Advertisement

Telah lama manusia tertarik pada kebiasaan-kebiasaan atau kebudayaan dari manusia lainnya. Namun baru lebih kurang dalam 100 tahun terakhir ini, studi tentang kebudayaan manusia diterapkan sedemikian sehingga studi ini dapat disebut suatu studi yang ilmiah. Penulis-penulis dari buku-buku kisah perjalanan yang menarik seperti Herodotus dan Marco Polo telah merekam dan mengomentari gaya atau cara hidup yang eksotik dari masyarakat-masyarakatasing bagi pembaca-pembaca dari masyarakatnya sendiri melulu dengan maksud menyajikan bacaan santai. Para pemikir (seperti Rousseau dengan istilahnya noble savage) telah menyajikan penggambaran tentang manusia primitif yang walaupun telah memperoleh arti yang penting dalam perkembangan gagasan-gagasan, namun sebenarnya gambaran itu tidak memberi gambaran realistis tentang manusia primitif itu.

Sejak 100 tahun yang lampau, para peminat mengenai kebudayaan dan masyarakat lain, menjadi sadar bahwa jika mereka mau menghasilkan karya-karya yang bernilai ilmiah, maka mereka harus mempelajari pokok perhatiannya menurut Cara yang telah dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan di bidang ilmu lainnya yaitu dengan cara yang sistematis dan melalui observasi yang tidak berat sebelah. Untuk menggambarkan kebudayaan-kebudayaan secara lebih tepat dan benar, para ahli antropologi mulai hidup di tengah-tengah masyarakat yang dipelajarinya, sehingga mereka dapat melakukan pengamatan bahkan dapat ikut ambil bagian dalam kejadian-kejadian penting dari masyarakat bersangkutan. Juga secara cermat mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada wakil-wakil penduduk asli/pribumi tentang kebiasaan-kebiasaan, adat-istiadat mereka. Dengan kata lain, para ahli antropologi mulai melaksanakan penelitian lapangan (field work).

Advertisement

Advertisement