TEORI

Inggris: theory, dari Latin theoria — dari Yunani theoreo (melihat)

theoros (pengamatan).

Beberapa Pengertian

1. Pemahaman tentang hal-hal dalam hubungannya yang universal dan ideal antara satu sama lain. Berlawanan dengan eksistensi faktual dan/atau praktek.

2. Prinsip abstrak atau umum di dalam tubuh pengetahuan yang menyajikan suatu pandangan yang jelas dan sistematis tentang beberapa materi pokoknya, sebagaimana dalam “teori seni”, “teori atom”.

3. Model atau prinsip umum, abstrak dan ideal yang digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala, sebagaimana dalam “teori seleksi alam”.

4. Hipotesis, suposisi, atau bangun yang dianggap betul dan yang berdasarkan atasnya gejala-gejala dapat diprakirakan dan/ atau dijelaskan, dan yang darinya dideduksikan pengetahuan lebih lanjut.

5. Dalam filsafat ilmu pengetahuan, teori berpijak pada penemuan fakta-fakta maupun pada hipotesis. Dalam bidang ilmu alam, suatu deskripsi dan penjelasan fakta-fakta yang didasarkan atas hukum-hukum dan sebab-sebab yang niscaya, mengikuti konfirmasi fakta-fakta itu dengan pengalaman dan percobaan (eksperimen). Deskripsi ini sifatnya pasti, non-kontradiktoris, dan matematis (jika mungkin). Bagaimana pun juga, sejauh penjelasan semacam ini mungkin tetapi sesungguhnya tidak meniadakan penjelasan lainnya ia tetap merupakan hipotesis yang kurang lebih probable. Hanya bila bukti dikemukakan sedemikian rupa sehingga penjelasan tertentu merupakan satu- satunya penjelasan yang sepadan dengan fakta-fakta, maka penjelasan itu sungguh-sungguh mencapai tingkat teori.

 

Teori dan Praksis

Teori pada umumnya digunakan dalam oposisi dengan praksis.

Dengan demikian teori hanya dianggap sekadar pengetahuan atau pertimbangan semata-mata tentang sesuatu. Sementara praksis berarti setiap jenis aktivitas di luar pengetahuan itu sendiri, khususnya aktivitas yang diarahkan ke dunia luar. Bagaimanapun juga, tidak terdapat praksis (baik dalam arti etis maupun teknis) tanpa teori, karena semua praksis diikat oleh kondisi-kondisi an- teseden dan ditempatkan dalam suatu tata anteseden yang harus diperhitungkan bila praksis mau berhasil.

Dalam pemikiran Aristoteles (dan serupa juga dalam Kant) ungkapan-ungkapan “praksis” dan “praktis” digunakan untuk mengacu pada kegiatan-kegiatan kehendak yang bersifat moral, dan kata-kata “techne” dan “teknik” digunakan untuk aktivitas yang diarahkan ke objek-objek eksternal. Berkaitan erat dengan teori ialah meditasi (atensi) pikiran mendalam yang dirahkan pada suatu objek) dan spekulasi.