Advertisement

Yang sering juga disebut orang Neban atau orang Dayak Laut, berdiam di daerah perbatasan Propinsi Kalimantan Barat dengan daerah Serawak (Malaysia). Mereka tersebar di dae­rah-daerah tepi dan hulu sungai di Kabupaten Sintang, Sanggau, dan Kapuas Hulu di Kalimantan Barat. Se­bagai salah satu subsuku bangsa Dayak yang terda­pat di Kalimantan, orang Iban masih mengenal pula pembagian di antara mereka, yang didasarkan atas perbedaan dialek bahasa.

Perkampungan orang Iban biasanya didirikan di tepi sungai. Pada masa lalu tempat tinggal mereka ber- bentuk rumah panggung panjang, yang terdiri atas rangkaian rumah (bilek) yang jumlahnya dapat men­capai 50 buah. Rumah panjang biasanya didiami oleh suatu keluarga luas warga desa yang merasa berasal dari satu keturunan nenek moyang yang sama. Tiap bilek didiami oleh satu keluarga inti. Tetapi sekarang rumah panjang sudah jarang ditemui di daerah ini, dan mereka mulai berdiam dalam rumah-rumah yang terpisah satu sama lain.

Advertisement

Mata pencaharian utamanya adalah bercocok ta­nam di ladang, dengan tanaman utama padi dan ja­gung. Perladangan dibuka di hutan-hutan yang terle­tak di sekitar desa. Orang Iban mengenal sejumlah upacara tradisional dalam lingkaran hidupnya, terma­suk upacara dalam mengerjakan ladang. Upacara da­lam rangka perladangan yang sangat penting adalah upacara sehabis panen. Mata pencaharian lainnya ada­lah menangkap ikan di sungai. Sekarang, orang Iban yang menetap di daerah perkotaan sudah pula me­ngenal jenis-jenis pekerjaan lainnya, misalnya berda­gang atau bekerja di perusahaan perkayuan.

Prinsip keturunan orang Iban bersifat parental, yakni ditarik melalui garis ayah maupun garis ibu. Adat menetap sesudah nikahnya juga tidak menentu­kan apakah sepasang pengantin harus menetap di ke­diaman (bilek) kerabat suami atau istri. Tetapi biasa­nya suami ikut menetap pada rumah panjang kerabat istrinya. Dengan demikian, keluarga luas yang men­diami suatu bilek menjadi kesatuan yang penting da­lam kehidupan orang Iban. Para anggota bilek yang berasal dari keturunan satu nenek moyang tersebut merupakan kesatuan produksi dalam mengerjakan la­dang, melakukan upacara lingkaran hidup, dll. Me­reka juga memiliki sejumlah harta pusaka yang diwa­riskan secara turun-temurun. Orang yang telah men­jadi warga suatu bilek memiliki sejumlah hak dan ke­wajiban yang sama dengan warga bilek lainnya. Bila seorang iaki-iaki atau perempuan memutuskan ting­gal di bilek istri atau suaminya, ia akan kehilangan segala hak dan kewajiban atas bilek asalnya.

Berdasarkan kepercayaan asli, orang Iban meya­kini adanya makhluk gaib penghuni alam semesta. Hal ini tampak dalam berbagai upacara yang mereka la­kukan. Perwujudan kepercayaan asli juga terlihat de­ngan penyerahan saji-sajian pada tempat-tempat keramat dan benda-benda yang dianggap memiliki ke­kuatan sakti, misalnya kayu besar, batu besar, dsb. Sekarang ini pengaruh agama besar seperti Kristen mu­lai masuk dan dianut oleh orang Iban. Walaupun de­mikian, kepercayaan asli masih berkembang pada se­bagian besar masyarakat.

Advertisement