Advertisement

Subsistem ini pada dasarnya berkaitan dengan upaya pengadaan sarana produksi, sebagai masukanmasukan (inputs) yang diperlukan dalam proses produksi usaha tani, dan menyalurkannya pada sentrasentra produksi. Pengadaan dan penyaluran inputs haruslah tepat, dalam arti tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu, dan yang sangat penting adalah terjangkau oleh daya beli petani.

Pengadaan Sarana Produksi
Pengadaan sarana produksi yang tepat haruslah sesuai dengan keperluan usaha tani dari jenisjenis komoditi tertentu yang akan dikembangkan di wilayah tertentu. Sarana produksi sebagai input dalam proses produksi usaha tani antara lain meliputi : bibit tanaman, ternak dan ikan, pakan, pupuk, obat-obatan, peralatan, dan perlengkapan yang diperlukan, baik untuk kegiatan produksi pra-panen maupun kegiatan produksi pasca panen. Pengadaan sarana produksi berkaitan erat dengan kegiatan penelitian dan pengembangan. Hal ini karena pengadaan sarana produksi tersebut harus disesuaikan dengan usaha tani.
Dengan adanya penelitian dan pengembangan tentu akan ada penemuan-penemuan baru, baik dalam mutu, jenis, dan sebagainya, yang juga akan berpengaruh pada sarana produksi yang akan digunakan. Sehubungan dengan sistem agribisnis maka sebaiknya
pengembangan tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi saja, tetapi harus dilakukan secara keseluruhan dan berorientasi pada pasar. Sementara itu pengembangan yang dilakukan pada saat ini baru berorientasi pada produksi. Seperti yang dikemukakan oleh Saragih (Kompas, 19-10-1992), kegiatan penelitan dari lembaga riset yang ada belum terlihat adanya koordinasi dalam penanganan penelitian yang menitik beratkan pada penelitian agribisnis. Penelitian yang ada lebih berorientasi pada produksi beberapa jenis komoditi tertentu, dan belum berorientasi pada pasar.
Di sisi lain pembangunan pertanian selama ini lebih difokuskan pada swasembada beras. Seperti yang dikemukakan oleh Hadiwigeno dan Sawit (Suryana, 1990), bahwa selama ini (hingga pelita IV) pengembangan pertanian lebih difokuskan pada swasembada, sehingga hampir semua sumber daya tersalurkan ke sana.
Demikian juga dengan penelitian, banyak sekali dana penelitian dan hasil penelitian tercurah ke sana. Akibatnya pengembangan teknologi di luar padi masih jauh tertinggal bila dibandingkan deif
ngan padi. Sebagai contoh selama Pelita IV dilapfbrkan bahwa Litbang Pertanian telah berhasil melepaskan 23 varietas unggul untuk padi, sedangkan tanaman lain tidak lebih dari 10 jenis saja (Badan Litbang Pertanian, 1988).

Advertisement

Pilihan Teknologi
Penerapan teknologi di sektor pertanian dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu dengan menggunakan teknologi padat modal, teknologi padat karya, atau kombinasi dari kedua metode tersebut. Tentang pemilihan penerapan teknologi ini telah menimbulkan perdebatan yang berkepanjangan. Di satu pihak beranggapan bahwa teknologi maju yang padat modal dianggap sebagai pilihan yang tepat bagi negara-negara sedang berkembang, karena dianggap dapat meningkatkan produktivitas dan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain penerapan teknologi maju yang padat modal di negara berkembang dianggap sebagai salah satu penyebab meningkatnya pengangguran dan berkurangnya kesempatan berusaha.
Dalam strategi pembangunan tahun 50-an dan awal tahun 60-an, industrialisasi dan perluasan sektor perkotaan modern dianggap sebagai suatu cara yang efektif dalam menjamin pertumbuhan ekonomi yang cepat. Hal ini diperkirakan bahwa peningkatan permintaan tenaga kerja dalam sektor industri akan menyerap banyak tenaga kerja dan dapat memecahkan persoalan pengangguran dan kekurangan kesempatan kerja di pedesaan. Namun lapangan kerja baru yang diciptakan oleh sektor modern sama sekali tidak dapat menyerap kelebihan tenaga kerja dari sektor pertanian, oleh karena adanya peningkatan jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan sektor industri dan penerapan teknologi yang padat modal relatif sedikit meng-gunakan tenaga manusia.
Di Indonesia, sekitar tahun 1967 sampai tahun 1991 terjadi penurunan sumbangan sektor pertanian dalam Produk Domestik Bruto (PDB) dari 51,8% pada tahun 1967 menjadi 18,5% pada tahun 1991. Namun demikian sektor pertanian masih tetap memiliki peranan yang dominan di dalam struktur tenaga kerja (Syahrir, 1992). Dari data di atas nampaknya sektor pertanian akan tetap memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu dalam penerapan teknologi, bukanlah terletak pada bagaimana mentransfer tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor lainnya, melainkan bagaimana mereka tetap dipertahankan dan dimanfaatkan dalam sektor pertanian. Dengan demikian teknologi yang tepat untuk diterapkan dalam pembangunan pertanian adalah Teknologi Tepat Guna, yang harus memenuhi syarat minimal sebagai berikut:
1. Produksi dapat meningkat dengan tidak mengurangi pemakaian tenaga kerja.
2. Secara ekonomis dapat menguntungkan sebagian besar petani kecil.

Incoming search terms:

  • subsistem penyediaan sarana produksi
  • pengertian input dan sarana produksi
  • subsistem produksi
  • subsistem sarana produksi
  • subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi
  • penyediaan saprodi
  • proses penyediaan input dan sarana produksi
  • Cakupan subsistem penyediaan sarana kegiatan produksi
  • apa cakupan subsistm penyediaan sarana kegiatan produksi
  • contoh pengadaan produksi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • subsistem penyediaan sarana produksi
  • pengertian input dan sarana produksi
  • subsistem produksi
  • subsistem sarana produksi
  • subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi
  • penyediaan saprodi
  • proses penyediaan input dan sarana produksi
  • Cakupan subsistem penyediaan sarana kegiatan produksi
  • apa cakupan subsistm penyediaan sarana kegiatan produksi
  • contoh pengadaan produksi