Advertisement

PIKIRAN

Inggris: mind.

Advertisement

1. Kesadaran. Keinsyafan.

2. Daya rasional/nalar manusia, kemampuan untuk bernalar.

3. Psike/jiwa, diri, ego, identitas pribadi.

4. Roh, substansi rohani.

5. Apa yang bertahan dalam seluruh perubahan kesadaran (pengalaman, kesadaran).

6. Entitas yang memperlihatkan fungsi-fungsi seperti: mencerap, mengamati, mengingat, membayangkan, memahami, merasa, membangkitkan emosi, menghendaki, menalar, mengadakan suatu perhitungan menuju ke suatu masa depan, serta menilai.

7. Sebutan untuk fungi-fungsi yang ada dalam nomor 6 tetapi yang tidak memiliki suatu realitas ontologis sebagai suatu entitas atau substansi.

8. Sebutan untuk respons adaptif suatu organisme rasional terhaii lingkungannya dalam perjuangan untuk hidup. Fungsi-fungsi dinamis, yang memperhatikan, serta selektif dari organisme terseb pada benda-benda dalam dunia internal dan eksternal yang m miliki nilai hidup yang mungkin (dan dalam bentuk-bentuk f kiran yang lebih tinggi, memiliki minat/perhatian intrinsik).

Aspek Ganda Pikiran Menurut Spinoza

Manusia tersusun dari dua esensi fundamental: pikiran (manui sebagai sesuatu yang berpikir) dan tubuh (manusia sebagai sesua yang menempati ruang). Hanya pikiran dan tubuh merupakan d’ aspek tidak terbatas dari alam semesta (Allah) dan hanya dua asp inilah yang dapat diketahui manusia secara langsung dan segel Banyak segi lain dari Allah dan manusia dapat diketahui, teta tidak dalam esensinya. Segala sesuatu dalam alam semesta dap dijelaskan berkaitan dengan esensi pikiran. Tiap esensi mengandui secara potensial seluruh alam semesta di dalamnya sebagai sua refleksi terhadap suatu sistem deduktif. Segala hal dalam ala semesta dapat dijelaskan berkaitan dengan esensi tubuh (materi).

Tidak soal aspek realitas mana yang kita ambil untuk digur kan sebagai dasar penjelasan kita. Tetapi dua tingkat penjelas itu, mental dan fisik, tidak boleh dicampuradukkan. Bila dipanda dari segi keunikan dan perbedaannya, pikiran dan tubuh tamp sebagai dua. Tetapi pikiran dan tubuh merupakan ciri-ciri dari 1 yang satu dan sama (suatu manifestasi atau aspek dari suatu su tansi yang sama yang disebut Allah, alam, jagad raya). Dan b; Spinoza: “Substansi yang berpikir dan substansi yang berkeluas merupakan hal yang satu dan sama”. Pandangan aspek gan Spinoza tentang pikiran/tubuh berakhir sebagai bentuk monisi ekstrim.

Teori Berkas Mengenai Pikiran dari D. Hume Pikiran tidak lain daripada berkas atau kumpulan persepsi ya berbeda, yang susul menyusun dengan suatu kecepatan yang dak dapat diamati, dan terus-menerus berubah dan bergerak, kiran tidak merupakan suatu substansi, tetapi semata-mata beri pengalaman yang terjadi secara berturut-turut sejak kelahiran sampai kematian. Seluruh rangkaian itu merupakan berkas dan berkas ini boleh disebut pikiran (atau diri). Peristiwa dalam setiap berkas dikaitkan oleh ciri-ciri seperti: a) kemiripan persepsi- persepsi, b) hubungan pengalaman-pengalaman dalam waktu dan ruang, c) pengaturan, pergantian di antara persepsi-persepsi, dan d) ingatan. Kalau unsur-unsur ini tidak ada, tidak dapat dikatakan bahwa kita memiliki pikiran (atau diri). Pikiran tidak ada sebagai suatu entitas diri yang hidup terpisah dari ciri-ciri di atas.

