Marx’s theory of history and society (teori Marx mengenai sejarah dan masyarakat)

Teori besar sosiohistoris Marx, yang sering disebut konsepsi sejarah materialis atau materialisme historis, bisa disimak dari perkataan Engels. Sebab yang utama dan kekuatan penggerak terbesar dari semua peristiwa sejarah yang penting terletak pada perkembangan ekonomi masyarakat, pada perubahan-perubahan model produksi dan pertukaran, pada pembagian masyarakat dalam kelas-kelas yang berlainan, dan pada perjuangan kelas-kelas ini melawas kelas yang lain.

Pertama kali Marx menguraikan teorinya, yang menjadi titik tolak dalam mengkaji karya-karya berikutnya, di Die Deutsche Ideologie (Ideologi Jerman) 1845-6. Pernyataan yang terkenal namun sangat ringkas dari karya tersebut muncul dalam bagian pembukaan Zur Kritik der politischen Okonomie (1859) (Kontribusi terhadap Kritik Ekonomi Politik).

Dalam karya tersebut Marx berpendapat bahwa struktur ekonomi masyarakat, yang ditopang oleh relasi-relasinya dengan produksi, merupakan pondasi riel masyarakat. Struktur ekonomi masyarakat ini merupakan dasar ‘munculnya supra-struktur hukum dan politik, dan berkaitan dengan bentuk tertentu dari kesadaran sosial’. Di sisi lain, relasi-relasi produksi masyarakat itu sendiri ‘berkaitan dengan tahap perkembangan tenaga- tenaga produktif material (masyarakat)’. Dalam kerangka ini, ‘model produksi dari kehidupan material akan mempersiapkan proses kehidupan sosial, politik dan intelektual pada umumnya.’ Seiring tenaga-tenaga produktif masyarakat berkembang, tenaga-tenaga produktif ini mengalami pertentangan dengan berbagai relasi produksi yang ada, sehingga membelenggu pertumbuhannya. ‘Lalu mulailah suatu era revolusi sosial’ seiring dengan terpecahnya masyarakat akibat konflik, dan seiring dengan masyarakat menjadi dalam bentuk yang hampir ideologis ‘sadar akan konflik ini dan memperjuangkannya’. Konflik ini terselesaikan sedemikian rupa sehingga menguntungkan tenaga-tenaga produktif, lalu muncul relasi-relasi produksi yang baru dan lebih tinggi yang persyaratan materialnya telah ‘matang’ dalam rahim masyarakat itu sendiri. Relasi-relasi produksi yang baru dan lebih tinggi ini mengakomodasi secara lebih baik keberlangsungan pertumbuhan kapasitas produksi masyarakat. Model produksi borjuis mewakili era progresif yang paling baru dalam formasi ekonomi masyarakat, tapi ini merupakan bentuk produksi antagonistik yang terakhir. Dengan matinya bentuk produksi tersebut, maka prasejarah kemanusiaan sudah tamat.

Menurut Marx, perluasan tenaga-tenaga produktif (yaitu, terhadap alat-alat produksi, keterampilan dan keahlian angkatan kerja) menentukan relasi-relasi produksi masyarakat, seperti yang ia tuliskan kepada Annenkov, ‘Manusia tidak akan melepaskan apa yang telah mereka dapatkan.’ Dalam rangka mempertahankan ‘buah peradaban’, manusia akan mengubah cara-cara produksinya untuk mengakomodasi tenaga-tenaga produktif yang diperlukan dan mendorong kemajuan yang berkelanjutan. Kendati relasi-relasi produksi mempengaruhi momentum dan arah kualitatif perkembangan tenaga-tenaga produktif; tapi kapitalisme akan hancur oleh hasratnya sendiri untuk meletakkan masyarakat pada tingkat produktif yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya . Selain itu, konsepsi materialis Marx memberi penjelasan mengenai perkembangan tenaga- tenaga produktif, yang membayangkan sebagai contoh munculnya kapitalisme sebagai respons terhadap tingkat tenaga produktif pada awal- mula terbentuk.

Dengan demikian perkembangan kapasitas produktif masyarakat menentukan corak utama evolusi sosioekonominya, sementara berbagai struktur ekonomi yang dihasilkan pada gilirannya menciptakan institusi-institusi hukum dan politik masyarakat atau suprastruktur. Meski masih diperdebatkan mengenai institusi-institusi sosial mana yang menjadi bagian suprastruktur. Marx berpendapat bahwa semua dimensi dan bidang masyarakat mencerminkan model produksi yang dominan dan bahwa kesadaran umum suatu era dibentuk oleh karakteristik produksinya sendiri Teori Marx is mengenai ideologi menyatakan bahwa ide-ide tertentu lahir atau menyebar karena masyarakat mendukung relasi-relasi sosial yang ada atau mendukung kepentingan-kepentingan kelas tertentu. Namun, determinasi perekonomian terhadap bentuk hukum dan politik akan cenderung bersifat relatif langsung, sementara pengaruhnya terhadap bidang-bidang sosial yang lain. budaya dan kesadaran pada umumnya lebih lemah dan kecil.

