Advertisement

Dengan mulainya abad 20, tamatlah pula masa jaya teori evolusi predeterminasi sebagai orientasi utama bagi antropologi budaya masa itu. Tokoh lawan utama dari teori evolusi predeterminasi adalah Frans Boas (1858-1942) yang mendapatkan gelar doktornya (Ph.D) dalam fisika pada suatu universitas di Jerman dengan disertasinya tentang warna dari laut. Pemikiran utama dari Boas yang bertentangan dengan Tylor, Morgan dan penganut lain dari teori evolusi tersebut di atas, adalah berkaitan dengan asumsi tentang adanya hukum-hukum yang universal yang menguasai semua kebudayaan manusia sedunia. Boas mengutarakan, bahwa tokoh-tokoh abad 19 itu, tidak memiliki cukup data (seperti yang Boas miliki) yang memungkinkannya untuk menyimpulkan generalisasi atau hukum umum yang bermanfaat. Ternyata memang informasi utama yang dipakai Morgan dan Tylor dihimpun dari catatan harian pedagang yang berkelana, para penyiar agama, penjelajah-penjelajah, orang-orang yang menurut Boas tidak dapat diandalkan sebagai pengamat yang berpandanan obyektif dan ilmiah.

Boas menekankan bahwa keanekaragaman budaya manusia sangat kompleks sifatnya dan barangkali karena alasan ini, Boas yakin bahwa adalah terlalu prematur untuk membuat formulasi “hukum” yang universal. Boas berpendapat, bahwa ciri-ciri budaya haruslah dipelajari dalam rangka konteks masyarakat di mana ciri-ciri itu timbul. Pada tahun 1896. Boas menerbitkan bukunya The Limitation of the Comparative Method of Anthropology, (Keterbatasan dari Metoda Perbandingan dalam Antropologi). Dalam buku tersebut dia membahas tentang keberatan-keberatannya terhadap pendekatan teori evolusi seperti yang lelah diuraikan lebih dahulu.3 Dalam buku itu Boas juga mengemukakan, bahwa para ahli antropologi sebaiknya mengurangi waktunya untuk mengembangkan teori-teorinya vang didasarkan pada data yang tidak memadai. Yang dianggapnya jauh lebih penting adalah bahwa para ahli antropologi mengumpulkan data sebanyak mungkin, secepat mungkin, sebelum kebudayaan- kebudayaan primitif dunia ini jadi punah (dan memang banyak kebudayaan yang kini sudah punah setelah terjadi kontak dengan masyarakat asing). Sekali data-data telah terkumpul, maka interpretasi dapat dilakukan dan teori-teori dapat dikembangkan. Boas sendiri banyak melakukan kun jungan lapangan: yang khusus didalaminya adalah tentang suku Indian di Amerika Serikat yang mendiami pantai barat laut Pasifik.

Advertisement

Boas mengharapkan, bahwa melalui koleksi data-data yang begitu banyak, maka “hukum-hukum” yang menjelaskan keanekaragaman kebudayaan akan dapat timbul dengan sendirinya. Menurut metoda yang dianut oleh Boas, inti dari ilmu pengetahuan adalah sikap curiga terhadap semua harapan-harapan, dan pengandaian diri pada fakta-fakta saja. Tapi sekarang kita menyadari bahwa tidak seorang pun dapat melihat atau merekam semua fakta. Fakta yang mana .ikan direkam oleh seseorang, sekalipun dia seorang pengamat yang cermat dan cerdik, tidak akan lepas dari pandangannya mengenai apa yang dianggapnya penting. Tanpa teori-teori, tanpa gagasan mengenai apa yang diharapkan, himpunan data tidak mempunyai arti apa-apa. Karena fakta-fakta yang mungkin terpenting bisa saja diabaikan, sedangkan fakta yang kurang relevan mungkin direkam.

Meskipun tepat bagi Boas untuk bersikap kritis terhadap teori-teori yang dirumuskan dari belakang meja tulis saja, namun perhatiannya yang terutama ditujukan kepada sejumlah unsur-unsur budaya lokal yang mendetil, tidak mendorong timbulnya keyakinan dapat dirumuskannya teori yang mungkin menjelaskan pelbagai variasi budaya yang diamati oleh para ahli antropologi. Dan memang demikianlah, bila seorang tidak percaya pada kemungkinan penjelasan yang bersifat kausal dari keanekaragaman kebudayaan, maka ia tidak akan mencari penjelasan itu. Jadi pendekatan Boas sebenarnya tidaklah merupakan suatu orientasi teoretis, karena tidak men jelaskan pada kita di mana kita dapat mencari penjelasan-penjelasan yang kita perlukan.

Advertisement