Advertisement

Jika K.Lewin mencoba menggambarkan struktur dan dinamika kognisi, tokoh psikologi kognisi lain yang juga sangat terkemuka, Piaget (1950), menjelaskan perkembangan kognisi sebagai inti dari kepribadian manusia. Menurut Piaget, bagaimana seseorang berperilaku terhadap orang lain, tergantung pada konsepnya tentang orang itu dan konsep itu sendiri tergantung pada perkembangan kognisinya. Jadi, anak berumur 4 atau 5 tahun yang masih berada pada tahap pra-operasional akan mengatakan.

Menurut Piaget, teorinya tentang perkembangan kognitif ini berlaku tanpa kecuali (invariant) dan hierarkis. Artinya, setiap tahap perkembangan kognisi merupakan prasyarat dari tahap berikutnya. Penelitian-penelitian yang ada selama ini memang cenderung mendukung pendapat Piaget ini. Bahkari, Kohlberg mendasarkan teori perkembangan moralnya pada teori kognitif dari Piaget tersebut.

Advertisement

Walaupun demikian, penelitian lain membuktikan bahwa kognisi tidak terdiri atas satu aspek saja, melainkan terdiri berbagai aspek. Howard Gardner dari Harvard University mengemukakan bahwa kognisi itu terdiri atas 8 jenis inteligensi, yaitu (seperti yang dimiiiki oleh ahli bahasa T.S. Elliot), (seperti pada ahli matematika Einstein), m(pemusik Igor Stizvinsky), keruangan (pelukis Pablo Picasso), gerak (penari Martha Graham), pengenalan diri(psikoanalis Freud), (Mahatma Gandhi), dan kealamiahan (Charles Darwin). Seorang yang sukses dalam salah satu bidang belum tentu dan tidak harus berhasil di bidang lainnya (Pennar, 1996).

Jika kita tinjau dari teori Howard Gardner ini, dapatlah dipahami mengapa tidak selalu orang dapat mencapai tahap perkembangan yang tertinggi, baik pada teori perkembangan kognisi yang asli dari Piaget, maupun pada teori-teori turunannya seperti teori perkembangan moral dari Kohlberg. Lueli dan para penduduk asli Pulau Fanua dalam kutipan di awal bab ini, misalnya, masih berada dalam tahap praoperasional jika ditinjau dari teori Piaget, karena mereka masih menilai Pak Fortune dari perbuatan-perbuatan konkretnya. Penduduk tertarik kepada Pak Fortune karena kulit putihnya dan badannya yang tinggi besar serta perilakunya yang “aneh”. Lueli suka kepada Pak Fortune karena ia mempunyai organ besar yang bunyinya berbeda dari seruling dedaunannya sendiri. Akan tetapi, begitu Pak Fortune mulai berkhotbah tentang agamanya, penduduk mulai menjauhinya. Bahkan, Lueli yang sudah beralih agama pun ternyata tidak melepaskan agama aslinya. Penduduk asli tersebut belum mampu menangkap hal-hal yang lebih abstrak yang terdapat di balik perilaku konkret. Di pihak lain, tingkat perkembangan moral Pak Fortune sendiri, menurut teori Kohlberg hanya sampai pada tahap “anak baik-anak nakal (good boy-bad boy) yang masih mengukur perilaku orang lain berdasarkan norma-norma baku saja dan belum berwawasan nilai-nilai yang universal.

Advertisement