurut ahli
  • pengertian peperangan
  • pengertian perang menurut clausewith
  • teori perang menurut para ahli
  • peperangan menurut para ahli

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi perang menurut para ahli
  • pengertian peperangan menurut para ahli
  • pengertian perang menurut para ahli
  • perang menurut para ahli
  • pengertian tentang perang dan aturan perang menurut para ahli
  • pengertian perang menurut ahli
  • pengertian peperangan
  • pengertian perang menurut clausewith
  • teori perang menurut para ahli
  • peperangan menurut para ahli