Teori Mengenai Identitas Tubuh dan Pikiran

Kadang-kadang hanya disebut teori identitas, atau fisikalisme. Pikiran (pencerapan, persepsi, kesadaran secara umum) identik dengan proses otak tertentu dan proses otak tertentu itu identik dengan pikiran. Ini merupakan suatu filsafat monistik.

Teori Emergen Mengenai Pikiran

Pikiran ialah kualitas yang muncul dari organisasi (struktur, susunan) khusus unsur-unsur dari bentuk kehidupan.

Teori Mengenai Tipe Pikiran

Teori-teori yang berupaya menjelaskan hakikat pikiran. Teori-teori ini tersebar dan bergerak antara dua ekstrim: Pertama, dualisme ekstrim yang menyatakan bahwa pikiran dan tubuh seluruhnya ter¬pisah dan merupakan substansi (entitas) yang dapat dipisahkan dengan ciri-ciri yang sama sekali berbeda. Kedua, monisme ekstrim yang menyatakan bahwa pikiran (keadaan-keadaan mental) dan tubuh (keadaan-keadaan fisik) merupakan hal yang satu dan sama.

1. Pikiran sebagai perpindahan jiwa yang abadi: Pikiran itu merupakan jiwa atau roh yang abadi, material, bergerak sendiri, serta bergiat sendiri yang menggunakan tubuh sebagai wahana yang memungkinkan jiwa/roh itu menyatakan fungsi- fungsinya. Tubuh dipandang sebagai kenisah jiwa atau sebagai penjara jiwa, yang tergantung pada sikap yang diambil terhadap tubuh.

2. Pikiran sebagai hasil tindakan jiwa terhadap tubuh: Jiwa sebagai pelaku abadi dan imaterial bertindak atas tubuh dan dengan berbuat demikian dihasilkan akibat-akibat mental seperti mengamati, berpikir, merasakan, menghendaki, mem bayangkan, mengingat, dan sebagainya.

3. Pikiran sebagai substansi mental (atau rohani): Pikirat (atau jiwa) merupakan suatu substansi yang seluruhnya tidal menyerupai materi atau tubuh, yang bertahan dalam selurul perubahan tubuhnya dan a) memiliki fungsi-fungsi nonmateria seperti: pengarahan diri, berpikir, merasakan, menghendaki dan sebagainya, dan b) memiliki ciri-ciri nonmaterial sepert tidak dapat diraba, tidak mengisi ruang, tidak dapat dihancur kan (kecuali dalam beberapa teori tentang Aliah), tidak da pat mati sebagai suatu entitas yang terjelma di surga atai neraka, dan sebagainya.

4. Pikiran sebagai suksesi peristiwa-peristiwa mental: Pikii an merupakan suksesi keadaan mental dalam suatu perubaha yang berlangsung terus menerus dan bukan suatu entitas (jiwa, roh, substansi, diri) yang bersandar pada dirinnya sendir Ada bentuk-bentuk idealisme yang memandang suksesi peris tiwa mental sebagai sesuatu yang disebabkan bukan oleh kegiatan tubuh tetapi oleh suatu pelaku rohani. Dalam suat bentuk monisme, penyebab merupakan sesuatu yang tida diketahui tetapi tidak menyerupai tubuh.

5. Pikiran sebagai hasil sampingan dari tubuh (epifenomnalisme): Pikiran disebabkan oleh perubahan-perubahan tubu (secara khusus oleh proses-proses otak). Peristiwa mental merupakan akibat dari tubuh atau otak. Pikiran merupaka suatu penampakan, suatu epifenomenon yang sama seka tergantung pada tubuh dan bahkan tidak memiliki kemampi an dari dirinya sendiri untuk menyebabkan peristiwa ment berikutnya. Tubuh menyebabkan pikiran tetapi pikiran men pakan suatu eksistensi nonkausal yang tertangguhkan.

