Advertisement

Salah satu pandangan yang paling berpengaruh dan kontroversial dalam antropologi sekarang ini, adalah pandangan dari Claude Levi-Strauss, tokoh terkemuka dari pendekatan analisa kebudayaan yang dinamakan: Strukturalisme Perancis. Strukturalisme Levi-Strauss berbeda sekali dengan Radcliffe-Brown. Permasalahan yang menjadi perhatian utama dari Brown adalah: bagaimana elemen-elemen dari masyarakat berfungsi sebagai suatu sistem, sedangkan Levi-Strauss lebih berkonsentrasi pada asal-usul dari sistem itu sendiri. Dia memandang kebudayaan manusia, seperti hal itu dinyatakan dalam kesenian, dalam upacara-upacara dan pola kehidupan sehari-hari, sebagai perwakilan lahiriah (surface representation) dari struktur pikiran manusia yang mendasarinya. Sebagai contoh sederhana, pemakaian simbol warna yang digunakan dalam lampu lalu lintas dapat dilihat sebagai suatu refleksi dari pola-pola tertentu yang sebelumnya sudah ditetapkan sifatnya dalam pikiran orang. Kita memilih merah sebagai suatu simbol dengan arti “stop-berbahaya”, dan mungkin dasarnya adalah karena warna merah diasosiasikan dengan darah. Kemudian karena diperlukan warna yang lain untuk menyampaikan “pesan” sebaliknya yaitu: “boleh jalan-aman”, maka kita memilih warna hijau, yang melambangkan benda-benda yang tumbuh dan dalam “roda” warna merupakan lawan dari warna merah. Lalu kuning, suatu warna antara, kemudian diperkenalkan sebagai istilah ke-3 dalam rumus untuk melambangkan arti “siap untuk berhenti — situasi sedang berubah”.14 Interpretasi Levi-Strauss tentang gejala kebudayaan (suatu hal yang sebenarnya adalah jauh lebih rumit sifatnya dan sulit untuk diikuti bila dibanding dengan contoh sederhana di atas), berkonsentrasi pada proses cognitive dari masyarakat primitif, yaitu: cara-cara manusia memandang hal-hal yang ada di dunia sekitarnya dan caranya ia menggolongkan hal-hal itu.

Dalam tulisan-tulisannya seperti The Savage Mind (Pikiran Orang Masa Liar) dan The Raw and the Cooked (Yang Mentah dan yang Matang), Levi-Strauss mengemukakan bahwa kelompok-kelompok manusia yang mempunyai teknologi primitif sekalipun, telah merumuskan cara-cara klasifikasi tumbuh- tumbuhan dan binatang bukanlah melulu karena maksud-maksud praktis tapi juga disebabkan karena kebutuhan akan aktivitas intelektual, Levi-Strauss telah banyak dipengaruhi oleh karya-karya ahli linguistik yang mencoba untuk merekonstruksi pola-pola pemikiran yang mendasari bahasa-bahasa dari manusia. Dia menerapkan pendekatan ini pada analisa tentang mite, dalam satu legenda-legenda dan cerita-cerita rakyat dari masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda. Levi-Strauss juga telah memberi banyak perhatian kepada masalah bagaimana suatu kebudayaan masyarakat tercermin dalam kebiasaan- kebiasaan masak-memasak. Dia misalnya menganggap bahwa “memanggang” adalah metoda mempersiapkan makanan yang lebih primitif dibanding dengan merebus, karena dalam teknik memanggang, cukup saja untuk memanaskan makanan dengan api, sedang teknik merebus memerlukan suatu wadah dan air.

Advertisement

Teori strukturalisme dari Levi-Strauss telah banyak dikritik teiutama oleh ahli-ahli antropologi Amerika dan Inggris, karena perhatiannya terlalu ditujukan pada analisa-analisa teori yang sulit dimengerti dan analisa-analisa itu lebih dipentingkan dari bukti-bukti dan observasi etnologis yang berbobot. Tidak selalu jelas apa yang menjadi dasar dari suatu interpretasi yang bersilat struktural bila interpretasi itu tidak disertai oleh bukti-bukti yang telah dihimpun secara sistematis, maka terserah pada pembacalah untuk menentukan apakah suatu interpretasi masuk akal atau tidak. Dengan demikian karya-karya Levi-Strauss. walaupun membukakan banyak pikiran-pikiran baru dan sering kali ditulis dengan gaya bahasa yang menarik, oleh banyak orang dianggap menyajikan hal-hal yang kabur dan tidak dapat diuji, suatu teori yang mengandung pemikiran-pemikiran intelektual yang tidak mengundang pertanyaan dan kemampuannya untuk menjelaskan gejala budaya hampir tidak ada.

Advertisement