Advertisement

Penelitian lapangan merupakan tulang punggung dari antropologi modern. Melalui kerja lapanganlah semua keterangan antropologis diperoleh. Jadi seperti halnya kegiatan di dalam ilmu fisika, penelitian lapangan menyediakan data-data yang diperlukan untuk menguji teori-teori ataupun menjelaskan teori-teori. Dalam tradisi banyak fakultas antropologi seperti di Amerika Serikat misalnya, seorang mahasiswa biasanya diwajibkan untuk mendapatkan data-data dari lapangan dan kemudian menyajikan suatu interpretasi dari data-data tersebut agar mahasiswa tersebut dapat dikualifisir untuk program doktor. Kewajiban kerja lapangan dibebaskan bila si mahasiswa melakukan suatu studi antarkebudayaan di mana dia menganalisa data-data tentang sejumlah kebudayaan yang telah dikumpulkan oleh peneliti-peneliti lapangan sebelumnya; namun dalam pengecualian itu pun kepentingan dari penelitian lapangan tetap diutamakan.

Teknik-teknik apa saja yang digunakan dalam penelitian lapangan? Sebelum terjun ke lapangan, seorang ahli antropologi lebih dahulu mendalami semua bahan-bahan dan keterangan yang ada tentang kebudayaan yang hendak dipelajarinya, dan mempelajari masalah-masalah yang terutama menarik perhatian. Dalam mempelajari bahan-bahan ini, ahli antropologi berusaha untuk mendapat pengertian pendahuluan tentang kebudayaan dari masyarakat bersangkutan. Usahanya mungkin menghasilkan gagasan-gagasan atau proposisi mengenai apa yang kiranya menyebabkan timbulnya kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam masyarakat bersangkutan, gagasan atau proposisi mana dapat diteliti kemudian di lapangan. Peneliti lapangan mungkin mendapat keterangan tentang pola-pola kebudayaan melalui dua cara yaitu pengamatan dan wawancara. Dia mungkin menggunakan satu cara yaitu pengamatan saja, atau wawancara saja, atau kedua cara tersebut, ini tergantung pada jenis informasi yang hendak dikumpulkannya.

Advertisement

Sebagai suatu teknik penelitian lapangan, wawancara pada umumnya digunakan untuk menggali keterangan mengenai: cara berlaku yang telah menjadi kebiasaan, hal-hal yang dipercayai, dan nilai-nilai yang dianut. Namun hal-hal itu hanya dapat diwawancarai bila warga masyarakat setempat mampu mengucapkannya dan bersedia membicarakannya.

Wawancara adalah satu-satunya teknik yang dapat digunakan untuk memperoleh keterangan tentang kejadian vang oleh ahli antropologi tak dapat diamati sendiri secara langsung, baik karena itu terjadinya di masa lampau ataupun karena dia tidak diperbolehkan untuk hadir di tempat kejadian itu. Misalnya: suku-suku Indian di Amerika Serikat sudah meninggalkan banyak kebiasaan tradisionalnya, namun para ahli antropologi masih dapat memperoleh informasi tentang adat tersebut di atas dengan mewawancarai orang Indian vang sudah tua yang masih mengingat kebiasaan-kebiasaan tersebut di atas. Namun, perlu diingat bahwa wawancara hanya dapat berhasil, bila yang diwawancarai bersedia dan dapat menuturkan dengan kata-kata tentang, cara berlaku yang telah menjadi kebiasaan tentang kepercayaan dan tentang nilai-nilai. Di pihak lain pengamatan, adalah satu-satunya cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk memperoleh gambaran mengenai pola budaya yang tidak diutarakan dengan kata-kata. Manusia tidak selalu dapat menuturkan dengan kata-kata, misalnya saja tentang jarak vang wajar di antara dua orang vang berbicara sambil berdiri, tapi seorang ahli antropologi dapat mengamati kebiasaan mengenai hal itu. Suatu kegunaan yang lain dari pengamatan sebagai suatu teknik penelitian lapangan adalah juga untuk menguji apakah warga masyarakat benar-benar berlaku sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan yang diucapkannya.