6. Pikiran sebagai fungsi bentuk tubuh: Pikiran merupakj bentuk tubuh, yang menjalankan fungsi. Pikiran adalah aj yang dilakukan tubuh; dan sesuatu yang dapat melakuk; dengan menyatakan secara penuh (mengaktualisasi, merealisa’ memenuhi) bentuk-bentuk tubuh, kapasitas-kapasitas tubu apa yang mampu menyatakan dan menurut hakikatnya men punyai maksud untuk menyatakan. Suatu analogi yar diambil dari Aristoteles mungkin dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan ini: Sebagaimana visi (penglihatan) akan mengganti (struktur-struktur) mata, demikian pula pikiran akan mengganti (struktur-struktur) tubuh. Beberapa implikasi dari analogi ini: a) Ubahlah struktur-struktur dan fungsi- fungsi mata dan anda mengganti visi (penglihatan). Ubahlah struktur-struktur dan fungsi-fungsi tubuh dan anda mengganti pikiran, b) Pikiran dan tubuh saling berkaitan secara organis, serta ter-integrasikan secara holistik, dan saling tergantung. Yang satu tidak dapat dikatakan menjadi sebab utama yang mempengaruhi yang lainnya, c) Visi sebagai suatu fungsi mata merupakan ungkapan bentuk (dan materi) dari mata; demikian juga pikiran merupakan suatu fungsi tubuh yang menyatakan bentuk (dan materi) dari tubuh.

7. Pikiran sebagai suatu fungsi organisme seluruhnya: Pikiran merupakan sesuatu yang dilakukan organisme (mekanisme) dan yang dapat dilakukan di bawah pengaruh rangsangan- rangsangan internal dan eksternal. Pikiran merupakan suatu organisme (mekanisme) yang terintegrasi, yang mengarahkan diri sendiri, mengatur diri sendiri, yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal seperti: menyimpan pengetahuan, belajar dari pengetahuan ini, menyiapkan kondisi hipotetis yang didasarkan pada pengetahuan ini, menyesuaikan kondisi baru berdasarkan pengetahuan ini, meramalkan, mengembangkan metode-metode pemecahan keraguan, dan sebagainya.

8. Pikiran sebagai pola perilaku tubuh: Pikiran identik dengan perilaku fisik yang dialami tubuh. Proses-proses mental merupakan aktivitas perilaku seperti: gerakan pangkal tenggorok, tanggapan otot, gerakan jasmani, reaksi kulit, gerakan mata, dan sebagainya.

9. Pikiran identik dengan proses otak: Peristiwa mental satu dan sama dengan proses saraf spesifik otak.

10. Pikiran sebagai materi, pikiran sebagai material: Pikiran merupakan suatu tingkat perwujudan material (fisik) dalam alam semesta. Semua pernyataan yang mengandung acuan-acuan pada gejala-gejala mental dapat dijabarkan pada pernyataan tentang peristiwa atau proses material (fisik). Tidak hanya pikiran disebabkan oleh kekuatan-kekuatan fisik, tetapi pikirai itu sendiri merupakan suatu bentuk energi atau materi yanj sedang bergerak.

Teori Mengenai Pikiran Berwujud

Hal ini dapat ditemukan dalam beberapa bidang pengetahuai manusia.

1. Dalam metafisika, teori itu menyatakan bahwa alam semest dikurniai dengan suatu pikiran kosmik sebagai prinsip opera; keteraturan dan perubahan. Pikiran universal tinggal dalam se gala hal.

2. Dalam filsafat tentang pikiran, teori itu menegaskan penging karan terhadap suatu jiwa yang terpisah. Kesadaran merupakai kegiatan yang diidentifikasikan dengan keseluruhan struktu yang teratur dari proses fisiokemis dan neurologis.

3. Tubuh (atau materi) dikurniai dengan suatu pikiran.

4. Pikiran memiliki ciri-ciri mental seperti: merasakan, berpikir mengamati, menghendaki hanya bila bersifat imanen dalan tubuh.