Tesis inti dari Marx adalah bahwa posisi kelas, yang telah didefinisikan di atas, menentukan karakteristik kesadaran atau pandangan global dari para anggotanya. Sebagai contoh, pembahasan Marx atas para Legitimis dan Orleanis daiam Der achzehnte Brumaire des Louis Bonaparte (1852) (Brumaire Ke delapan belas Louis Bonaparte) menekankan bahwa berdasarkan basis posisi soswekooominya setiap kelas menciptakan ‘seluruh suprastruktur dari berbagai sentimen, ikjsi. pola pikir dan cara pandang hidup yang berbeda-beda’. Kepentingan material kelas memisahkan antara Kelas satu dengan yang lain dan menyebabkan teracunya perjuangan keias. Kelas-kelas berbeda daiam kerangka sejauh mana para anggota mereka memandang diri mereka sendiri sebagai sebuah kelas, dengan demikian antagonisme antar kelas mungkin bisa diteliti berdasarkan para partisipannya atau mungkin juga hanya bisa dipahami dengan cara yang dimisfcfikasi atau bersifat ideologis akan melemah dalam masyarakat pasca kelas.

Dalam karya ‘Preface’, Marx menganggap model-model produksi Asiatik, kuno, feodal dan borjuis modern sebagai era terbesar dalam kemajuan kemanusiaan, tapi model-model ini menandai tahap-tahap umum dari evolusi sosioekonomi sebagai satu keseluruhan jadi, bukan langkah- langkah yang diharuskan sejarah untuk dijalani setiap negara. Dalam suatu surat yang terkenal tertanggal November 1877, Marx secara tegas menolak mengemukakan ‘segala teori sejarah filosofi dari marche generate yang didasari takdir setiap orang’, tapi pernyataan yang sering dikutip ini bukan berarti penolakan terhadap determinisme historis. Meskipun teori Marx memungkinkan negara untuk tidak ikut serta atau bahkan melakukan langkah loncatan, tindakan negara tersebut harus tetap dipertimbangkan sebagai pola yang melenceng dari evolusi sosioekonomi dan bahwa perkembangan itu diakibatkan oleh tenaga-tenaga produktif. Marx secara konsisten mempercayai evolusi sejarah yang ditentukan oleh tenaga-tenaga produktif dan tanpa hanis meyakini bahwa setiap kelompok sosial telah ditakdirkan untuk mengikuti langkah yang sama. Selain itu, agaknya Marx ingin merevisi tabulasinya yang khusus dari periode historis (atau setidaknya periode pra feodal), karena ia tidak menganalisis model-model produksi awal sejarah manusia secara terperinci. Modifikasi skema Marx, sebagai analisisnya terhadap kapitalisme (dan proyeksi transisi menuju sosialisme), mempunyai kesesuaian prinsip dengan teori dasar mengenai masyarakat dan sejarah.

Harus disadari, teori Marx tidak bermaksud untuk menjelaskan setiap rincian sejarah dan masyarakat. Fenomena sosial dan kultural tertentu berada di luar jangkauan penjelasan dan bidang kajiannya. Banyak peristiwa sejarah, dan tentunya bentuk-bentuk spesifik yang diakibatkan peristiwa sejarah , bersifat kebetulan. Teori Marx juga tidak bermaksud menjelaskan perilaku individu secara menyeluruh dan ilmiah, kendati teori mencoba untuk meletakkan perilaku tersebut dalam batasan-batasan sosio historisnya. Selama masih ada kecenderungan-kecenderungan yang mengungkung dalam sejarah, segala peristiwa ini merupakan akibat dari pilihan-pilihan individual.

Gagasan-gagasan Marx pernah berpengaruh terhadap ilmu-ilmu sosial, yang signifikansinya cukup besar. Karyanya tidak hanya membangkitkan inspirasi banyak penulis, bahkan mereka yang menolak Marx sekalipun seringkah harus menjelaskan pemikirannya dalam kaitan dengan pemikiran Marx. Lepas dari daya tarik pendekatan Marx yang bertahan lama dan kekayaan pandangannya, kontroversi masih terus berlanjut mengenai berbagai konsep dasar dan dalil teorinya, nilai penting relatif dari berbagai komponennya dan unsur-unsur spesifik yang memberi ciri pada metodologi sosiohistorisnya. Karena sebagian pernyataan Marx tak bisa dibuktikan dan tidak memperoleh suatu konsensus penafsiran, maka jawaban konklusif atas keberlangsungan teorinya mengenai masyarakat dan sejarah menjadi sangat sulit.