Penelitian di lapangan harus juga menentukan jumlah orang dan orang-orang yang bekerja sebagai apa saja yang akan diamatinya atau diwawancarainya. Mengenai hal ini pada umumnya diikuti pegangan bahwa untuk mempelajari pola budaya yang lebih nyata dan lebih luas dianut dalam suatu masyarakat, lebih sedikit orang-orang vang perlu diwawancara dan diobservasi. Jika ada keanekaragaman yang besar dalam unsur-unsur budaya (cultural traits), maka ada kebutuhan yang lebih besar untuk melakukan wawancara atau pengamatan terhadap suatu sampel individu-individu yang representatif. Misalnya: bila peneliti lapangan ingin mengetahui apakah ada seseorang “pemimpin” atau kepala desa, atau bagaimana cara vang pantas untuk memberi salam pada orang-orang yang lebih tua, atau ingin mengetahui berapa orang isterikah yang boleh dimiliki oleh seorang pria, maka cukuplah untuk memperoleh keterangan itu dengan bertanya pada beberapa informan saja (teman-teman dekat yang dapat dipercaya oleh ahli antropologi yang sudah biasa diminta keterangan tentang kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat vang dipelajarinya). Tapi jika ahli antropologi ingin mengetahui berapa jam vang digunakan oleh setiap orang untuk berbagai jenis pekerjaan, maka dia harus membuat suatu studi yang sistematis terhadap suatu sampel individu-individu yang representatif. Cara meneliti itu diperlukan supaya ahli antropologi dapat sampai pada suatu perkiraan yang tepat.

Walaupun sudah mengadakan latihan-latihan pendahuluan dan membaca literatur yang banyak, penelitian lapangan pada umumnya masih tetap menghadapi kesukaran. Salah satu sebab dari kesulitan itu adalah karena ahli antropologi mempunyai latar belakang budaya yang berbeda, sehingga tidak mengetahui cara berlaku vang wajar menurut ukuran setempat. Bahkan sekalipun dia sudah tahu bagaimana cara berlaku yang wajar dalam situasi tertentu, namun sering tetap sulit baginya untuk meninggalkan cara-cara. kebiasaan yang dianut di masyarakatnya sendiri. Misalnya: si peneliti lapangan mungkin menyadari bahwa anggota-anggota masyarakat yang dipela jarinya tidak mempunyai anggapan yang sama seperti dia dan anggota masyarakat asalnya mengenai pentingnya ketepatan waktu. Meskipun demikian, peneliti lapangan tetap merasa terganggu bila seorang informan yang telah berjanji akan datang tidak muncul, atau datang lebih lambat dari waktu yang telah dijanjikan. Kesulitan lain adalah, bahwa pada mulanya masyarakat setempat yang hendak dipelajari mungkin menolak kehadiran peneliti itu dan tidak menerima baik pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakannva. Dapat kita bayangkan bahwa penduduk di situ tidak mengerti mengapa seseorang dari luar keluar masuk kampung mereka hanya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang cara-cara hidup mereka. Akibatnya warga masyarakat menaruh curiga terhadap peneliti itu atau takut padanya, selama hari-hari atau bulan-bulan pertama dia terjun ke lapangan. Namun pada akhirnya, dalam kebanyakan hal peneliti lapangan diterima oleh masyarakat yang akan dipelajarinya dan bahkan dia dipandang sebagai kawan walaupun kawan yang agak aneh sifatnya.

Walaupun seorang peneliti lapangan bekerja sangat teliti dan sungguh- sungguh, namun dia tak akan dapat mencakup semua aspek budaya dari masyarakat yang dipelajarinya. Terpaksa si peneliti memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek tertentu saja dan mengabaikan aspek-aspek lainnya. Seorang ahli antropologi yang telah mempelajari literatur tentang profesinya bertahun-tahun, tidak akan secara ngacak menjatuhkan pilihannya, tapi dia akan memilih penelitian lapangan yang sesuai dengan orientasi teori yang didapatnya dari studinya selama ini. Jadi aliran atau mashab antropologi yang dianutnya yang akan membimbingnya dalam penelitian di lapangan dan bagaimana dia kemudian menafsirkan data-data yang dapat dihimpunnya.

Advertisement