Pikiran Tanpa Wujud

Suatu pikiran yang terus menerus memiliki ciri-ciri mental seperti merasakan, berpikir, mengamati, menghendaki, tanpa ada dalan suatu tubuh.

Pikiran sebagai thought

Pikiran merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan duri objektif direfleksikan dalam konsep, putusan, teori, dan sebagainp dan yang dikaitkan dengan pemecahan masalah-masalah. Hai yang paling tinggi dari materi yang terorganisasi secara istimewa ialah otak. Pikiran, yang berkaitan secara tak terpisahkan dengu otak, tidak dapat dijelaskan sepenuhnya dengan kegiatan sisten psikologis. Lahirnya pikiran tidak hanya dikaitkan dengan evolu biologis, tetapi juga dengan perkembangan sosial. Pikiran tam: dalam proses aktivitas dan memberikan suatu refleksi tidak langsung atas realitas. Ia mempunyai ciri sosial berkenaan dengan asal-usulnya yang spesifik, cara pemfungsiannya dan hasil-hasilnya. Penjelasan tentang ini akan ditemukan dalam fakta bahwa pikin: berkaitan secara tak terpisahkan dengan kegiatan seperti kerja dan ucapan, yang hanya merupakan ciri khas masyarakat manusia. Karena itu, pikiran manusia terjadi dalam kaitan paling dekat dengan ucapan dan hasil-hasilnya dinyatakan dalam bahasa.

Pikiran mencakup proses-proses seperti: abstraksi, analisis, sintesis, perumusan tugas-tugas tertentu dan penemuan pemecahan- pemecahannya, peningkatan hipotesis, ide, dan sebagainya. Proses pikiran secara tetap menghasilkan suatu ide. Fakta bahwa pikiran memungkinkan refleksi umum atas realitas terungkap dalam kemampuan manusia membentuk konsep-konsep umum. Pembentukan konsep-konsep ilmiah berkaitan dengan perumusan hukum- hukum yang berkaitan. Fakta bahwa pikiran memungkinkan refleksi tak langsung atas realitas terjelma dalam kemampuan manusia mencapai inferensi, konklusi dan bukti-bukti logis. Kemampuan ini sangat meningkatkan jangkauan pengenalan. Ia memungkinkan manusia bertolak dari suatu analisis fakta-fakta yang bisa diamati secara langsung kepada pengenalan tentang apa yang tidak dapat diamati melalui indra.

Pikiran merupakan objek studi dari pelbagai disiplin (fisiologi tentang aktivitas syaraf yang lebih tinggi, logika, sibernetika, psikologi, epistemologi, dan sebagainya) dengan berbagai metode. Yang menyolek di antara studi-studi eksperimental dalam bidang pemikiran akhir-akhir ini ialah pemodelan (peragaan) bentuk dari berbagai perangkat sibernetika.

Idealisme selalu berusaha keras untuk memisahkan pikiran dari materi (otak manusia, bahasa, aktivitas praktis masyarakat), dan menyajikan pikiran sebagai sesuatu yang diperoleh dari prinsip rohani tertentu yang lebih tinggi dari materi dan kesadaran individu (misalnya, Hegel).

Penyangkalan terhadap pikiran sebagai sesuatu yang sesungguhnya ada diajarkan oleh filsafat modern, yang mencakup neo-positivisme. Dengan mereduksikan seluruh jangkauan pengalaman umat manusia pada fakta-fakta yang secara langsung diamati sebagaimana dilakukan behaviourisme neo-positivisme menyatakan pikiran sebagai suatu fiksi, sama seperti materi. Neo-positivisme mengabaikan fakta bahwa bahasa merupakan sarana ekspresi, dan bentuk eksistensi pikiran. Dalam kenyataan actual analisis bahasa dipakai dalam studi tentang ciri-ciri otak yang dikenal sebagai pikiran.

Advertisement